Usai Tawarkan Pensiun Dini ke Karyawan, Garuda Pangkas Separuh Armada Pesawat?

Pandemi yang masih menghantam Indonesia dan dunia hampir dua tahun membuat PT Garuda Indonesia (Persero) makin megap-megap. Setelah menawarkan pensiun dini ke para karyawannya, manajemen maskapai penerbangan pelat merah ini disebut bakal memangkas jumlah pesawat yang dioperasikan.
Dalam rapat internal Garuda Indonesia yang ditulis Bloomberg, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan pemangkasan armada Garuda Indonesia direncanakan hingga setengahnya dari jumlah saat ini 142 unit. Alasannya, karena utang perusahaan kian bengkak akibat penundaan pembayaran ke lessor, sedangkan bisnis penerbangan sedang tidak normal.
"Kami harus melalui restrukturisasi yang komprehensif, secara total. Kami punya 142 pesawat dan perhitungan awal kami, dengan melihat pemulihan ini berjalan, kami akan operasikan tidak lebih dari 70 pesawat," kata Irfan seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (23/5).
Dalam rekaman tersebut, Irfan menyebut perseroan tengah memiliki utang sekitar Rp 70 triliun atau USD 4,9 miliar. Utang ini terus meningkat lebih dari Rp 1 triliun setiap bulannya karena perusahaan terus menunda pembayaran kewajiban ke pemasok.
"Perusahaan memiliki arus kas negatif dan ekuitas minus Rp 41 triliun rupiah. Jika restrukturisasi ini gagal, dapat mengakibatkan perusahaan dihentikan secara tiba-tiba," katanya.
Dikonfirmasi mengenai hal ini, Irfan enggan berkomentar lebih lanjut. Namun, dia juga tidak membantahnya. Menurut dia, saat ini perusahaan akan fokus dulu pada penawaran pensiun dini ke para karyawannya.
"No further comment ya. Saya dan tim biarkan kita fokus menyelesaikan soal pensiun dini ya. Itu kan saudara-saudara kita sebangsa," ujarnya saat dihubungi kumparan, Minggu (23/5).
Pada Jumat (21/5), melalui keterangan resminya, Irfan mengatakan Garuda Indonesia menawarkan pensiun dini bagi karyawannya. Saat ini masih tahap awal penawaran pensiun dipercepat bagi karyawan yang memenuhi kriteria dan persyaratan keikutsertaan program tersebut.
Irfan mengatakan, penawaran program ini dilakukan sejalan dengan upaya pemulihan kinerja usaha yang tengah dijalankan untuk membuat Garuda Indonesia menjadi perusahaan yang lebih sehat dan adaptif menjawab tantangan kinerja usaha di era kenormalan baru.
Selain itu, Irfan menjelaskan situasi pandemi yang masih terus berlangsung hingga saat ini, mengharuskan perseroan mengambil langkah penyesuaian aspek suplai dan demand di tengah penurunan kinerja operasi imbas penurunan trafik penerbangan yang signifikan.
“Perlu kiranya kami sampaikan bahwa program pensiun dipercepat ini ditawarkan secara sukarela terhadap karyawan yang telah memenuhi kriteria. Kebijakan ini menjadi penawaran terbaik yang dapat kami upayakan terhadap karyawan di tengah situasi pandemi saat ini, yang tentunya senantiasa mengedepankan kepentingan bersama seluruh pihak, dalam hal ini karyawan maupun perusahaan,” kata Irfan melalui keterangan tertulisnya, Jumat (21/5).
