Kumparan Logo

Wamenperin: 90% Bahan Baku Farmasi Masih Impor, Jadi Tantangan Besar Industri RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza. Foto: Kemenperin
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza. Foto: Kemenperin

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyoroti masih tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor. Menurutnya, sekitar 90 persen bahan baku farmasi yang digunakan di dalam negeri masih didatangkan dari luar negeri, sehingga menjadi tantangan besar bagi penguatan daya saing industri nasional.

Ia menegaskan pemerintah perlu mendorong pengembangan industri substitusi impor agar rantai pasok manufaktur, khususnya sektor farmasi, menjadi lebih kuat.

“Di industri farmasi, 90 persen bahan baku itu masih impor. Ini tantangan yang luar biasa buat industri dalam negeri,” ujar Faisol dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (14/7).

Menurut dia, persoalan ketergantungan impor tidak hanya terjadi di sektor farmasi. Pemerintah akan memetakan satu per satu persoalan di berbagai sektor industri agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan regional. Faisol menilai Indonesia perlu bergerak lebih cepat menyusul meningkatnya kinerja ekspor manufaktur sejumlah negara tetangga.

instagram embed

“Tentu saja industri-industri lain kami juga perlu melihat satu per satu masalah-masalah yang harus kita pecahkan supaya kita bisa menghadapi Vietnam dan Filipina misalnya yang nilai ekspornya sangat meningkat eksponensial,” katanya.

Di sisi lain, ia menjelaskan industri pengolahan nonmigas Indonesia saat ini masih lebih banyak menopang kebutuhan pasar domestik dibandingkan ekspor. Nilai ekspor industri pengolahan nonmigas tercatat sekitar 21 persen, sedangkan sekitar 78,39 persen produksinya diserap pasar dalam negeri.

Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi industri nasional, namun sekaligus menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas agar produk manufaktur Indonesia semakin kompetitif di pasar global.

Industri kimia dan farmasi merupakan salah satu sektor strategis dalam industri manufaktur. Kinerja sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) pun menunjukkan tren yang terus menguat. Pada triwulan pertama tahun 2026, sektor ini tumbuh sebesar 4,96 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan pertama tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 3,34 persen.

Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 3,88 persen, dengan subsektor industri barang galian bukan logam menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi sebesar 9,12 persen.

Dari sisi perdagangan internasional, ekspor IKFT selama Januari-Maret 2026 mencapai USD 13,23 miliar meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD 12,77 miliar. Nilai terbesar berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang menyumbang ekspor sebesar USD 5,97 miliar.

Sementara itu, realisasi investasi sektor IKFT pada Januari–Maret 2026 mencapai Rp47,20 triliun, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 45,57 triliun.

Industri Farmasi Dorong Ekosistem Kesehatan

Cek Kesehatan Segitiga dari Dexa Medica melalui Dharma Dexa, digelar sebagai program berkelanjutan yang mendukung upaya pemerintah memperkuat deteksi dini penyakit tidak menular.

Sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem kesehatan nasional, kalangan industri farmasi juga mulai mendorong pendekatan promotif dan preventif di masyarakat. Salah satunya dilakukan Dexa Medica melalui program Cek Kesehatan Segitiga yang sejak diluncurkan pada 2024 telah menjangkau lebih dari 15.000 orang di berbagai kota melalui pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, disertai edukasi serta konsultasi kesehatan.

Program tersebut kembali digelar di Surabaya pada 12–13 Juli 2026 dan diikuti 782 peserta. Hasil pemeriksaan menunjukkan sekitar enam dari sepuluh peserta memiliki sedikitnya satu faktor risiko penyakit tidak menular, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau gula darah tinggi. Temuan itu menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan edukasi kesehatan untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius.

Dengan pelaksanaan di Surabaya, Cek Kesehatan Segitiga telah menjangkau lebih dari 15.000 peserta di berbagai kota, antara lain Bandung, Bogor, Cirebon, Jakarta, Karawang, Makassar, Palembang, Solo, Surabaya, Tangerang Selatan, dan Yogyakarta.

Secara nasional, sekitar 63 persen peserta tercatat memiliki sedikitnya satu faktor risiko penyakit tidak menular. Dari keseluruhan peserta yang telah diperiksa, 40,05 persen memiliki tekanan darah tinggi, 35,2 persen memiliki kadar kolesterol tinggi, dan 14,88 persen menunjukkan kadar gula darah tinggi. Seorang peserta dapat memiliki lebih dari satu faktor risiko.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa banyak faktor risiko penyakit tidak menular belum disadari masyarakat karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi penting agar risiko dapat diketahui dan ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.

Head of Corporate Communications Dexa Group, Sonny Himawan, mengatakan Cek Kesehatan Segitiga merupakan bagian dari kontribusi berkelanjutan Dexa Medica dalam mendukung transformasi layanan kesehatan Indonesia yang semakin menekankan upaya promotif dan preventif.

“Sebagai perusahaan farmasi nasional, kami percaya bahwa kontribusi terhadap kesehatan masyarakat juga perlu dimulai dari pencegahan. Melalui Cek Kesehatan Segitiga, kami berupaya mendukung program pemerintah dengan menghadirkan pemeriksaan kesehatan, edukasi, konsultasi dokter, dan aktivitas hidup sehat yang mudah dijangkau masyarakat,” kata Sonny.

Ia menambahkan, pelaksanaan program tersebut memerlukan kolaborasi agar manfaatnya dapat menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas. “Melalui kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan komunitas, kami berharap semakin banyak masyarakat terdorong untuk memeriksakan kesehatannya dan mengambil langkah pencegahan sejak dini,” ujarnya.

Manager Dharma Dexa, Mateus Ramidi, mengatakan pelaksanaan Cek Kesehatan Segitiga di Surabaya dirancang melalui dua lokasi dengan karakteristik peserta yang berbeda.

“Pemilihan Lapangan Bogowonto dan Universitas Surabaya memungkinkan program menjangkau kelompok masyarakat yang lebih beragam. Pendekatan serupa akan terus dikembangkan di berbagai kota agar manfaat pemeriksaan dan edukasi kesehatan dapat dirasakan semakin luas,” ujar Mateus.

Sebagai kelanjutan program, Cek Kesehatan Segitiga dijadwalkan kembali hadir di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Minggu, 19 Juli 2026.