Trump Stop Sementara Operasi Hormuz, Buka Jalan Damai dengan Iran
·waktu baca 3 menit

Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz guna membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
Mengutip Bloomberg pada Rabu (6/5), Trump menyebut ada kemajuan besar menuju kesepakatan final dengan perwakilan Iran. Katanya, keputusan itu diambil atas permintaan Pakistan, yang turut memediasi perundingan antara Washington dan Teheran, bersama sejumlah negara lain.
“Proyek Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan dapat difinalisasi dan ditandatangani,” ujar Trump dalam unggahan di media sosial, dikutip Rabu (6/5).
Meski begitu, blokade AS terhadap kapal menuju dan dari pelabuhan Iran tetap diberlakukan penuh.
Belum jelas kemajuan apa yang dimaksud Trump, dan ia tak merinci detail negosiasi yang sedang berlangsung. Pernyataan ini juga berbalik dari sikap sebelumnya yang menunjukkan frustrasi atas lambatnya proses dialog dengan Iran.
Harga Minyak Turun
Di pasar energi, harga Brent crude turun mendekati USD 108 per barel setelah anjlok 4 persen sehari sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 100 per barel.
Pemerintah AS tampak mencari cara meredakan konflik yang telah mendorong lonjakan harga energi dan menekan ekonomi domestik, menjelang pemilu sela November yang berpotensi mempengaruhi kontrol Partai Republik di Kongres.
Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan operasi ofensif terhadap Iran telah dihentikan, dengan fokus beralih pada perlindungan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, serangan terhadap kapal kargo di hari yang sama menunjukkan konflik masih berlangsung.
Meski AS kini mendorong deeskalasi konflik yang telah menewaskan ribuan orang di Iran dan Lebanon serta mengguncang pasar energi global, jalan menuju kesepakatan yang membuka kembali Selat Hormuz masih terbuka.
Trump sebelumnya menggambarkan Project Freedom sebagai upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan pelaut yang terjebak dan memulihkan arus logistik di jalur strategis tersebut. Namun, operasi ini dinilai belum mampu menjawab kekhawatiran keamanan pelayaran.
Ketegangan bahkan meningkat pada Senin (4/5), ketika militer AS menghadapi serangan drone, rudal, dan kapal kecil bersenjata Iran saat mengawal dua kapal berbendera AS. Uni Emirat Arab juga melaporkan berhasil mencegat rudal jelajah Iran.
Organisasi pemantau maritim Inggris melaporkan sebuah kapal kargo kembali terkena serangan proyektil tak dikenal di Selat Hormuz. AS menyebut lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 awak masih terjebak di Teluk Persia.
Iran terus menghambat lalu lintas internasional serta distribusi minyak dan gas, memicu gejolak pasar energi. Sebagai balasan, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sejak lebih dari tiga pekan lalu untuk menekan ekspor minyak Teheran dan meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi nuklir.
Trump menilai tekanan ekonomi telah memaksa Iran untuk melunak, namun konflik yang telah berlangsung sembilan pekan ini justru meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
Sebelum pengumuman Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tuntutan AS untuk melanjutkan perundingan.
“Masalahnya, ketika AS menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap negara kami, mereka juga berharap Iran mau kembali ke meja perundingan dan tunduk pada tuntutan sepihak ini adalah persamaan yang mustahil,” ujarnya.
Rubio juga mengakui proses negosiasi terhambat oleh dinamika internal Iran.
“Terkadang setelah sebuah tawaran diajukan, butuh lima hingga enam hari untuk mendapat respons karena harus melalui berbagai lapisan hingga ke pemimpin tertinggi. Sistem mereka memang berlapis, dan kini semakin kompleks akibat dampak perang,” kata Rubio.
