Survei: 51 Persen Karyawan Merasa Gajinya Kurang, 45 Persen Tidak Siap Pensiun

4 Mei 2021 12:27
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Survei: 51 Persen Karyawan Merasa Gajinya Kurang, 45 Persen Tidak Siap Pensiun (41429)
zoom-in-whitePerbesar
Melunasi tagihan. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Mengelola keuangan bagi karyawan bukan perkara gampang termasuk bagi perusahaan. Berdasarkan survei dari QM Financial, setidaknya ada 87,5 persen korporat yang membutuhkan program edukasi finansial bagi para karyawan.
ADVERTISEMENT
Survei Korporasi tersebut dilakukan di Januari 2021 kepada klien QM Financial di berbagai industri mulai dari lembaga keuangan, institusi pendidikan, fast moving consumer goods, pertambangan, hingga media, digital service, dan komunikasi.
“Tadinya aku pikir itu keuangan pribadi karyawan ya, perusahaan enggak usah peduli. Tapi ternyata 87 persen dari klien QM Financial itu iya kami membutuhkan edukasi finasial untuk karyawan,” kata Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto saat webinar pada Selasa (4/5).
Ligwina mengungkapkan pihaknya juga melakukan survei tersebut kepada para karyawan dan HRD perusahaan. Ia mengatakan mayoritas karyawan memang merasa gajinya kurang.
“51 persen karyawan merasa penghasilannya kurang. Nah dari HR 42 persen tim HR ingin karyawan dapat menjalani gaya hidup sesuai penghasilan. Jadi ini menarik, ada yang merasa kurang tapi ayok jalani hidup sesuai penghasilan,” ujar Ligwina.
Survei: 51 Persen Karyawan Merasa Gajinya Kurang, 45 Persen Tidak Siap Pensiun (41430)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menghitung pengeluaran. Foto: Getty Images
“45 persen karyawan merasa tidak siap pensiun. Jadi bayangin ada 45 persen tidak siap pensiun. Saya khawatir sisanya enggak tahu pensiun itu apa,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Ligwina menjelaskan dalam kondisi tersebut ada 24 persen dari HRD yang sudah berbagi informasi mengenai produk investasi untuk mencapai tujuan finansial.
Selanjutnya, masih ada 24 persen karyawan yang meminta rekomendasi perusahaan untuk mengajukan pinjaman. Sedangkan 12 persen HRD perusahaan ingin karyawan melunasi utang konsumtifnya.
“Padahal itu utang pribadi karyawannya tapi ternyata dari sisi HR ada sisi pengaruhnya bersama-sama sebagai tim, jadi 12 persen merasa utang konsumtifnya harus diberesin,” ungkap Ligwina.