Kumparan Logo

5 Pemain Ini Dihujat saat Pakai Nomor 10, Terbanyak dari Liga Inggris

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Robinho saat bermain di Manchester City. Foto:  ANDREW YATES/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Robinho saat bermain di Manchester City. Foto: ANDREW YATES/AFP

Nomor punggung pemain sepak bola biasanya menggambarkan arti khusus dan sebanding dengan kemampuan yang mereka miliki. Misal, nomor 1 untuk kiper top atau nomor 6 dan 8 bagi maestro lini tengah.

Sementara itu, ada juga nomor punggung 10 yang dianggap istimewa di setiap tim. Pasalnya, nomor itu kerap dikenakan oleh sosok istimewa dalam tim, seperti Lionel Messi saat di Barcelona.

Namun, bagaimana jika nomor 10 dikenakan oleh pemain yang tak seharusnya? Berikut daftar 5 pemain yang dianggap tak layak mengenakan nomor 10, dikutip dari Sportskeeda.

William Gallas (Arsenal)

William Gallas kala membela Arsenal. Foto: IAN KINGTON / AFP

Dennis Bergkamp dan Alan Smith adalah dua nama besar yang erat dengan nomor punggung 10 di Emirates Stadium. Sementara itu, Robin van Persie dan Mesut Oezil menjadi ikon modern yang pernah mengenakan nomor punggung itu.

Namun, The Gunners mengalami periode aneh dengan nomor punggung tersebut setelah memberikannya ke William Gallas pada 2006. Bek asal Prancis itu memakai nomor 10 menyusul pensiunnya Bergkamp setelah menjalani 11 tahun yang gemilang bersama Arsenal.

Gallas menghabiskan empat musim kontroversial bersama Arsenal. Tampil 101 kali di Liga Inggris, bek tengah ini lebih dikenal karena sikapnya yang gemar bertengkar daripada kontribusinya untuk tim.

Lassana Diarra (Real Madrid)

Lassana Diarra waktu membela Real Madrid. Foto: Getty Images

Setelah tampil mengesankan untuk Chelsea dan Arsenal, gelandang bertahan ini memainkan peran penting dalam keberhasilan Portsmouth merengkuh Piala FA pada 2008.

Lassana Diarra kemudian dibeli Real Madrid dengan mahar 20 juta euro (sekitar Rp 339 miliar dengan kurs saat ini) pada pertengahan musim 2008/09.

Pada awal musim penuh pertamanya di Bernabeu, gelandang Prancis ini diberi nomor punggung 10 menyusul kepergian Wesley Sneijder ke Inter Milan pada 2009. Selama empat musim membela Madrid, ia sanggup bermain lebih dari 100 kali.

Namun, kesulitan menembus skuad utama di bawah asuhan Jose Mourinho membuatnya pindah ke klub Rusia, Anzhi Makhachkala pada 2012.

Andriy Voronin (Liverpool)

Andriy Voronin waktu membela Liverpool. Foto: Getty Images

Setelah tiga musim produktif dengan Bayer Leverkusen, Andriy Voronin pindah ke Inggris pada 2007 dan langsung diberikan nomor punggung 10 oleh Liverpool.

Pelatih Liverpool saat itu, Rafael Benitez, bahkan dengan terang-terangan menyatakan kekagumannya terhadap pemain depan Ukraina tersebut. Sayang, Voronin gagal memenuhi ekspektasi.

Bersama Liverpool, Voronin hanya sanggup mengemas 6 gol dan 5 assist dalam 40 kali penampilannya.

"Saya hampir tidak mengerti apa-apa, bahasa Inggris saya tidak bagus. Saya juga tidak bisa mengatasi cuaca dan ritme permainan tanpa liburan musim dingin. Saya hanya bepergian dan bermain, sangat melelahkan," ucap Voronin tentang kegagalannya di Liverpool.

Yossi Benayoun (Chelsea)

Yossi Benayoun waktu membela Chelsea. Foto: Getty Images

Yossi Benayoun membuktikan kapasitasnya sebagai gelandang serbaguna selama waktunya di West Ham United dan Liverpool. Ia mampu bermain di kedua sisi sayap.

Keterampilan teknisnya itu membuat Chelsea asuhan Carlo Ancelotti tertarik untuk memboyongnya. Namun, playmaker asal Israel itu hanya menghabiskan satu setengah tahun di Stamford Bridge.

Mewarisi nomor punggung 10 dari Joe Cole yang lincah bukanlah tugas yang mudah. Ia hanya sanggup menyumbang tiga gol untuk Chelsea. Setelah serangkaian peminjaman yang gagal, Benayoun dilepas oleh The Blues pada 2013.

Robinho (Manchester City)

Robinho saat bermain di Manchester City. Foto: STR/AFP

The Citizens sampai merogoh kocek hingga 43 juta euro (sekitar Rp 729 miliar dengan kurs saat ini) saat mendatangkan pemain sayap Real Madrid tersebut pada 2008.

Dianggap sebagai prospek yang bagus, Robinho malah menjelma menjadi seorang wonderkid gagal. Ia hanya mencetak 16 gol dalam dua musimnya di Etihad Stadium sebelum akhirnya dijual ke AC Milan pada 2010.