Kumparan Logo

Trump-Xi akan Bertemu, China Berpotensi Borong Gas AS Senilai Rp 106,95 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di Kuil Surga di Beijing pada 14 Mei 2026. Foto: BRENDAN SMIALOWSKI/Pool via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di Kuil Surga di Beijing pada 14 Mei 2026. Foto: BRENDAN SMIALOWSKI/Pool via REUTERS

China berpotensi kembali membeli gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat (AS) senilai sekitar USD 6 miliar per tahun, setara Rp 106,95 triliun (dengan kurs Rp 17.825 per USD). Komitmen tersebut dapat menjadi salah satu kesepakatan yang dibahas Presiden China Xi Jinping dalam kunjungannya ke Washington pekan ini untuk bertemu Presiden AS Donald Trump.

AS merupakan eksportir LNG terbesar di dunia, sementara China menjadi salah satu pembeli terbesar. Namun, hubungan perdagangan kedua negara memburuk sejak Trump memberlakukan serangkaian tarif pada Februari 2025.

Sebagai balasan, China mengenakan tarif terhadap sejumlah produk energi asal AS, termasuk LNG. Sejak saat itu, China praktis menghentikan impor LNG dari AS.

Perusahaan-perusahaan China masih memenuhi sejumlah kewajiban kontrak pembelian LNG dari AS. Namun, alih-alih membawa kargo tersebut ke China dan membayar tarif 15%, perusahaan memilih menjual kembali LNG itu kepada pembeli di Eropa dan Asia.

LNG Jadi Titik Temu AS-China

Kembali dibukanya perdagangan LNG antara AS dan China dinilai dapat menguntungkan kedua negara. Bagi China, LNG dari AS dapat menjadi sumber pasokan energi yang relatif stabil di tengah gangguan lalu lintas energi di kawasan Teluk Persia.

Sementara bagi AS, kembalinya China sebagai pembeli dapat memberikan kepastian pasar bagi industri LNG yang sedang terus berkembang.

“LNG adalah salah satu area yang tampaknya memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Nilai dari pulihnya hubungan perdagangan LNG dengan China akan lebih besar daripada sekadar mengatasi ketidakseimbangan perdagangan. Kembalinya perdagangan LNG kemungkinan akan menopang pertumbuhan industri LNG AS secara berkelanjutan,” kata Jane Nakano, senior fellow di Center for Strategic and International Studies (CSIS) dikutip dari Bloomberg, Senin (21/9).

Menurut perhitungan Bloomberg, kontrak pembelian gas AS yang dimiliki perusahaan-perusahaan China saat ini mencapai sekitar 14 juta ton LNG per tahun. Jika dihitung menggunakan harga jangka panjang, nilainya sekitar USD 6 miliar per tahun. Nilai perdagangan tersebut bahkan dapat lebih besar jika pembelian dilakukan melalui pasar spot.

Ada tanda-tanda sejumlah perusahaan China mulai mempersiapkan diri jika hubungan perdagangan LNG AS-China kembali normal.

China Gas Holdings Ltd. pekan lalu sepakat membeli LNG dari AS selama 20 tahun mulai 2030. Kesepakatan jangka panjang tersebut menjadi salah satu kontrak pasokan LNG AS yang cukup menonjol di tengah ketegangan perdagangan kedua negara.

Sejumlah pembeli LNG China lainnya juga dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan eksportir AS dalam sebuah konferensi gas di Bangkok pekan lalu.

Kondisi geopolitik di kawasan Teluk Persia turut menjadi alasan bagi China untuk kembali mempertimbangkan pasokan LNG dari AS. Pembeli yang memiliki kontrak jangka panjang dengan proyek LNG AS dinilai lebih terlindungi dari lonjakan harga gas akibat gangguan pasokan.

Kontrak jangka panjang tersebut dapat memasok LNG ke Asia Timur Laut dengan harga sekitar USD 8 per juta British thermal unit (MMBtu). Sementara itu, harga LNG di pasar spot saat ini berada sekitar tiga kali lipat dari level tersebut.

Berpotensi Jadi Kesepakatan Besar Trump-Xi

LNG sebelumnya juga menjadi bagian penting dalam berbagai pembicaraan perdagangan antara AS dan China.

Saat Trump berkunjung ke Beijing pada 2017, proyek-proyek gas alam mencakup lebih dari separuh dari total kesepakatan senilai USD 250 miliar yang diumumkan saat itu. Namun, sebagian besar kesepakatan tersebut tidak mengikat dan akhirnya tidak terealisasi.

LNG juga menjadi bagian dari kesepakatan perdagangan fase pertama AS-China pada 2020. Dalam kesepakatan tersebut, China berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi AS sebagai bagian dari rencana meningkatkan impor dari AS senilai USD 200 miliar.

Kali ini, potensi pembukaan kembali pasar LNG China dapat menjadi kabar positif bagi perusahaan-perusahaan energi AS. Sejumlah proyek LNG baru membutuhkan kontrak pembelian jangka panjang sebelum pengembang berani mengucurkan miliaran dolar untuk pembangunan fasilitas.

Salah satu proyek yang berpotensi mendapat manfaat adalah Alaska LNG yang didukung pemerintahan Trump, serta sejumlah proyek ekspor LNG yang sedang diusulkan di sepanjang pesisir Teluk AS.

Sebagian besar pasokan LNG baru yang saat ini ditawarkan AS baru akan mulai beroperasi pada akhir dekade ini atau awal 2030-an. Artinya, perusahaan China dapat menandatangani kontrak pasokan jangka panjang tanpa harus langsung menerima LNG dalam waktu dekat.

Ancaman Sanksi Rusia Jadi Tantangan

Namun, ada tantangan lain yang dapat memengaruhi rencana tersebut. Trump baru saja menandatangani undang-undang sanksi terhadap Rusia yang memberikan kewenangan untuk mengenakan tarif besar kepada negara-negara yang membeli minyak dan gas Rusia.

China sendiri merupakan salah satu pembeli utama energi Rusia dan menjadi pemasok LNG terbesar kedua bagi China.

Belum diketahui kapan dan apakah pemerintahan Trump akan menggunakan kewenangan tersebut terhadap China. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan perusahaan China sebelum membuat komitmen pembelian LNG AS dalam jangka panjang.

Pada puncaknya pada 2021, LNG AS menyumbang sekitar 12% dari total impor LNG China berdasarkan data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg. Sejak saat itu, ekspor LNG AS telah meningkat hampir 60%. Ekspor tahunan AS juga diperkirakan meningkat dua kali lipat pada akhir dekade ini seiring beroperasinya proyek-proyek baru.

Bagi pengembang LNG AS, masuknya kembali pembeli China dapat memberikan kepastian permintaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan proyek-proyek baru. Di sisi lain, pasar LNG China juga diperkirakan terus tumbuh meski penggunaan energi terbarukan meningkat.

“Baik secara bertahap maupun keseluruhan, bauran energi China akan terus didominasi oleh energi terbarukan. Kami juga memiliki pandangan bahwa pasar LNG China akan berlipat ganda dan menjadi yang terbesar di dunia,” kata Executive Vice President Cheniere Energy Inc. Anatol Feygin dalam konferensi Gastech di Bangkok pekan lalu.