10 Years Challenge: PSSI dan Sepak Bola Kita Belum ke Mana-mana

Dengan tagar #10yearschallenge, pengguna media sosial macam Instagram dan Facebook ramai-ramai bernostalgia lewat unggahan foto mereka 10 tahun lampau. Ada yang terlihat berbeda jauh, ada juga yang masih menunjukkan kesamaan dibandingkan wajah masa kini.
Menarik pula melihat Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) lewat 'kacamata' serupa. Ya, apa yang terjadi di tubuh federasi dan prestasinya satu dekade lalu, kemudian mengomparasikannya dengan situasi teraktual.
Cara paling mudah pencarian jejak tentu dengan mengunjungi situs PSSI. Kebetulan di kolom "Tentang PSSI" terdapat poin "Sejarah". Namun, kamu yang menggunakan cara tersebut pasti tak menemukan jawabannya. Ya, milestone yang tercatat oleh PSSI ternyata cuma sampai 2007 atau ketika menjadi tuan rumah Piala Asia.
Lantas, apakah betul PSSI tidak menorehkan prestasi apa-apa sejak itu dan termasuk 10 tahun terakhir? Yuk, kita cek.
Kompetisi
Kalau melihat PSSI dari sudut pandang kompetisi, 2009 adalah tahun ketika Indonesia Super League (ISL) merampungkan edisi pertamanya dengan menghadirkan Persipura Jayapura sebagai juara.
Terlihat masalah yang itu-itu saja sejak ISL bergulir, yakni ketidakpastian menyoal kick-off kompetisi. Ini sudah terjadi pada edisi perdana gara-gara jumlah peserta yang masih samar-samar. Badan Liga Indonesia (BLI), yang bertindak sebagai perpanjangan tangan PSSI dalam mengurus kompetisi, harus melakukan verifikasi terhadap tujuh klub terlebih dahulu agar kompetisi bisa dimulai.
Jadwal sepak mula yang tak jelas kembali terjadi di musim 2009/2010. Pesta politik yang sedang berlangsung di Indonesia menjadi penyebabnya. Pihak keamanan menyarankan kompetisi dihelat usai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2009.
Memasuki musim 2010/11, polemik yang muncul semakin rumit. Verifikasi oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyoal infrastruktur dan finansial membuat lima klub tersandung. Belum lagi masalah perizinan yang membuat kompetisi baru diundur sepekan sampai 26 September 2010.

Masalah klasik soal start kompetisi yang molor terus berulang, termasuk ketika PT Liga Indonesia Baru (LIB) melakukan rebranding terhadap ISL menjadi Liga 1. Untuk musim 2018 saja, kick-off Liga 1 berkali-kali ditunda. Dari 24 Februari ke 3 Maret, hingga akhirnya menjadi 23 Maret. Alasannya menyangkut utang finansial kepada klub-klub peserta pada musim sebelumnya.
Sangat mungkin pula terulang menjelang musim 2019. Belum ditetapkan kapan start kompetisi hingga kini. PT LIB hanya menegaskan bahwa Liga 1 mulai bergulir setelah Pemilihan Presiden pada 17 April 2019 mendatang.
Kendati begitu, kami tidak menutup mata terhadap prestasi yang telah ditorehkan wakil-wakil ISL maupun Liga 1 di Asia, termasuk ketika Persija menembus semifinal zona ASEAN pada AFC Cup 2018.
Ya, kalau acuannya 10 tahun terakhir, tim-tim Indonesia memang sering melangkah jauh di kompetisi level kedua Asia tersebut. Terbaik adalah Persipura ketika menembus semifinal edisi 2014. Lalu yang mencapai perempat final yakni Arema (2012) dan Semen Padang (2013).
Timnas
PSSI yang masih dipimpin Nurdin Halid menutup kalender 2009 dengan tinta merah. Bagaimana tidak, pengurus federasi dan pecinta sepak bola Tanah Air dipaksa menelan pil pahit berupa kegagalan total Timnas U-23 di SEA Games 2009.
Jangankan mengejar medali, Timnas U-23 malah berakhir sebagai juru kunci Grup B dengan raihan satu poin dalam turnamen yang berlangsung di Laos. Satu-satunya angka didapatkan 'Garuda Muda' ketika menahan Singapura dengan skor 2-2 di pertandingan perdana. Dua laga selanjutnya, Timnas U-23 menelan kekalahan 0-2 dari tuan rumah dan 1-3 dari Myanmar.

