Teresa Wibowo, Pewaris ACE Hardware yang Ditempa Berbisnis Sejak SD

Terlahir sebagai anak dari pemilik bisnis besar PT Kawan Lama Sejahtera (Kawan Lama/KL), membuat Teresa Wibowo akhirnya menceburkan diri mengelola usaha keluarga itu. Kawan Lama dirintis oleh kakeknya, dari sebuah toko perkakas di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Bisnis itu kemudian dibesarkan oleh ayah Tere, Kuncoro Wibowo yang biasa disapa Pak Kun.
Dari sebuah toko perkakas kecil, Kawan Lama oleh Pak Kun dibesarkan hingga jadi pemegang lisensi tunggal ACE Hardware di Indonesia, dari perusahaan induknya di Amerika Serikat. Bisnis Kawan Lama pun meluas dari bisnis perkakas, merambah sektor lain. Sebagai sosok yang berkiprah di era internet of things, pengagum Warren Buffett ini berupaya mengintegrasikan semua bisnis Kawan Lama ke dalam platform digital, ruparupa.com.
"Warren Buffett itu kaya hingga sudah berusia tua. Naluri investasinya mengagumkan, tapi hidupnya tetap sederhana dan bersahaja," katanya mengungkap alasannya mengagumi pendiri Berkshire Hathaway itu. Kepada kumparan, CEO PT Omni Digitama Internusa ini menceritakan pengalamannya ditempa mengelola bisnis oleh sang ayah, sejak SD. Berikut wawancara selengkapnya:
Bagaimana cerita perjalanan karir, sampai sekarang mengelola ruparupa? Sebenarnya saya enggak langsung masuk di bisnis ini. Saya sempet kerja di advertising agency. Habis itu baru di PT Kawan Lama Sejahtera (KL) Group, mulai dari Customer Relations Manager untuk ACE Hardware (ACES). Habis itu berkembang ke bisnis unit lain, sampai akhirnya GM Marketing untuk KL Ritel, termasuk Informa, ACES, Toys Kingdom, dan lain-lain.
Bagaimana Pak Kun mengajari kamu berbisnis? Saya enggak tau beruntung atau enggak ya, di mana sekarang all system sudah ada. Kalau dulu kan sistem belum ada. Mau enggak mau kamu harus belajar nempel tuh sama instruktur. Sekarang kadang saya dilepas sih. Nih kamu harus ngerjain ini. Bisa atau enggak. Kalau enggak bisa, nanti dibantu.
Jadi Pak Kun itu gayanya jarang menceritakan tapi lebih mencontoh saja. Dari dulu, saat SD saya pulang sekolah selalu harus ke kantor. Duduk di ruangannya. Nunggu sampai makan malam. Ya padahal anak umur segitu.

Terus SMP saya sekolah di luar negeri. Kalau lagi libur, sudah pasti ke kantor. Males banget kan. Tapi ya mau enggak mau, ya sudahlah karena saya juga lumayan nurut anaknya. Tapi i guess, dengan caranya itu malah menumbuhkan sense of belongings. Mungkin karena dari dulu sudah di brain wash ada di sini. Bacanya katalog Krisbow yang tebel.
Apa yang melatarbelakangi masuk bisnis e-commerce? Saya melihat bahwa bisnis ini harus mulai bergerak ke arah digital. Saya pas mulai di KL, enggak ada tuh yang namanya digital marketing department. Jadi saya juga jadi bangun itu. Mungkin saja jadi dekat dengan digital marketing.
Pemanfaatan media sosial juga dulu kita yang mulai. Ada IG, Youtube. Jadi, karena sering terekspos ke hal-hal yang berbau digital, saya jadi jadi merasa it’s a big opportunity here. Saya rasa kok KL belum tancapkan bendera nih di area digital. Nah jadi pada saat itu saya ajukan ke BOD. Kita perlu yang namanya mulai dengan e-commerce dan yang lain-lain.
Kita lihat kalau itu jadi inisiatif di dalam corporate saja yang hanya seperti website, hasilnya enggak maksimal. Nah makanya kita buat platform baru, ruparupa.com.
Sejak didirikan pada 2015, bagaimana perkembangan ruparupa.com? Actually kita baru jalan 2 tahun, karena launching April 2016. Tantangannya adalah, kalau ini bisnis yang sama sekali baru, membangun dari yang enggak ada jadi ada, maka kita bisa bangun sesuai dengan apa yang kita mau.
Sementara kalau ruparupa.com dibangun, sudah ada fondasi-nya yang sudah mengakar. Yakni Kawan Lama. KL sendiri sudah 60 tahun. Kalau KL Ritel sendiri sudah 23 tahun. Nah 23 tahun ini sudah banyak proses bisnis yang sudah jadi pakem, sudah banyak legacy system yang sudah ada dari situnya. Jadi untuk kita mulai sesuai sistem itu, kita harus adjust ke bisnis yang sudah ada.
Jadi yang susah mengubah kultur ya, biasa offline sekarang harus masuk online? Oh iya, mesti hubungin dengan sistem SAP kita. Harus menghubungkan dengan toko bagaimana caranya. Harus educate untuk packing dan lain-lain yang biasanya enggak pernah dilakuin sama sekali. Terus belum lagi, karena we are a retailer, kalau kita jualan gelas misalnya, kalau di toko kan dipajang saja satu-satu, kalau online gimana? Harus di foto, ukur, detail bahannya.
Musti educate orang toko juga. Nih kalau fragile, packing-nya harus gimana. Jadi there’s a lot of shifting great sense. Jadi memang kalau dibandingkan dengan e-commerce yang lain, we are moving slow phase, kita sangat pelan tapi we are happy with we are going. Kita enggak burn money banyak seperti e-commerce lain karena mereka punya investor dari luar negeri. Sementara we are our own company funded. Nah apakah kita nanti terbuka dengan investor lain untuk bergabung buat gerak lebih cepat? Ya sure, why not.
Dulu mengelola bisnis offline, sekarang di ruparupa jadi online systems. Pelajaran apa yang didapat? Sebelumnya saya di ACES, tapi posisi terakhir saya pegang semua KL Ritel. Jadi i get expose differents already. Tapi yang namanya online dan offline sangat-sangat berbeda. Jadi kalau yang namanya offline itu di ritel kebanyakan, kalau orang lagi liburan justru itu waktunya kita jualan. Dulu, kalau weekend masih kontrol toko, lihat costumer.
Kalau online malah terbalik. Weekdays justru rame. Jadi kalau bisa jangan ada libur panjang. Nanti yang mampir ke ruparupa sepi. Tapi bagusnya karena kita juga KL fisik, kalau weekend kan tetap jalan.

