Tes PCR Kumur Bio Farma Turun Harga, Bagaimana Akurasi dan Keamanan Produknya?

6 September 2021 13:25
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tes deteksi COVID-19 metode PCR kumur kolaborasi Bio Farma dan Nusantics. Foto: Bio Farma
zoom-in-whitePerbesar
Tes deteksi COVID-19 metode PCR kumur kolaborasi Bio Farma dan Nusantics. Foto: Bio Farma
ADVERTISEMENT
BUMN farmasi PT Bio Farma (Persero) meluncurkan produk tes PCR kumur, hasil kerja sama dengan perusahaan rintisan bioteknologi Nusantics. Seiring kebijakan pemerintah menurunkan harga tes antigen dan swab PCR, harga tes PCR kumur pun ikut turun harga.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan ini merupakan kali pertama Indonesia membangun industri diagnostik. Jika untuk pengembangan dan produksi tes PCR kumur bernama BioSaliva ini, Bio Farma bekerja sama dengan Nusantics, untuk pemasarannya bekerja sama dengan GSI Lab.
"Pastinya masih diperlukan beberapa penambahan sehingga alat uji Bio Saliva ini akan semakin sempurna, maka harus kita dorong percepatan penyempurnaan produk. Masukan dari berbagai pihak di tahap limited release ini sangat membantu. Kita tidak boleh tertinggal,” kata Honesti Basyir dikutip dari laman resmi Bio Farma, Senin (6/9).
Dalam tahap pemasaran terbatas ini, GSI Lab pun menurunkan harga tes PCR kumur, mengikuti turunnya harga tes antigen dan swab test. Jika sebelumnya GSI Lab mengenakan tarif tes PCR kumur Rp 799.000, maka kini tarifnya hanya Rp 495.000. Lantas bagaimana dengan akurasi hasil tes dan keamanan produknya?
ADVERTISEMENT

Tingkat Akurasi 99 Persen

Honesti Basyir menyatakan, perusahaan sudah melakukan pengetesan tingkat keakuratan BioSaliva terhadap semua varian virus corona. "Hasilnya di atas 99 persen," katanya dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (7/7) lalu.
Kontainer yang membawa bahan baku vaksin COVID-19 Sinovac tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/7/2021). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kontainer yang membawa bahan baku vaksin COVID-19 Sinovac tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/7/2021). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
Sementara itu BioSaliva disebut memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan alat uji yang beredar di pasaran. Sampel yang digunakan dalam proses pengembangan produk, seluruhnya berasal dari pasien Indonesia, sehingga memiliki kesesuaian dengan penduduk Indonesia.
Proses pengembangan produk ini melibatkan lebih dari 400 sampel pasien positif COVID-19. Baik pasien rawat jalan, maupun rawat inap dan riset validasi selama 7 bulan. Dari riset dan pengujian itu, tes PCR kumur dapat mendeteksi hingga angka CT 40 dan memiliki performance yang sangat baik untuk CT <35 dengan sensitivitas hingga 93.57 persen.
ADVERTISEMENT

Sudah Mendapat Izin Kemenkes

Selain tingkat akurasi dan sensitivitas yang baik, dari sisi keamanan produk BioSaliva juga sudah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 1 April 2021, dengan Nomor KEMENKES RI AKD 10302120673.
Produk yang sudah diluncurkan oleh Bio Farma dan Nusantics terbatas pada awal Juli 2021 lalu ini, tengah melakukan uji post market BioSaliva di 3 (tiga) laboratorium. Ketiga laboratorium itu ditunjuk langsung oleh Direktorat Pengawasan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kemenkes.
Ketiga laboratorium tersebut yakni Lab Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Lab Biomedik Lanjut Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dan Lab Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.