Sudah hampir sepuluh tahun berlalu sejak memori kelam tersebut. Kurun tersebut, PSSI memang menunjukkan progres di perhelatan SEA Games. Edisi 2011, misalnya, ketika tim yang diasuh Rahmad Darmawan melaju sampai ke final sebelum takluk dari Malaysia via adu penalti. Dengan pelatih serupa, Timnas U-23 kembali mencapai partai puncak dua tahun berselang atau 2013.
Untuk dua edisi selanjutnya atau pada 2015 dan 2017, Timnas U-23 cuma mampu menembus semifinal. Tidak buruk, tetapi perjalanan Evan Dimas dan kolega empat tahun lalu sempat tercoreng oleh isu pengaturan skor yang sampai sekarang tak jelas ujung ceritanya.
Grafik naik dan turun telah ditunjukkan Timnas U-23 selepas kegagalan total pada 2009. Dari situ bisa pula diambil kesimpulan bahwa Indonesia belum mampu menggondol medali emas di pesta olahraga se-Asia Tenggara setelah kesuksesan terakhir pada 1991.
Tabu itulah yang coba dipatahkan oleh Timnas U-23 yang tengah dibentuk pelatih Indra Sjafri pada 2019 ini. Bermodalkan kombinasi pemain lama dan suntikan tenaga dari Timnas U-19, 'Garuda Muda' juga mengarungi dua ajang lainnya di luar SEA Games 2019 di Filipina, yakni Piala AFF U-22 2019 serta Kualifikasi Piala Asia U-23 2020.

Tidak adil, dong, menghakimi PSSI 10 tahun terakhir hanya lewat capaian di SEA Games. Terlebih lagi, ajang ini tidak tercatat oleh FIFA. Jadi, mari telaah panggung lainnya.
Yang paling sering disorot tentu saja Piala AFF yang sudah seperti Piala Dunia untuk pecinta sepak bola Indonesia. Karena hanya di turnamen inilah Timnas Indonesia berpeluang merengkuh gelar juara.
Asa tersebut hampir terwujud pada 2010 atau ketika Indonesia menjadi tuan rumah. Firman Utina dan kolega tampil impresif dari fase grup hingga semifinal dengan menyapu bersih kemenangan. Sayang, trofi melayang karena kekalahan 2-4 secara agregat dari Malaysia dalam dua pertandingan final.
Memang cuma runner-up yang menjadi capaian terbaik Indonesia di Piala AFF. Itu juga terjadi pada 2016, ketika kursi pelatih kembali diduduki Alfred Riedl. Kali ini, Boaz Solossa dan kolega takluk dari Thailand di final. Penantian merengkuh trofi pertama di ajang ini semakin panjang setelah Timnas Indonesia arahan Bima Sakti terhenti di fase grup Piala AFF 2018.

Bicara soal PSSI dari sudut pandang timnas tak melulu kegagalan. Masih ada prestasi yang tentu layak diapresiasi. Di antaranya kesuksesan Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri menjuarai Piala AFF 2013 serta Timnas U-16 besutan Fakhri Husaini kelar sebagai kampiun Piala AFF 2018.
===
Sepuluh tahun berlalu sejak periode kelam PSSI kepengurusan Nurdin Halid pada 2009. Setelah itu, PSSI melakukan banyak pembenahan hingga melahirkan prestasi untuk Timnas Indonesia di level kelompok usia.
Kendati begitu, perlu diingat bahwa esensi dari turnamen usia muda adalah pembinaan, sementara prestasi sekadar pemanis. Berbanding terbalik dengan Timnas Indonesia di level senior yang justru harus mengejar prestasi. Dan, mengingat berlanjutnya puasa gelar Timnas Indonesia, plus masalah di liga yang itu-itu saja, PSSI dan sepak bola Indonesia memang belum ke mana-mana.
