Kumparan Logo

Trump Tolak Proposal Iran Bayangi Asia: Dolar-Minyak Naik, Wall Street Melemah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga berjalan di dekat papan informasi harga saham yang menampilkan indeks saham Nikkei di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang, Senin (9/3/2026). Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga berjalan di dekat papan informasi harga saham yang menampilkan indeks saham Nikkei di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang, Senin (9/3/2026). Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS

Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan pagi Asia, Senin (11/5), setelah Presiden Donald Trump menolak respons terbaru Iran terkait proposal perdamaian untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 minggu. Penolakan itu memicu kembali kekhawatiran investor terhadap perang di Iran dan ancaman inflasi global.

Mengutip Bloomberg, kontrak futures indeks S&P 500 turun 0,2 persen hingga 0,3 persen pada perdagangan awal Asia atau sekitar pukul 07.00 waktu Tokyo. Di saat yang sama, harga minyak melonjak dan dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Harga minyak Brent dibuka naik 2,7 persen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 3,1 persen ke level USD 98,40 per barel. Di pasar mata uang, euro turun 0,2 persen ke USD 1,1759 dan dolar Australia melemah 0,3 persen menjadi USD 0,7224.

Ketegangan meningkat setelah laporan Wall Street Journal menyebut Iran menawarkan pemindahan sebagian stok uranium dengan pengayaan tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari negosiasi damai. Namun Iran menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya. Pemerintah Iran kemudian membantah laporan tersebut melalui kantor berita semi-resmi Tasnim.

Presiden AS Donald Trump menghadiri sebuah acara di Raymond F. Kravis Center for the Performing Arts di West Palm Beach, Florida, AS, Jumat (1/5/2026). Foto: Nathan Howard/REUTERS

Trump menanggapi proposal Iran dengan keras dan menyebut respons tersebut sebagai “TOTALLY UNACCEPTABLE” atau benar-benar tidak dapat diterima.

Strategis Bank of New Zealand, Jason Wong, mengatakan pasar kini kembali masuk ke mode menghindari risiko.

“Penolakan Trump terhadap rencana damai terbaru Iran membuat pasar memulai pekan dalam mode ‘risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang terjadi pekan lalu,” ujar Wong.

Sentimen negatif tersebut, menurutnya, kemungkinan masih akan berlanjut pada awal perdagangan global. Kondisi ini menjadi pengingat bagi investor setelah reli panjang pasar saham global dalam beberapa pekan terakhir.

Sebelumnya, optimisme terhadap musim laporan keuangan emiten AS dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) sempat mendorong indeks S&P 500, Nasdaq 100, dan saham Asia mencetak rekor tertinggi baru.

Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: curraheeshutter/Shutterstock

Namun sejumlah analis mulai memperingatkan valuasi saham yang terlalu mahal. Barclays Plc menyebut strategi berburu saham momentum telah mencapai titik ekstrem yang dalam sejarah kerap mendahului aksi jual pasar.

Sementara itu, Goldman Sachs menilai valuasi saham-saham momentum kini sudah terlalu tinggi dengan posisi investor berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, pasar juga menanti data inflasi AS yang akan dirilis Selasa waktu setempat. Ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) April naik 0,6 persen, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya dan menjadi sinyal tekanan inflasi masih kuat.

Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat lalu juga menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam masih solid. Nonfarm payrolls bertambah 115 ribu pada April setelah kenaikan besar pada Maret, sementara tingkat pengangguran tetap di level 4,3 persen.

Meski demikian, pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve masih akan menahan suku bunga acuan untuk sementara waktu sambil memantau dampak lonjakan harga energi akibat perang Iran.

Di pasar kripto, Bitcoin naik 0,4 persen ke level USD 81.007, sedangkan Ether menguat 0,5 persen menjadi USD 2.339. Harga emas spot justru turun 0,4 persen ke USD 4.696 per ounce.

instagram embed