Kumparan Logo

Tel-U Gandeng NUS Cetak Talenta Digital, Bidik 100 Mahasiswa per Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penandatanganan MoU Telkom University (Tel-U) dan National University of Singapore (NUS). Foto: kumparan/Wina R.
zoom-in-whitePerbesar
Penandatanganan MoU Telkom University (Tel-U) dan National University of Singapore (NUS). Foto: kumparan/Wina R.

Telkom University (Tel-U) dan National University of Singapore (NUS) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan talenta digital. Penandatanganan berlangsung di Telkom University Jakarta, Senin (6/7).

Kegiatan tersebut dihadiri Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Pujo Setio, Rektor Telkom University Prof. Dr. Suyanto, Direktur Strategic Business Development and Portfolio PT Telkom Indonesia Seno Soemadji, Senior Vice-Provost NUS Prof. Bernard C. Y. Tan, Executive Director The Logistics Institute–Asia Pacific NUS Dr. Robert de Souza, serta Faizal Rochmad Djoemadi (Direktur IT Digital).

Sejumlah pimpinan Telkom University dan Yayasan Pendidikan Telkom juga turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, Seno mengatakan penandatanganan ini menjadi momen penting bagi Tel-U. Menurutnya, kerja sama tersebut merupakan kolaborasi pertama NUS dengan perguruan tinggi di Indonesia.

“Hari ini menjadi penting karena ini adalah penandatanganan kerja sama pertama antara NUS dengan universitas di Indonesia. Dalam hal ini, kami sangat bangga Tel-U dapat mewakili perguruan tinggi di Indonesia,” kata Seno.

Ia mengatakan NUS merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Melalui kerja sama tersebut, Tel-U berharap kualitas talenta Indonesia dapat meningkat melalui akses terhadap pendidikan, penelitian, dan pengalaman internasional.

Sementara itu, Pujo menjelaskan nota kesepahaman tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura Gan Kim Yong di Singapura pada 24 April 2026.

Kerja sama Tel-U dan NUS juga mendukung Tech Programme, kerangka pertukaran talenta teknologi antara Indonesia dan Singapura yang dibentuk dalam Leaders’ Retreat pada 16 Maret 2023.

Menurut Pujo, kemitraan ini akan memperdalam kolaborasi kedua negara dalam pengembangan inovasi, penelitian, talenta digital, dan hubungan kelembagaan. Keterlibatan langsung PT Telkom Indonesia juga membuka akses terhadap kasus dan kebutuhan nyata di sektor industri.

“Kolaborasi antarkomunitas, pengembangan jalur bagi mahasiswa berbakat, serta keterlibatan langsung PT Telkom Indonesia memastikan kerja sama ini digerakkan oleh kebutuhan industri dan dapat berkelanjutan,” ujar Pujo.

Nota kesepahaman antara Tel-U dan NUS akan berlaku selama tiga tahun. Pelaksanaannya mencakup program pendidikan internasional, sertifikasi, mobilitas mahasiswa, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, serta kegiatan pengembangan kapasitas.

Siapkan Jalur Pendidikan bagi 100 Mahasiswa per Tahun

Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto dan Senior Vice-Provost NUS, Prof. Bernard C. Y. Tan di acara penandatanganan MoU Telkom University dan NUS. Foto: kumparan/Wina R.

Senior Vice-Provost NUS, Prof. Bernard C. Y. Tan, mengatakan pendidikan menjadi inti kerja sama kedua universitas. Terdapat dua program utama yang akan dikembangkan, yakni program akhir semester dan jalur sertifikat pascasarjana.

“Pendidikan menjadi inti dari kolaborasi ini. Ada dua pilar yang akan membentuk kerja sama kami,” kata Bernard.

Pada program akhir semester, Tel-U dan NUS akan mengembangkan winter school dan summer school dengan pendekatan pembelajaran berbasis studi kasus dan proyek. Kegiatan tersebut akan lebih banyak diselenggarakan di Tel-U, disertai kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program akademik di Singapura pada masa special term NUS.

Bernard mengatakan program tersebut akan memberikan perspektif lokal dan internasional kepada mahasiswa. Selain mengikuti pembelajaran eksploratif, mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan pelaku industri.

Akademisi dari NUS juga akan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di Tel-U. Salah satunya adalah Executive Director The Logistics Institute–Asia Pacific NUS Dr. Robert de Souza yang akan memberikan perkuliahan mengenai logistik dalam program Global Weeks.

“Setelah acara hari ini selesai, ia akan melakukan perjalanan ke Bandung untuk mengajar,” ujar Bernard merujuk kepada Robert.

Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto, menjelaskan Global Weeks merupakan program perkuliahan internasional yang menghadirkan profesor dari berbagai negara untuk mengajar selama satu minggu kepada mahasiswa program studi internasional Tel-U.

Foto bersama pihak Telkom University dan NUS saat acara penandatanganan MoU kerja sama. Foto: kumparan/Wina R.

