Kumparan Logo

Yang Bikin Bisnis Ritel Terpuruk: Belanja Paket Data dan Nongkrong di Cafe

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Protokol kesehatan di Starbucks Indonesia Foto: dok.Starbucks Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Protokol kesehatan di Starbucks Indonesia Foto: dok.Starbucks Indonesia

Bisnis ritel yang banyak terdapat di pusat perbelanjaan atau mal dan department store, banyak tutup akibat sepi pembeli. Hal itu terjadi karena selain disebabkan pandemi virus corona di sepanjang tahun 2020, juga akibat perubahan gaya hidup masyarakat sejak beberapa waktu sebelumnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef ), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai masyarakat saat ini lebih baik menghemat belanja baju untuk membeli paket data dan ngopi di kafe.

“Sebetulnya selama ini pola konsumsi masyarakat yang bergeser menjadi lebih banyak membelanjakan uangnya untuk paket data dan nongkrong di kafe,” katanya saat ditemui di Wisma BNI 46, Jakarta Pusat, Selasa (29/1).

Menurut Bhima, konsumsi pakaian jadi masyarakat Indonesia cenderung menurun bahkan sempat menyentuh titik terendahnya di kuartal III tahun 2017 yang hanya sekitar 2 persen. Berbanding terbalik, konsumsi paket data justru terus meningkat di waktu yang sama mencapai 5,6 persen.

“Orang-orang zaman sekarang lebih memilih untuk menghemat belanja pakaian untuk selfie yang menggunakan paket data dan untuk beli kopi. Coba lihat kopi mahal harganya Rp 50 ribu tapi antreannya panjang sekali,” tambahnya.

Sejumlah pengunjung berbelanja di Supermarket Giant Ekspres Mampang Prapatan, Jakarta, Minggu (23/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Fenomena ini kebanyakan terjadi di kalangan menengah dan atas. Kebanyakan dari masyarakat kalangan ini lebih mengalihkan sebagian belanjanya ke kebutuhan lain yang sesuai dengan gaya hidup seperti nongkrong di cafe.

Untuk itu, tantangan yang dihadapi sektor ritel saat ini, menurut Bhima tak hanya persaingan dengan dunia online. Tetapi juga gaya hidup baru yang ditimbulkan oleh masyarakat.

“Ini adalah tantangan sektor ritel memang. Belum lagi kebutuhan masyarakat akan liburan saat ini. Jadi tidak hanya online saja, tetapi secara agregat pola konsumsi masyarakat memang bergeser,” tutupnya.

Sejumlah gerai ritel diketahui telah menutup beberapa outlet mereka. Seperti Matahari Department Store, Giant, Ramayana. Ada yang mengalihkan toko ke daerah lain, ada juga yang menutup total. Selain itu penutupan ritel juga diikuti oleh PT Central Retail Indonesia yang menutup gerai Central Department Store di Neo Soho pada 18 Februari 2019. Terakhir ada PT Tozy Sentosa, yang tidak lain adalah pengelola Centro Departement Store yang terpaksa menutup gerainya di Plaza Semanggi.