Kumparan Logo

Strategi BRI Pindahkan Rp 460 Triliun dari 'Kolong Kasur' ke Perbankan

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ATM di Kapal Bahtera Seva II, melengkapi layanan perbankan di BRI Teras Kapal. Foto: Wendiyanto Saputro
zoom-in-whitePerbesar
ATM di Kapal Bahtera Seva II, melengkapi layanan perbankan di BRI Teras Kapal. Foto: Wendiyanto Saputro

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI akan mengembangkan kapasitas agen BRILink. Di antaranya agar bisa melayani masyarakat untuk membuka rekening.

Direktur Jaringan dan Layanan Bank BRI, Osbal Saragi Rumahorbo, mengatakan hal itu merupakan salah satu strategi, untuk menarik dana yang saat ini masih berada di luar sistem perbankan.

“Ini juga untuk membangun literasi perbankan. Ini ke depan supaya tidak ada lagi uang-uang di luar bank. Istilahnya uang di kolong kasur,” katanya dalam kunjungan kerjanya ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Kamis (25/7).

Mengutip sebuah riset, Osbal mengungkapkan, di Indonesia terdapat dana sebesar Rp 460 yang belum masuk sistem perbankan. Dia menilai, besarnya dana tersebut karena masih ada kendala bagi sebagian masyarakat, untuk berurusan dengan bank.

Osbal mencontohkan, masyarakat tidak mau datang ke bank karena jauh. Bisa juga karena kesibukan kerja. Sementara jika pekerjaan ditinggal untuk berurusan dengan bank, warga tertentu bisa jadi tak mendapat penghasilan.

“Bisa jadi juga mereka enggan datang ke bank, karena sepertinya bank itu milik orang-orang tertentu,” imbuhnya.

Dengan meningkatkan kapasitas agen BRILink, supaya bisa melayani pembukaan rekening, maka diharapkan dana tersebut bisa ditarik masuk ke sistem perbankan. Terutama di pedesaan dan di pelosok.

Apalagi Osbal menambahkan, sejak pemerintah meluncurkan dana desa, perputaran uang di desa meningkat. “Jadi agen BRILink (bisa membuka rekening) ini, kita mendukung program pemerintah membangun desa," ucapnya.

Direktur Jaringan dan Layanan Bank BRI, Osbal Saragi Rumahorbo (kanan). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan

Sudah Diuji Coba

Dia menjelaskan, pembukaan rekening oleh agen BRILink bagi masyarakat, secara teknologi sangat dimungkinkan. Bahkan hal itu tak melanggar prinsip ‘Know yor Customer’ atau KYC, yang mengharuskan bank bertemu muka dengan nasabahnya setidaknya sekali.

Prinsip KYC itu menurut Osbal bisa digantikan dengan teknologi lain. Yakni memanfaatkan KTP elektronik dan sistem video banking. “Jadi orang (calon nasabah) itu disorot. Benar enggak ini orangnya. dikroscek dengan data e-KTP. Nah ternyata bisa teknologi itu.”

Bank BRI telah menguji coba sistem tersebut dan berhasil. Uji coba dilakukan di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung. Ada 12 agen BRILink yang diuji coba melayani jasa pembukaan rekening.

“Kita juga mengundang OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Kemenko Perekonomian saat uji coba itu. Dan kita sepakat ini dipercepat,” ujar Osbal.

Tapi sebelum melangkah ke sana, lanjutnya, BRI menargetkan agen BRILink harus ada di seluruh 75 ribu desa di Indonesia. Saat ini dari sekitar 450 ribu agen BRILink, baru menjangkau 70 persen desa. Selebihnya ada di perkotaan.

“Sisanya 30 persen itu harus selesai di 2020. Itu target kita. Jadi saat OJK mengizinkan agen BRILink bisa melayani pembukaan rekening, sudah bisa menjangkau seluruh desa di Indonesia,” pungkasnya.