Telkom Rilis i-Chat 2.0, Permudah Guru SLB Sampaikan Materi ke Siswa Disabilitas
·waktu baca 2 menit

Penyampaian materi di Sekolah Luar Biasa (SLB) membutuhkan usaha lebih. Tak hanya kemampuan guru, sekolah juga diharapkan memiliki fasilitas memadai guna mendukung pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa disabilitas.
Hal inilah yang mendorong Telkom meluncurkan i-Chat 2.0, sebuah platform digital pembelajaran bahasa isyarat. Dirancang khusus bagi anak-anak Tuli dan disabilitas wicara, i-Chat 2.0 merupakan hasil pengembangan versi pertama yang sudah disebarluaskan 15 tahun terakhir.
Nama i-Chat sendiri merupakan singkatan dari “I Can Hear and Talk”, yang mencerminkan semangat inklusif bahwa setiap anak meski tidak dapat mendengar atau berbicara seperti umumnya, tetap bisa berkomunikasi, belajar, dan tumbuh dengan percaya diri.
Versi terbaru i-Chat dilengkapi dengan berbagai fitur unggulan, seperti kamus kata dengan video visual bahasa isyarat, fitur latihan untuk menyusun kalimat secara mandiri, hingga fitur forum yang menyediakan ruang diskusi sesama pengguna.
SGM Social Responsibility Telkom, Hery Susanto, menyampaikan, Telkom ingin memastikan bahwa transformasi digital berjalan berdampingan dengan nilai-nilai kemanusiaan melalui versi terbaru i-Chat.
"Kami percaya bahwa setiap anak termasuk mereka yang memiliki hambatan komunikasi, berhak mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Ini adalah bagian dari komitmen Telkom untuk mendukung pencapaian SDG 4 dan menciptakan masa depan yang lebih inklusif melalui teknologi yang bermakna," jelasnya.
Telkom menyadari, masih banyak tantangan komunikasi dan akses belajar peserta didik Tuli dan disabilitas wicara. Dengan adanya i-Chat 2.0, platform ini memungkinkan guru SLB untuk mengakses dan menyampaikan materi pelajaran dengan bantuan visual, video isyarat berbasis SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia), serta alat bantu belajar lain yang ramah bagi anak dengan hambatan pendengaran.
Dalam kegiatan sosialisasi, para guru SLB diajak langsung mencoba fitur i-Chat 2.0, berbagi masukan, serta merancang cara integrasinya ke dalam pengajaran harian di sekolah. Platform i-Chat 2.0 saat ini mengadopsi Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sebagai standar, karena SIBI digunakan secara luas dalam pembelajaran formal di SLB.
Namun, Telkom juga membuka ruang pengembangan jangka panjang, termasuk Integrasi BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) sebagai bahasa alami komunitas Tuli.
Kehadiran i-Chat 2.0 bukan sekadar meluncurkan fitur terbaru, melainkan simbol dari langkah konkret Telkom dalam menghadirkan inovasi yang merangkul seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.
"Ke depannya, kami berharap agar i-Chat 2.0 dapat meningkatkan inklusivitas bagi penyandang disabilitas tuli dan disabilitas wicara dalam menghadapi tantangan komunikasi dan akses belajar,” pungkas Hery.
