Kumparan Logo

Subholding Terbentuk, PT Pertamina International Shipping Lebarkan Sayap Bisnis

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal tanker raksasa VLCC punya Pertamina. Foto: dok. Kem BUMN
zoom-in-whitePerbesar
Kapal tanker raksasa VLCC punya Pertamina. Foto: dok. Kem BUMN

Subholding PT Pertamina International Shipping resmi terbentuk menjadi Integrated Marine Logistics Co. Dengan demikian bisnis perusahaan akan diperluas tidak hanya pengiriman migas, tapi juga mengintegrasikan pelabuhan dan terminal.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, rencana besar pun sudah dirancang untuk menjalankan bisnis subholding ini. Pertama, PIS masuk ke bisnis integrated marine, khususnya untuk penyaluran gas di dalam negeri.

"Hari ini pipeline gas hanya dari Sumatera sampai Jawa. Namun tantangan di wilayah lain pasti mahal. Karena itu, pendekatan yang kita ambil adalah pipeline virtual," kata dia dalam peresmian subholding, Rabu (5/5).

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati di pertamina energy forum 2019, Selasa (26/11). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Untuk mendukung hal tersebut, PIS juga mendapat pengalihan aset perkapalan dari Pertamina yang meliputi 71 unit kapal milik Pertamina, aset marine non sarana tambat, dan saham kepemilikan Pertamina di PT Pertamina Trans Kontinental (PTK). Melalui serah terima aset tersebut dan dalam proses menerima 6 aset terminal, maka PIS ke depannya bukan saja mengelola bisnis perkapalan, melainkan sebagai integrated marine logistics company.

Langkah selanjutnya, PIS akan menjadikan PTK sebagai entitas bisnis dalam koordinasi PIS dan sekaligus menyerahkan asset sarana Marine Non Tambat (bangunan) ke PTK. Langkah strategis tersebut merupakan bagian dari rencana corporate action dalam mengintegrasikan bisnis marine logistics ke dalam lingkup subholding shipping, yang diharapkan dapat lebih berkembang dalam skala nasional maupun global.

PTK merupakan anak perusahaan Pertamina penyedia jasa pelayaran, jasa maritim terintegrasi, dan jasa logistik. Telah beroperasi sejak 1969, wilayah operasional PTK membentang dari Sabang sampai Merauke, yang saat ini telah memiliki lebih dari 50 jenis layanan.

Sebagai perusahaan pelayaran dan jasa maritime pertama di Indonesia, PTK mempergunakan Kapal Tunda hybrid engine ramah lingkungan sebagai bentuk komitmen perusahaan memenuhi ekspektasi masyarakat global akan entitas bisnis yang bertanggung jawab. Dalam menjalankan layanannya PTK memiliki empat anak perusahaan dan satu Joint Venture, dengan sebelas kantor cabang.

Sejalan dengan visi menjadi perusahaan shipping terkemuka di Asia, pengalihan aset ke subholding shipping akan meningkatkan leverage perusahaan dalam ekspansi pasar maupun finansial. Di mana posisi tawar perusahaan di pasar akan meningkat dan kemampuan pembiayaan untuk investasi juga akan semakin kuat, sehingga perusahaan akan memiliki daya dorong untuk berkembang lebih baik.

Integrasi layanan atau services antara PIS dan PTK juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah berupa tarif layanan yang kompetitif bagi customer, khususnya Pertamina Group.

Erry Widiastono selaku Direktur Utama PIS menegaskan bahwa penyerahan aset ini akan memperkuat perusahaan dalam melakukan ekspansi untuk memberikan layanan yang terintegrasi.

“Dengan dikukuhkannya PIS sebagai subholding shipping ini, kami akan melakukan berbagai pengembangan bisnis yang tidak hanya berfokus pada angkutannya saja yang memang telah menjadi kekuatan kami, tetapi juga sampai kepada kegiatan yang terkait dengan integrated marine logistics,” jelasnya.

Di tengah usaha PIS mempersiapkan strategi pengembangan bisnis ke depannya, PIS juga menjunjung nilai sosial kemanusiaan dengan turut menebar kebermanfaatan dan rasa kebersamaan antarsesama.

“Ramadhan menjadi momentum kami untuk dapat terus mensinergikan seluruh keluarga besar Pertamina, dan menebar kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sekitar dalam hal profesional, spiritual, maupun sosialnya” ujar Arief Sukmara, Corporate Secretary PIS.

Perusahaan akan mengkonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) PT PLN (Persero) yang berada di 52 lokasi. PLTD ini akan diganti dengan gas dengan kapasitas listrik 3.000 megawatt (MW).

Nicke mengungkapkan, masalah utama distribusi sumber gas di dalam negeri adalah infrastruktur. Selama infrastruktur pengiriman dan jalur gasnya belum terbangun secara luas, akan sulit menyalurkannya.

"Ketika infrastruktur ini diintegrasikan ke shipping, maka itu jadi part of revenue. Sehingga ada alokasi dana investasi yang akan dikembangkan," ujarnya.

Ada enam pelabuhan dan terminal yang akan diintegrasikan, yaitu berada di Pulau Sambu, Tanjung Sekong, Tanjung Uban, Kotabaru, Bau-bau, dan Terminal Tuban.

Pulau Sambu jadi yang pertama akan diintegrasikan karena lokasinya di Kepulauan Riau, dekat dengan Singapura. Karena itu, Pulau Sambu akan menjadi pusat seluruh produk ekspor Pertamina. Kapasitas storage di Pulau Sambu ada 311.072 kiloliter atau 2.845 kiloliter per hari.

kumparan post embed

"Kita harus kembangkan suplainya untuk ketahanan energi nasional. Hari ini kan kita belum punya (storage) secara pemerintah, masih ada di Pertamina stok BBM hanya cukup 21 hari, kita harus tambah itu," lanjut Nicke.

Di pasar global, perusahaan akan masuk ke pasar regional. Perusahaan akan menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra untuk mengangkut gas LNG dan LPG dengan menambah satu lagi kapal vessel. Sebelumnya, PIS sudah memiliki dua kapal tanker besar dari Jepang dan Korea.

PIS pun siap melantai di bursa saham tahun ini. Dengan luasnya bisnis PIS, Nicke berharap valuasi yang didapat tinggi.

"Mengenai valuasi belum bisa kita share karena masih berjalan, tapi tadi sudah disampaikan peningkatan market cap bisa meningkat sampai 9 kali," katanya.