Kumparan Logo

Wadirut Garuda Ungkap 3 Opsi Restrukturisasi Utang yang Ditawarkan ke Kreditur

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat Garuda 777-300ER. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Garuda 777-300ER. Foto: Shutter Stock

Utang PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kian membengkak setiap bulannya karena tidak sanggup membayar biaya sewa pesawat ke lessor. Sepanjang 2020, kewajiban Garuda Indonesia mencapai USD 9,57 miliar atau Rp 134 triliun, sementara ekuitas negatif USD 1,99 miliar atau minus Rp 27 triliun.

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Dony Oskaria mengatakan saat ini manajemen bersama konsultan keuangan dalam dan luar negeri tengah menyusun proposal negosiasi ke lessor. Targetnya, roadmap proposal tersebut rampung dalam tiga minggu.

"Ini harapkan ada 3 opsi ke lessors yaitu early termination, lease holiday, atau ketiga adalah pay by the hour," kata Dony dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR RI, Senin (21/6).

kumparan post embed

Jika opsi early termination diambil, artinya kontrak Garuda Indonesia dan lessor putus lebih cepat dari kesepakatan awal. Sementara opsi lease holiday adalah penundaan pembayaran sewa pesawat. Sedangkan opsi pay by the hour adalah Garuda hanya akan membayar sewa pesawat ke lessor per jamnya, jika pesawat itu digunakan.

Selama ini, Garuda harus membayar sewa pesawat meski unitnya tidak dipakai. Kesepakatan inilah yang membuat biaya sewa membengkak di masa pandemi karena banyak pesawat menganggur di bandara atau hanggar.

kumparan post embed

Dony menjelaskan, dengan kondisi saat ini, Garuda hanya butuh 41 pesawat. Karena itu, Garuda harus menanggung 101 pesawat yang tidak diperlukan, tetapi secara buku keuangan biaya sewanya harus dicatat dan menjadi utang.

"Selisih dari dua ini sudah kurang lebih USD 40 juta sendiri. Kerugian kita mostly adalah underutilized assets. Yang asetnya tetap kita bayar secara fixed cost, tetapi pesawat tersebut tidak menghasilkan revenue," ujarnya.

Dony mengatakan tidak bisa menjelaskan secara rinci berbagai kemungkinan opsi yang ditawarkan secara publik. Tapi, dia akan membawa proposal itu tiga minggu ke depan dan menargetkan proses negosiasi dengan seluruh lessor rampung akhir tahun.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Pasal Neraka dalam Kontrak Garuda Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan negosiasi ini harus dilakukan hati-hati. Sebab, ada satu pasal yang disebutnya sebagai pasal neraka jika ingin mengubah kesepakatan.

Pasal neraka itu adalah jika pesawat dikembalikan lebih awal dari kontrak (early termination), maka Garuda Indonesia sebagai debitur kena denda.

"Semua kontrak ada pasar nerakanya, apapun yang terjadi kita harus bayar. Ini bisa jadi obligasi yang sudah berkepanjangan. Alhamdulillah sudah ada 2 lessor yang sepakat pesawatnya dikembalikan," ujar Irfan.

Irfan mengakui banyak pesawat Garuda Indonesia yang selama ini kontrak sewanya dua kali lebih mahal. Namun, sejak tahun lalu perusahaan berhasil negosiasi dengan lessor dan berhasil menurunkan biaya sewa 30 persen.

"Dalam satu bulan kita bayar USD 76 juta, tapi sudah turun USD 11 juta, jadi sekitar USD 55 juta sewa pesawat yang kita lakukan dengan jumlah unit pesawat yang sama," ucapnya.