Suku Bunga Acuan BI Naik, Bagaimana Nasib KPR Nasabah BSI ?

30 April 2024 17:30 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas teller BSI sedang melayanani transaksi nasabah di BSI Kantor Cabang Jakarta The Tower. BSI menyediakan layanan operasional akhir pekan (weekend banking) di 459 kantor cabang BSI di seluruh Indonesia. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Petugas teller BSI sedang melayanani transaksi nasabah di BSI Kantor Cabang Jakarta The Tower. BSI menyediakan layanan operasional akhir pekan (weekend banking) di 459 kantor cabang BSI di seluruh Indonesia. Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps atau 0,25 persen menjadi 6,25 persen di bulan April 2024.
ADVERTISEMENT
Keputusan tersebut, berpotensi menaikkan bunga kredit bank, terutama di segmen kredit yang menggunakan skema bunga floating seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Lalu bagaimana dengan nasib nasabah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang mengikuti program KPR ?
Direktur Utama BSI, Hery Gunardi menyatakan, bahwa pihaknya tidak akan serta merta menaikkan suku bunga kredit KPR, apabila ada kenaikan pada suku bunga tabungan atau dana pihak ketiga (DPK).
"Biasanya peningakatan suku bunga DPK itu tidak otomatis ditransmisikan ke lending rate kita, pasti ada jedanya, ada waktunya," kata Hery dalam paparan kinerja perseroan, Selasa (30/4).
"Tapi BSI berusaha semaksimal mungkin menjaga tingkat biaya dana atau cost of fund kita yang tidak bergerak jauh dibandingkan apa yang kita capai di kuartal I 2024," sambungnya.
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi memberikan sambutan pada acara peresmian pencatatan perdana Efek Beragun Aset Syariah berbentuk Surat Partisipasi Sarana Multigriya Finansial - Bank Syariah Indonesia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Hery mengatakan, pihaknya berencana untuk meningkatkan sisi competitive pricing pada KPR dan menyederhanakan persyaratan agar nasabah bisa lebih mudah mengambil program KPR di BSI.
ADVERTISEMENT
"Khusus KPR Griya ini memang saat ini setelah kita tiga tahun merger kita sudah bisa melihat bahwa dari sisi ini kita memberikan fitur produk termasuk persyaratan bagi nasabah dan pricing," kata Hery.
"Sehingga BSI menjadi salah satu pilihan nasabah untuk mempercayakan. Dalam hal ini nasabah perlu untuk membeli rumah ataupun membeli produk konsumer lain seperti mobil dan motor," sambungnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penjualan & Distribusi BSI Anton Sukarna menambahkan, pihaknya optimistis prospek bisnis KPR perseroan tetap cerah di tengah suku bunga acuan yang tinggi. Ia melihat masih tingginya kebutuhan akan perumahan atau backlog sekitar 12 juta.
Pekerja menyelesaikan pembangunan perumahan. Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
"Kita memiliki strategi pertumbuhan pembiayaan perumahan kita itu untuk nasabah BSI yang berhubungan dengan nasabah pay roll sehingga kemampuan pembayarannya sudah kita pastikan ada karena gajinya melalui BSI," kata Anton.
ADVERTISEMENT
Selain itu, bank syariah terbesar di Indonesia ini juga bekerja sama dengan pengembang tepercaya di seluruh Indonesia baik dari tier 1, tier 2, dan beberapa pengembang lokal lainnya yang sudah tepercaya kredibilitasnya.
"Sehingga proses pembelian pembiayaan rumah kami masih bertumbuh dengan baik dan kualitasnya terjaga," ujarnya.
Hingga Kuartal I 2024, pembiayaan KPR untuk BSI Griya telah tumbuh 8 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 53,4 triliun.