Kumparan Logo

Tips Supaya Tagihan Listrik Tak Membengkak Gara-gara Work From Home

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kerja dari rumah. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerja dari rumah. Foto: Shutterstock

Lonjakan penyebaran virus corona membuat sejumlah perusahaan menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama 14 hari. Penerapan kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada Senin (16/3).

Beberapa pemerintah daerah juga menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah. Misalnya di DKI Jakarta, belajar dari rumah diberlakukan selama 2 pekan sejak hari ini.

Kebijakan ini tentu akan berimbas pada kebutuhan listrik di rumah tangga. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa memperkirakan, konsumsi listrik rumah tangga di Jakarta dan sekitarnya akan naik 15 hingga 20 persen pada Maret 2020.

Peningkatan itu terutama dari penggunaan Air Conditioner (AC). Banyak yang terbiasa bekerja dengan udara sejuk dari AC, ketika kerja di rumah pun memakai AC. Selain itu pemakaian internet, komputer, dan lampu juga akan membuat tagihan listrik naik. Tapi tidak signifikan karena internet hingga lampu hanya membutuhkan sedikit daya listrik.

"Buat masyarakat, konsumsi terbesar di AC. Kenaikan konsumsi listrik kalau kerja dari rumah saya perkirakan 15-20 persen kalau ini (WFH) sebulan. Internet dan komputer juga, tapi enggak besar. Kenaikan dari lampu juga enggak terlalu besar," ujar Fabby saat dihubungi kumparan, Senin (16/3).

kumparan post embed

Karena itu agar tagihan listrik tak melonjak signifikan, Fabby menyarankan agar masyarakat yang bekerja serta belajar dari rumah untuk tak terus-terusan menyalakan AC sepanjang hari.

"Yang punya ruang kerja, AC bisa dikombinasi dengan kipas angin atau membuka jendela," paparnya.

Meski konsumsi listrik rumah tangga naik, namun secara umum penjualan listrik PLN bakal menurun signifikan karena kantor-kantor, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga pabrik mengurangi aktivitas.

"Penurunan di Jakarta bisa sampai 50 persen karena kantor-kantor enggak aktif, jadi kayak Sabtu-Minggu. Orang-orang juga enggak ke mal. (Penurunan konsumsi listrik) Bisa kayak Lebaran," tutupnya.