Online itu emang cepat. Kita bisa keluarin campaign berhasil atau enggak, bisa diukur dalam hitungan jam. Kalau offline, saya keluarin brosur, saya baru tahu feedback ke sales itu lama. Mau revisi brosur, kalau sudah telanjur cetak sudah beredar di toko, juga kan buruh waktu dan biaya.
Nah kalau di online itu, decision cepat. Everyhings happen within second. Anak-anak ini yg decision. Itulah kenapa milenials suka kerja di industri digital, karena mereka punya power untuk do things.
Ada anggapan kalau mengelola bisnis keluarga sudah dikasih posisi enak dari awal. Sehingga ada yang meragukan kemampuannya. Kamu sendiri gimana melihat ini? Kalau dibilang saya bisa atau enggak membesarkan ini, saya belum tahu. Jujur saja saya enggak tahu. Karena bisnis ini sudah lama dan banyak juga kita percayakan key positions itu ke profesional. Jadi its really not the..... anaknya siapa, anaknya siapa yang bertanggung jawab besarkan ini. Walaupun ini family business, kita gaet profesional juga. BOD kita juga banyak kok yang mungkin sebagian besar itu non-family members.
Ya tentunya, being family members justru saya merasa ada beban lebih karena kamu di-expect untuk perform better than the other people. Sehingga justru kalau dibilang perfomnya bagus, orang akan bilang ‘ya iyalah itu anaknya si ini’. Kalau perfomnya jelek dibilang ‘ya iya lah anaknya si ini kok kerjanya gini’. Jadi enggak ada puasnya. Tapi yang saya rasa the filoshopy of KL we believe kita ada di posisi itu karena mampu. Kalau kamu enggak bisa ke sana, gimana nih usaha kamu biar bisa ke sana. In the end, kalau tetap enggak bisa, ya profesional lain masuk ya enggak apa-apa.
Apa memang dari awal sudah diarahkan terlibat di bisnis keluarga? Di awal sih kita di-encourage untuk kerja di tempat lain. Jadi enggak mendadak masuk ke sini, enggak tau apa-apa pula. Jadi walaupun yang dari luar masuk pun, ada seperti saudara saya, tapi itu pun kamu enggak mulai dari manajer. Tapi dari bawah.
Saya sendiri pernah sempet ikut management trainee di sini. Jadi memang waktu itu its also is my choice untuk kerja di tempat lain, karena kalau saya masuk sini enggak tau apa-apa but everybody knows me. Risih saja itu.
Dan saya rasa ayah saya sih, dan juga sama saudara-saudarnya yang lain juga. Kalau memang enggak mau di sini, ya enggak perlu. Enggak diharuskanlah untuk joint di familiy business karena keluarga kita juga besar kan. Tapi kalau memang kalau kami bisa balik dan berkontribusi, thats even better.

Kalau tips sukses berbisnis buat milenials dari kamu apa? I think apa ya... yang enggak boleh hilang adalah semangat belajar sih. Jadi jangan merasa kamu oh ya di sini udah dapat gaji gede, you just stop learning. Jangan. Justru itu rugi di kamu. Satu lagi, jangan mikir apa yang kita dapet dari kerjaan saja, baru kamu taker-takerin mau melakukan apa. In the end, kalau tidak melakukan, rugi sendiri. Tapi apa yang bisa kita berikan ke perusahaan. Itu pedoman saya sendiri sih. Just do it first with the outcome in mind.
