Kumparan Logo

Wamenkeu: Pandemi Hambat Indonesia Jadi Negara Ekonomi Maju di 2045

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjadi pembicara pada acara IBEX 2019 di Fairmont Hotel, Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjadi pembicara pada acara IBEX 2019 di Fairmont Hotel, Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pandemi karena telah menimbulkan krisis yang menghambat upaya untuk mencapai target Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Tapi di tengah kondisi itu, pemerintah tetap mengutamakan penanganan pandemi COVID-19 dan terus berupaya untuk memperbaiki perekonomian untuk mencapai Visi Emas 2045.

"Kita lihat perubahan sangat mendasar akibat pandemi, namun kita tetap dalam path untuk Indonesia emas 2045 negara maju," kata Suahasil dalam diskusi yang berlangsung secara online, Senin (12/10).

Dia menjelaskan, visi Indonesia Emas 2045 adalah Indonesia menargetkan produk domestik bruto atau PDB mencapai USD 7 triliun, sehingga mampu menjadi negara yang masuk sebagai lima besar kekuatan ekonomi dunia pada 2045.

"Cara pandang kami adalah Indonesia dalam upaya terus perbaiki perekonomian untuk capai visi emas 2045," ujarnya.

Suahasil mengatakan pemerintah tetap fokus pada penanganan pandemi karena telah menimbulkan krisis yang menghambat upaya pemerintah dalam mencapai target Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Dia menyebutkan sebenarnya situasi pada Januari tahun ini cukup optimistis namun ketika pandemi mulai memasuki dalam negeri yakni pada Februari, Maret, hingga sekarang menyebabkan perubahan sangat besar dalam perekonomian.

Gedung perkantoran di Jakarta sebagai simbol kemajuan perekonomian nasional. Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Suahasil menjelaskan kuartal I tahun ini mengalami tekanan cukup dalam yaitu hanya mampu tumbuh 2,97 persen dari yang biasanya hingga 5 persen akibat pandemi COVID-19. Kemudian. pada kuartal II 2020 tekanan semakin meningkat dalam perekonomian yakni terkontraksi mencapai 5,32 persen, karena adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran COVID-19.

Sementara, pada kuartal III ini telah mulai terlihat adanya pemulihan terhadap kegiatan perekonomian meskipun diprediksikan masih akan mengalami kontraksi, namun tidak sedalam kuartal sebelumnya. "Track ini kita jaga agar tetap dalam track Indonesia maju, namun dengan tetap menangani pandemi," tegasnya.

Oleh sebab itu, Suahasil menuturkan pemerintah terus berupaya membuat transformasi ekonomi dalam rangka menjaga pemulihan yang telah terjadi dan mengejar visi Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Menurutnya, transformasi ekonomi tetap harus dilakukan di tengah pandemi agar ketika krisis telah berakhir maka Indonesia siap melangkah dan melompat lebih jauh ke depan. Transformasi ekonomi dilakukan dengan memperhatikan komposisi perekonomian Indonesia yaitu konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 57 persen terhadap PDB, investasi berkontribusi 30 persen terhadap PDB, serta pengeluaran pemerintah.

"Pengeluaran pemerintah saat ini masih jadi tumpuan, namun setelah pandemi selesai, lalu ekonomi maju, maka konsumsi dan investasi diharapkan pick up," ujarnya.