Kumparan Logo

Smelter HPAL Pomalaa-Morowali Milik Vale Indonesia Rampung Akhir 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah dump truck mengangkut material tambang di tambang nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah dump truck mengangkut material tambang di tambang nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Foto: Shutter Stock

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengungkapkan penyelesaian dua proyek smelter high-pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Morowali, Sulawesi Tengah, pada kuartal IV 2026.

Proyek ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi dan pengembangan industri nikel terintegrasi yang digarap bersama sejumlah mitra strategis.

Manajer Corporation Finance & Investor Relations Vale Indonesia, Andaru Brahmono Adi, mengatakan proyek smelter HPAL Pomalaa akan selesai pada kuartal IV 2026, bersamaan dengan penyelesaian tambang di wilayah tersebut yang ditargetkan rampung lebih awal.

“Pomalaa HPAL itu akan selesai di Q4 2026. Jadi nanti pas banget waktunya. Tambang Pomalaa akan selesai tahun depan di kuartal kedua (2026). Sementara HPAL akan selesai di kuartal keempat tahun 2026. Jadi sudah siap satu rangkaian integrasi,” ujarnya.

Meski harga nikel saat ini tengah terkoreksi, Vale bersama para mitra seperti Zhejiang Huayou Cobalt Co (Huayou) tetap berkomitmen melanjutkan proyek sambil menyesuaikan aspek keekonomian.

“Kalau kita lihat dengan harga nikel yang sedang terkoreksi sekarang ini, itu memang berpengaruh pada nilai return di levelnya smelter HPAL. Tapi kami sepakat, kami dengan para partner, contohnya Huayou, kita sepakat untuk melakukan improvisasi,” jelas Andaru.

Improvisasi tersebut ditujukan untuk menekan nilai belanja modal (capital expenditure/capex) agar lebih efisien. Andaru menyebut, Huayou dan GEM Co Ltd terbuka terhadap peningkatan efisiensi dan pengembangan teknologi.

“Karena mereka sadar supaya kita bisa bertahan, proyek ini bisa berhasil adalah caranya dengan melakukan improvisasi teknologi, efisiensi biaya, segala macam. Dan mereka sepakat semua,” katanya.

Andaru mengakui, meskipun ada potensi penyesuaian nilai investasi, hal tersebut merupakan hasil dari pendekatan efisiensi berbasis teknologi yang dilakukan oleh para mitra teknologi Vale.

instagram embed

“Kalau dibilang mungkin investasi iya. Tapi awalnya dari improvisasi atau improvement di teknologi. Jadi itu yang dikerjakan oleh partner teknologi kita seperti Huayou dan GEM Co Ltd. Jadi mereka melakukan improvement dari sisi teknologi sehingga capex-nya bisa turun. Ujung-ujungnya nilai keekonomisannya pun bisa lebih tinggi,” terangnya.

Untuk menjaga kinerja di tengah tekanan harga nikel global, Vale mengandalkan tiga strategi utama, yakni efisiensi biaya, diversifikasi produk, dan penyesuaian investasi.

“Yang bisa kita lakukan adalah melakukan efisiensi biaya. Itu yang sudah kita lakukan sejak akhir tahun lalu hingga sekarang. Masih terus melakukan itu,” kata Andaru.

Dia melanjutkan, Vale juga mulai melakukan penjualan produk nikel selain nikel matte untuk pasar domestik, sebagai bagian dari diversifikasi.

“Selama 50 tahun terakhir kita hanya jualan nikel matte ekspor ke Jepang. Tapi alhamdulillah mulai tahun ini kita bisa melakukan penjualan nikel ore suprolite untuk pertama kalinya secara domestik. Itu bisa menambah revenue untuk kita,” ujarnya.

Perusahaan juga meninjau kembali anggaran investasi untuk memastikan efisiensi tetap terjaga. Andaru memperkirakan, target laba tahun ini masih dapat dicapai meski harga nikel turun sekitar 15 persen dari tahun 2024.

Sebelumnya, Pada Maret 2025, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan dua proyek smelter terintegrasi pertambangan nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, Morowali di Sulawesi Tengah (Sulteng), rampung secepatnya di tahun 2026.

Presiden Direktur Vale Indonesia, Febriany Eddy, mengatakan perusahaan saat ini memiliki 3 proyek smelter high-pressure acid leaching (HPAL), dengan total investasi hampir USD 9 miliar atau setara Rp 130 triliun.

Pertama, ekspansi tambang nikel dan smelter HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dengan investasi sebesar USD 4,6 miliar yang rencananya start up di akhir 2026. Proyek ini bermitra dengan Huayou dan Ford.

Selanjutnya investasi smelter HPAL yang berkongsi dengan GEM CO Ltd di Morowali, Sulteng. Penandatangan investasi baru saja dilakukan saat Forum Bisnis Indonesia-China di Beijing, November 2024 lalu. Smelter tersebut nantinya akan menyerap pasokan dari tambang Vale di Bahodopi Sulawesi Tengah.

Selain itu, Vale juga memiliki proyek investasi smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Morowali, dengan investasi senilai USD 2,6 miliar dan target start up pada 2026. Proyek ini bermitra dengan perusahaan China, Tisco dan Xinhai.