“Global Weeks adalah perkuliahan internasional yang mengundang para profesor dari luar negeri untuk memberikan perkuliahan selama satu minggu bagi program studi internasional yang ada di Tel-U. Salah satunya, Dr. Robert akan menjadi pembicara dalam acara Global Weeks tersebut,” kata Suyanto.

Program berikutnya berupa jalur sertifikat pascasarjana. Mahasiswa Tel-U akan dipertimbangkan untuk mengikuti graduate certificate di NUS yang dapat diakumulasikan sebagai bagian dari jenjang menuju program magister.

Program tersebut memiliki kapasitas indikatif hingga 100 mahasiswa setiap tahun. Bernard mengatakan jalur itu akan membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi sekaligus memperoleh kualifikasi yang diakui secara internasional.

“Dengan indikasi penerimaan hingga 100 mahasiswa setiap tahun, inisiatif ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk studi lanjutan dan peluang global,” ujarnya.

Perkuat Talenta Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Seno mengatakan pengembangan talenta menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Kebutuhan tersebut juga membuka ruang bagi perguruan tinggi, industri, dan mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

“Dari kacamata industri, kita memiliki kesenjangan talenta. Sebenarnya, ini bukan masalah yang hanya terjadi di Indonesia. Di tingkat regional, kita juga menghadapi masalah yang sama,” ujar Seno.

Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital hingga 2030. Sementara itu, jumlah talenta yang diproyeksikan dapat tersedia mencapai sekitar delapan juta orang.

Data tersebut menjadi salah satu dasar pentingnya pengembangan program pendidikan, pelatihan, dan pengalaman internasional bagi mahasiswa. Kolaborasi Tel-U dan NUS diharapkan dapat memperluas akses mahasiswa terhadap pembelajaran global sekaligus mempertemukan kompetensi akademik dengan kebutuhan industri.

Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto dan Direktur Strategic Business Development and Portfolio PT Telkom Indonesia Seno Soemadji saat acara penandatanganan MoU Telkom University dan NUS. Foto: kumparan/Wina R.

“Kebutuhan talenta yang kita prediksi sampai 2030 mencapai 12 juta talenta digital. Saat ini, kita memprediksi baru dapat memenuhi sekitar delapan juta. Artinya, salah satu kunci dasar untuk mencapai pertumbuhan menuju Indonesia Emas adalah talenta,” kata Seno.

Menurut Seno, mahasiswa perlu memperoleh interaksi dan pengalaman global sejak masih berada di perguruan tinggi. Paparan tersebut dapat membantu mereka memahami perkembangan teknologi, budaya kerja, dan kebutuhan industri di tingkat regional maupun internasional.

Penguatan talenta digital juga berkaitan dengan target peningkatan kontribusi ekonomi digital terhadap perekonomian nasional. Saat ini, kontribusinya disebut berada di kisaran 7 sampai 8 persen dan diharapkan meningkat menjadi sekitar 20 sampai 25 persen pada 2045.

Posisi Tel-U sebagai bagian dari ekosistem Telkom Group turut memberikan akses terhadap praktik dan kebutuhan nyata di industri. Ekosistem tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa dan peneliti untuk mengembangkan, menguji, serta menerapkan berbagai inovasi teknologi.

“Tel-U adalah bagian dari Telkom Group. Kami bisa dikatakan sebagai pelaku industri dan kami juga membutuhkan talenta yang baik,” ujarnya.

Rektor Telkom University Prof. Dr. Suyanto menambahkan, Tel-U dan NUS memiliki perhatian yang sama terhadap pengembangan kecerdasan buatan. Tel-U saat ini mengembangkan Safe AI, yakni kecerdasan buatan yang mengedepankan keamanan, keberlanjutan, akurasi, akuntabilitas, keadilan, kecepatan, keterjelasan, dan etika.

Tel-U menargetkan menjadi National Excellence Entrepreneurial University berbasis Safe AI pada 2028. Kerja sama dengan NUS juga akan diarahkan untuk memperkuat kemampuan mahasiswa dalam bidang kecerdasan buatan dan teknologi digital.

“Tel-U sebagai lembaga pendidikan ingin menghasilkan lulusan yang sangat menguasai artificial intelligence dengan tingkat keselamatan yang tinggi,” kata Suyanto.

Selain kecerdasan buatan, Tel-U mengembangkan riset di bidang keamanan siber, komputasi kuantum, dan post-quantum cryptography. Bidang-bidang tersebut berkaitan dengan upaya memperkuat perlindungan sistem, keamanan data, dan kedaulatan digital Indonesia.

Kolaborasi juga mencakup community services atau pengabdian kepada masyarakat. Program tersebut akan melibatkan mahasiswa dan dosen dalam penerapan pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pengabdian kepada masyarakat menjadi penting bagi mahasiswa maupun dosen agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat secara luas,” ujar Suyanto.