Tak Cuma buat Ekonomi, Industri Baja Juga Perlu Dibangun Demi Ketahanan Nasional

Industri baja bisa berkontribusi besar ke perekonomian negara. Meski begitu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier mengharapkan bukan hanya sisi ekonomi dari industri baja saja yang ditonjolkan.
“Saya mulai cara pandang industri baja sendiri itu bukan hanya ekonomi atau profit oriented yang dimunculkan tapi lebih dari itu, jadi ini ketahanan nasional perlu dibangun melalui industri baja yang kuat,” kata Taufiek saat diskusi secara virtual yang digelar dan disiarkan di Youtube Tempo, Rabu (24/6).
Untuk itu, Taufiek mengatakan industri baja harus terus ditingkatkan khususnya dalam produksi. Sebab, kata Taufiek, industri baja Indonesia masih kalah jauh produksinya apabila dibandingkan dengan China.
“Jadi di dunia ini dihasilkan 1,869 miliar ton (baja) itu 53 persennya diproduksi oleh China, jadi sekitar 996 juta ton. Kemudian India nomor 2 sebesar 111 juta ton. Jepang 99,3 juta ton. AS 87 juta ton. Rusia dan Korsel 71,4 juta ton. Indonesia mungkin hanya sekitar 7 juta ton,” ujar Taufiek.
Taufiek berpendapat untuk mengejar target produksi harus diikuti dengan teknologi yang memadai. Ia merasa selama ini China bisa menguasai industri baja itu tidak terlepas dari teknologi yang dimiliki.
“Ini yang mungkin perlu dilihat lagi sebetulnya industri baja nasional ini harus memenuhi efisiensi dalam konteks teknologi. China ini perkembangannya sangat luar biasa. Jadi dia bisa mendominasi dunia dari sisi industri bajanya,” ujar Taufiek.
Selain itu, Taufiek menuturkan peran pemerintah juga cukup strategis dalam mendorong pengembangan industri baja. Apalagi, kata Taufiek, adanya dampak virus corona membuat semua pihak yang bergerak di industri baja membutuhkan bantuan dari pemerintah.
“Memang di COVID ini industri baja mengalami penurunan utilitas yang cukup signifikan. Jadi mungkin ke depan insentif-insentif yang diberikan pemerintah ini juga perlu didorong,” tutur Taufiek.
