Warteg Kharisma Bahari, dari Modal Mertua hingga Buka Ratusan Cabang
·waktu baca 2 menit

Warung Tegal atau warteg mudah ditemukan khususnya di wilayah DKI Jakarta. Di antara banyaknya tempat makan tersebut yang berdiri, nama Warteg Kharisma Bahari seperti tidak asing lagi bagi para pecinta warteg.
Banyaknya Warteg Kharisma Bahari tentu tidak muncul begitu saja. Ada proses yang membuat warteg itu bisa membuka banyak cabang.
Berdasarkan informasi di laman wartegkharismabaharigroup.com, ceritanya dimulai pada tahun 1996. Saat itu, Sayudi sebagai pemilik Warteg Kharisma Bahari Group mulai membangun wartegnya yang pertama di Jakarta Selatan.
Abdul Somad yang menjadi wakil Sayudi di Warteg Kharisma Bahari Group telah mengizinkan kumparan untuk mengutip informasi yang ada laman tersebut. Ia berharap informasi yang ada bisa berdampak untuk kebaikan.
Warteg pertama Sayudi itu diberi nama MM yang mempunyai kepanjangan modal mertua. Ya, Sayudi pertama kali memulainya dari modal mertuanya.
“Nama itu muncul karena ia membuka warteg dengan modal pinjaman mertuanya. Mertua Yudi meminjamkan sertifikat rumah untuk jaminan mengambil pinjaman di bank,” tulis keterangan di laman wartegkharismabaharigroup.com, dikutip pada Minggu (1/8).
Awalnya, Warteg MM hanya berdiri di bangunan semi permanen yang dibuat oleh pemerintah daerah pada saat itu. Sayudi lalu mendapatkan jalan untuk membuka wartegnya.
“Setelah punya modal, ia kemudian menyewa tempat lalu membuka wartegnya,” terangnya.
Bisa Buka Cabang Warteg Kharisma Bahari Group
Ide awal membuka kemitraan Kharisma Bahari Group berawal dari ketidaksengajaan. Seiring berjalannya waktu, Sayudi sudah mempunyai tiga cabang. Dari tiga cabang itu, dua cabang dikelola oleh karyawannya saja.
Ternyata, warteg yang dijalankan Sayudi tidak berjalan lancar. Bisnis yang dijalankannya sempat merugi dan akhirnya berbenah.
“Karena semakin lama semakin berantakan, dan minus. Akhirnya, kami mengajak teman atau keluarga yang ingin membuka warteg yang tidak punya modal dengan pembagian hasil 50-50,” jelas keterangan di laman tersebut.
Meski belum dicantumkan tahun resminya, sejak saat mengajak pembagian hasil tersebut Sayudi mulai membuka kemitraan dengan para investor untuk bergabung dengan Warteg Kharisma Bahari Group.
Para investor atau orang yang mau bergabung hanya dengan beli sekali untuk satu outlet warteg dengan harga Rp 130 juta. Harga tersebut di luar biaya sewa kios.
“Namun kalau investor meminta karyawan dari Kharisma Bahari Group ke depannya kemitraan mereka berupa bagi hasil. Laba bersih yang didapatkan dibagi dua, 50 persen untuk pengelola dan 50 persen untuk investor,” jelasnya.
Warteg yang dijalankan Sayudi telah berkembang pesat. Sampai sejauh ini berdasarkan informasi di laman resminya, sudah ada 300 outlet yang terdaftar di franchise Warteg Kharisma Bahari Group.
