Kumparan Logo

Trump Positif Corona, Analis Khawatir Kebijakan Ekonomi ke China Lebih Keras

kumparanBISNISverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan masker saat mengunjungi Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed di Bethesda, Maryland, Sabtu (11/7). Foto: Tasos Katopodis/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan masker saat mengunjungi Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed di Bethesda, Maryland, Sabtu (11/7). Foto: Tasos Katopodis/Reuters

Setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan dirinya positif terjangkit virus corona, analis menerka-nerka kebijakan ekonomi seperti apa yang akan diambilnya terhadap China. Sejak terpilih menjadi Presiden AS 2016 silam, Trump mengambil kebijakan ekonomi konfrontatif dengan China.

“Yang saya khawatirkan adalah dia akan menjadi lebih agresif terhadap China setelah dia positif terjangkit virus corona. Karena saya mendapat kesan, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menjadi lebih anti-China setelah dia menderita COVID-19," kata Ekonom Senior pada Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, Naoya Oshikubo, dari Tokyo, Jumat (2/10).

Apalagi menurutnya, dalam debat perdana yang berlangsung Kamis (1/10), Oshikubo menilai level Trump ada di belakang penantangnya dari Partai Demokrat, Joe Biden. Debat pertama, ujarnya, merupakan yang terpenting dari tiga sesi debat yang akan berlangsung untuk Pilpres 2020 ini.

"Saya menduga pasar akan condong ke pandangan bahwa Biden kemungkinan besar akan memenangkan pemilu," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters.

Presiden AS Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden berpartisipasi dalam debat kampanye presiden 2020 pertama mereka di kampus Klinik Cleveland, di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, AS. Foto: Reuters

Analis lainnya menilai, Donald Trump positif terjangkit virus corona akan menciptakan ketidakpastian dalam Pilpres AS. Meskipun hal itu kemungkinan tidak akan mengubah preferensi calon pemilih.

"Malah bisa jadi akan muncul rasa simpatik dan dukungan buat Trump, setelah dia positif terjangkit virus corona, " kata Kepala Investasi Strategis AMP Capital yang berbasis di Sydney, Shane Oliver.

“Secara umum, pasar lebih memilih petahana untuk menang dan preferensi umum adalah Donald Trump menang karena itu berarti pajak yang lebih rendah dan peraturan yang lebih sedikit daripada jika Biden jadi Presiden," pungkasnya.