Kumparan Logo

Soal Harga, Garam Lokal Lebih Mahal Daripada Garam Impor

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produksi garam (Foto: Reuters/Antonio Bronic)
zoom-in-whitePerbesar
Produksi garam (Foto: Reuters/Antonio Bronic)

Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan izin impor garam industri sebanyak 2,37 juta ton. Alokasi tersebut dibagikan kepada 21 perusahaan atau importir yang terdiri dari 12 perusahaan farmasi, 8 perusahaan CAP dan 1 perusahaan pengasinan ikan. Sementara itu, industri aneka pangan juga sudah mengajukan izin impor 550 ribu ton garam industri ke Kemendag.

Kalangan industri dalam negeri dinilai semakin suka dengan garam impor. Alasannya sederhana, garam impor memiliki spesifikasi lebih tinggi dan dikenal dengan harganya yang sangat murah dibandingkan garam lokal.

"Perbedaaan utamanya ada di spek. Memang garam impor lebih bagus terutama yang dari Australia. Tapi kalau dari India ya lebih bagus kita. Sedangkan dari harga lebih murah mereka (garam impor)," ungkap Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin kepada kumparan (kumparan.com), Senin (19/3).

Produksi Garam (Foto: Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Produksi Garam (Foto: Antara)

Misalnya, harga garam India sekarang dibanderol sekitar Rp 400.000 per ton atau Rp 400 per kg. Harga garam Australia lebih mahal sedikit yaitu Rp 650.000 per ton atau Rp 650 per kg. Lantas berapa harga garam lokal?

"Garam lokal sekarang Rp 2.500 per kg (atau Rp 2,5 juta per ton)," katanya.

Dengan harga beli lebih murah maka sudah jelas pengusaha lebih memilih mendatangkan garam impor ketimbang harus membeli dari petani. Bila kejadian ini terus berulang maka petani garam lokal pada akhirnya harus tutup produksi.

"Ini motifnya ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Jadi impor garam ini adalah bisnis yang sangat manis," ujarnya.