Kumparan Logo

Suku Bunga BI Diperkirakan Tetap di Level 5,25 Persen

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bank Indonesia (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Indonesia (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli. Rapat yang digelar sejak kemarin tersebut akan memutuskan apakah bank sentral akan kembali menaikkan atau mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan bank sentral akan mempertahankan BI 7 Day Repo Rate di level 5,25% pada bulan ini, meskipun tekanan eksternal masih mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Apalagi, pidato Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang mengatakan ekonomi AS menunjukkan perbaikan. Selain itu, sentimen eksternal juga masih dipengaruhi oleh perkembangan isu perang dagang antara AS dengan mitra dagangnya.

Josua menilai, kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada Juni lalu telah berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini terlihat dari dana asing yang masuk di pasar obligasi mencapai USD 375 juta per 12 Juli 2018.

"Volatilitas rupiah cenderung turun pasca kenaikan suku bunga BI bulan lalu serta sentimen perang dagang yang mulai mereda. Sementara itu, inflasi pun diperkirakan tetap terkendali di kisaran 3,5 plus minus 1% (yoy)," kata Josua kepada kumparan, Kamis (19/7).

Namun, kata Josua, tak menutup kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan ketika rupiah kembali tertekan selama semester II tahun ini. "Seandainya rupiah kembali tertekan, ruang pengetatan moneter BI masih terbuka sekitar 25 bps lagi pada semester II tahun ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah juga memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di bulan ini.

Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
zoom-in-whitePerbesar
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Sebab menurutnya, The Fed baru akan menaikkan suku bunga untuk ketiga dan keempat kalinya di tahun ini pada September dan Desember, sehingga BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjelang kenaikan Fed Fund Rate (FFR) tersebut.

"Pada saatnya nanti saya tetap memprediksikan BI menaikkan suku bunga mengikuti kenaikan suku bunga The Fed," jelas dia.

Piter menilai, dampak pidato Powell terkait perbaikan ekonomi AS tidak sebesar dampak kenaikan FFR, meskipun rupiah juga mengalami tekanan.

"Tapi saya melihat tekanannya akan tidak besar karena BI sebelumnya sudah front loading lebih dulu, mengantisipasi dengan kenaikan 50 bps," tambahnya.

Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps ke level 5,25% pada Juni 2018. Sebelumnya pada Mei 2018 BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 bps.