Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi per Oktober Minus 2 Persen, Defisit Rp 764 T

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih negatif hingga melewati akhir Oktober 2020.
Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran minus 2 persen. Diikuti tingkat inflasi di angka 0,95 persen year to date, serta 1,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Sampai Oktober, pertumbuhan ekonomi masih sampai minus 2,0 persen. Nilai tukar kita Rp 14.228, suku bunga 3 bulan 3,21 persen year to date itu lebih rendah," ujar Sri Mulyani dalam virtual conference APBN Kita, Senin (23/11).
Di sisi pendapatan negara, kata Sri Mulyani, terjadi kontraksi sebesar 15,4 persen atau Rp 1.276,9 triliun. Dengan rincian Rp 991 triliun berasal dari penerimaan pajak, Rp 278,8 triliun berasal dari penerimaan negara bukan pajak, serta hibah Rp 548 triliun.
Adapun belanja negara mencapai 2.041,8 triliun atau tumbuh sebesar 13,6 persen. Belanja tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.343 triliun, serta penyaluran ke daerah Rp 698 triliun.
"Dari sisi belanja negara terjadi pertumbuhan 13,6 persen. Kalau kita lihat dengan pendapatan, maka defisit kita mencapai Rp 764,9 triliun, atau 4,67 persen dari GDP," ujar Sri Mulyani.
