Kumparan Logo

Tumpahan Minyak di Karawang, Klaim Pertamina hingga Saran dari Susi

kumparanBISNISverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati meyampaiakan keterangan pers tentang penanganan tumpahan minyak (Oil Spill) di perairan Karawang. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati meyampaiakan keterangan pers tentang penanganan tumpahan minyak (Oil Spill) di perairan Karawang. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Tumpahan minyak (oil spill) dari Sumur YYA-1 di sekitar Anjungan Lepas Pantai YY Area milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Pantai Utara Jawa, Karawang, Jawa Barat, belum juga berhenti. Minyak mentah berwarna hitam pekat itu masih keluar dan mencemari laut.

PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan induk yang bertanggung jawab atas kejadian ini terus mengupayakan penanganan. Selain itu, Pertamina juga telah menggelar konferensi pers dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti soal penanganan dampak tumpahan minyak tersebut.

Beberapa pernyataan

1. Klaim Pertamina: Tumpahan Minyak di Karawang Sisa 10 Persen

PT Pertamina (Persero) mengklaim volume tumpahan minyak (oil spill) dan gelembung gas di Karawang, Jawa Barat, tinggal tersisa 10 persen. Angka itu merujuk volume tumpahan per hari yaitu 3.000 barel (bph) yang terjadi secara konstan sejak 12 Juli 2019.

"Hari ini sudah semakin kecil, hanya sekitar 10 persennya saja," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta, Kamis (1/8).

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu, menyampaikan pihaknya terus menggencarkan penanganan tumpahan minyak, di antaranya menggunakan skimmer atau penyedot hingga tujuh lapis proteksi.

"Tujuh lapis yang di-deploy, semua bentuknya oil boom untuk menahan dan mengejar oil spill. Kita juga ada helix skimmer dan giant octopus skimmer untuk ambil minyaknya," katanya.

2. Pertamina Ogah Hitung-hitungan soal Biaya Penanganan Tumpahan Minyak

Pertamina menekankan perusahaan tak mau hitung-hitungan soal biaya yang dikeluarkan untuk penanganan tumpahan minyak dan gelembung gas dari Sumur YYA-1 di Blok Offshore North West Java (ONWJ), Karawang, Jawa Barat.

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu, mengatakan saat ini perusahaan fokus untuk keselamatan manusia dan lingkungan. Dia yakin tumpahan minyak ini bisa diatasi Pertamina, termasuk soal ongkos kompensasi yang nantinya mesti diberikan kepada masyarakat, misalnya para nelayan.

"Ini merupakan manifestasi, penanganan seperti ini kita harus fokus pendekatan, bagaimana fokus ini bisa dilakukan sebaik-baiknya, tidak menghitung-hitung angka invoice. Track record perusahaan yang mengalami hal seperti inilah yang dilakukan. Mereka juga enggak ada yang bangkrut," ujar Dharmawan.

3. Pertamina Bakal Ganti Semua Kerugian yang Ditimbulkan

Meski Pertamina belum mau angkat bicara soal besaran kerugian yang ditimbulkan, perusahaan berkomitmen bakal mengganti itu semua, terutama dampak sosial bagi warga sekitar lokasi.

Nicke mengatakan salah satu yang paling diutamakan ialah proses mematikan sumur. Selain itu, penanganan 7 lapis perlindungan di lepas pantai hingga penerjunan kapal untuk pembersihan.

"Kita best effort supaya minimal. Lebih 27 kapal kami, 800 orang yang hari ini membantu di darat dari semua pihak yang sudah membantu dan juga masyarakat yang sudah membantu," terangnya.

Ke depan, Pertamina memastikan akan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan dari tumpahan minyak. Misalnya kepada para nelayan. Namun, hingga kini belum bisa dipastikan jumlah terdampak dan total kerugian yang dialami.

"Yang disampaikan tahapan (penanganan), jumlah (kerugian) itu Dinas Perikanan, kami pun menunggu jumlah verifikasi," tegasnya.

Warga mengumpulkan tumpahan minyak (Oil Spill) yang tercecer di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

4. Pertamina Bantah Tumpahan Minyak di Karawang Akibat Skema Gross Split

Pertamina membantah tumpahan minyak yang terjadi di laut Karawang akibat penerapan skema gross split. Hal itu terkait upaya efisiensi atau pemangkasan ongkos produksi.

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu, mengatakan proses pengeboran yang dilakukan pada sumur YYA-1 milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Karawang, Jawa Barat, tak menyalahi prosedur.

"Mengenai gross split, Saya yakinkan tidak ada prosedur yang dikorbankan hanya karena kita lakukan gross split," kata Dharmawan.

Hingga kini, Pertamina mengaku masih belum mengetahui pasti penyebab terjadinya tumpahan minyak itu dan gelembung gas tersebut. Investigasi masih terus dilakukan.

"Standar dari safety adalah sesuatu yang enggak boleh dikorbankan, yang bisa saya katakan sekarang adalah dari hasil investigasi," tuturnya.

5. Saran Susi ke Pertamina

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyampaikan kejadian tumpahan minyak di perairan Karawang, Jawa Barat. Kejadian tersebut menurut Susi bisa menjadi pelajaran bagi Pertamina untuk memperbanyak oil boom.

Oil boom ini merupakan peralatan yang digunakan untuk melokalisir atau menguruk tumpahan minyak di air. "Tentu pelajaran ini, rig Pertamina harus memiliki oil boom lebih banyak," ujar Susi.

Susi mengatakan, penanganan tumpahan minyak ini tak hanya perlu dilakukan dalam kurun waktu pendek, namun minimal 6 bulan ke depan. Ia menekankan, tumpahan minyak tersebut memberikan dampak lingkungan yang luar biasa. Utamanya, bisa mengancam ekosistem perikanan di laut.