Kumparan Logo

Smelter Setop Operasi, AMMN Rugi Bersih USD 175 Juta Kuartal III 2025

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi eksplorasi tambang yang dilakukan Amman Mineral. Foto: Amman Mineral
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi eksplorasi tambang yang dilakukan Amman Mineral. Foto: Amman Mineral

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melaporkan rugi bersih sebesar USD 175 juta atau setara Rp 2,91 triliun pada kuartal III 2025. Salah satu penyebabnya adalah penghentian sementara operasional smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sejak Juli 2025.

Presiden Direktur Amman, Arief Sidarto, mengatakan selama sembilan bulan pertama tahun 2025, perusahaan mencatat penjualan bersih sebesar USD 545 juta, didukung oleh penjualan emas yang dimulai pada Juli 2025. EBITDA meningkat menjadi USD 279 juta dengan margin 51 persen.

“Perusahaan melaporkan rugi bersih sebesar USD 175 juta, terutama disebabkan oleh berbagai kendala dalam ramp-up smelter dan larangan ekspor konsentrat sejak awal tahun ini,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/10).

Perusahaan mencatat rugi bersih sebesar USD 175 juta hingga September 2025, berbalik dari laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar USD 720 juta. Hal ini disebabkan oleh dimulainya penjualan emas murni dan katoda tembaga.

Tambang terbuka Batu Hijau milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Foto: Dok. AMMAN

Selama sembilan bulan pertama 2025, total belanja modal Amman mencapai USD 1,058 miliar, turun 24 persen dari USD 1,392 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini mencerminkan kemajuan menuju penyelesaian proyek-proyek ekspansi.

Per 30 September 2025, total utang Amman tercatat USD 6,262 miliar, naik 46 persen dibandingkan Desember 2024. Dengan total kas dan setara kas sebesar USD 676 juta, total utang bersih perusahaan menjadi USD 5,586 miliar.

“Profil jatuh tempo utang telah disusun untuk mendukung program ekspansi kami dengan jadwal pembayaran kembali yang terkonsentrasi di akhir masa pinjaman,” lanjut Arief.

Penghentian Smelter

Konstruksi smelter tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMAN. Foto: Amman Mineral Internasional

Arief mengatakan fasilitas smelter perusahaan mengalami penghentian operasi sementara pada Juli dan Agustus 2025 karena perbaikan pada Flash Converting Furnace dan pabrik asam sulfat.

“Selama proses perbaikan berlangsung, kami tetap mengupayakan operasi parsial secara hati-hati untuk meningkatkan produksi tanpa mengorbankan keselamatan,” jelas Arief.

Ia menambahkan, proses perbaikan komponen utama yang sangat kompleks akan berlanjut hingga paruh pertama tahun 2026.

Dari sisi pertambangan, operasi tetap berjalan sesuai rencana. Volume bijih segar yang ditambang meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal III dibanding kuartal II 2025.

Strategi perusahaan lainnya mencakup proyek ekspansi utama seperti Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), regasifikasi LNG, serta perluasan pabrik konsentrator. Proyek-proyek ini ditargetkan beroperasi tahun depan untuk meningkatkan efisiensi energi, kapasitas pengolahan, dan daya saing jangka panjang Amman.

Produksi dan Penjualan Turun

Tambang terbuka Batu Hijau milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Foto: Dok. AMMAN

Amman mencatat volume material yang ditambang selama sembilan bulan 2025 turun 6 persen secara tahunan (year-on-year). Arief menjelaskan, penurunan ini wajar karena volume tambang 2024 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah operasi Batu Hijau.

Selama kuartal III 2025, aktivitas penambangan difokuskan pada pengupasan batuan penutup (waste removal) dan penambangan bijih berkadar rendah hingga menengah di Fase 8. Akibatnya, volume bijih segar yang ditambang menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Namun volume ini meningkat signifikan dari kuartal ke kuartal, dari 5 juta ton di kuartal II menjadi 14 juta ton di kuartal III,” ungkap Arief.

Produksi konsentrat perusahaan tercatat 310.143 metrik ton kering, turun 51 persen (yoy). Produksi tembaga dan emas masing-masing mencapai 145 juta pon dan 75.621 ons, turun 57 persen dan 89 persen (yoy).

Produksi katoda tembaga dimulai pada akhir Maret 2025 dengan total 41.052 ton atau setara 91 juta pon hingga September 2025. Produksi emas murni dari PMR dimulai pada pertengahan Juli 2025 dengan hasil 44.792 ons selama kuartal III 2025.

Mulai 2025, perusahaan hanya diizinkan menjual produk logam jadi seperti katoda tembaga dan emas murni, tidak lagi dalam bentuk konsentrat seperti tahun 2024.

Transisi ini menyebabkan penurunan penjualan bersih menjadi USD 545 juta hingga September 2025, dari sekitar USD 2,495 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penjualan katoda tembaga menyumbang USD 389 juta, penjualan emas murni USD 155 juta, dan sisanya USD 1 juta berasal dari penyesuaian harga dan volume penjualan 2024.

“Perseroan sedang mengajukan izin ekspor konsentrat, dan setelah izin tersebut diperoleh, Perseroan akan dapat menjual baik konsentrat maupun produk logam jadi,” kata Arief.