Kumparan Logo

Alan Shearer vs Harry Kane: Siapa Lebih Unggul?

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Alan Shearer & Harry Kane. (Foto: AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Alan Shearer & Harry Kane. (Foto: AFP)

Pada akhirnya, sosok yang berhak untuk berdiri sama tinggi dengan Alan Shearer itu bukan Michael Owen atau Wayne Rooney, melainkan Harry Kane.

Pertandingan menghadapi Burnley, Minggu (24/12/2017) dini hari, lalu seharusnya menjadi pertandingan yang sulit bagi Tottenham Hotspur. Selain karena mereka tengah dijauhi konsistensi, Burnley jelas bukan lawan sembarangan.

Pasukan Sean Dyche itu, meski diperkuat pemain-pemain yang namanya harus dicari dulu di mesin pencari, ternyata mampu tampil begitu solid musim ini. Setelah duo Manchester yang ada di pucuk klasemen, mereka adalah tim dengan pertahanan terbaik di liga.

Namun, sehebat-hebatnya Burnley besutan Dyche, tim berjuluk The Clarets itu tak punya rekor apik saat bersua The Lilywhites. Prestasi terbaik mereka kala berjumpa Spurs adalah saat bermain imbang tanpa gol di Turf Moor pada April 2015 silam. Sisanya, dari tiga laga Premier League lain, mereka selalu kalah.

Rekor buruk itu akhirnya kembali menjadi momok bagi Burnley. Entah bagaimana, tim terbaik The Clarets di era modern itu justru kemudian dapat digulung dengan mudah. Berhadapan dengan seorang Harry Edward Kane, gawang Nick Pope harus bobol tiga kali. Ini adalah kekalahan terburuk mereka sejak dihantam Manchester City dengan skor serupa, Oktober lampau.

Bagi Spurs, kemenangan ini adalah modal berharga untuk terus bisa bersaing di papan atas. Gelar juara memang rasanya sudah lepas dari genggaman, akan tetapi kelolosan ke Liga Champions adalah sebuah hadiah yang rasanya harus disyukuri oleh tim mana pun di Inggris saat ini. Bagi Spurs, Kane sudah memberi mereka kans besar untuk mewujudkan itu.

Namun, bagi Harry Kane sendiri, tiga golnya ke gawang Pope itu adalah sebuah pencapaian fenomenal. Dengan begitu, penyerang berusia 24 tahun tersebut sudah berhasil menyamai rekor Alan Shearer yang telah berusia 22 tahun. Rekor itu, tentu saja, adalah rekor gol terbanyak di Premier League selama satu tahun kalender.

36 gol. Itulah jumlah gol yang diciptakan Kane sepanjang 2017 di Premier League. Jika semua ajang dihitung, maka gol milik penyerang Tim Nasional Inggris itu ada di angka 46. Hanya Edinson Cavani yang bermain menghadapi petani-petani Ligue 1 dan pesepak bola terhebat sepanjang masa, Lionel Messi, yang catatan golnya melebihi milik Kane.

36 gol Premier League itu dihasilkan Kane hanya dalam 35 pertandingan dan jika kita mau melakukan hitung-hitungan perkara rasio, Alan Shearer tentu saja sudah kalah telak. Pasalnya, gol-gol Kane itu dia ciptakan hanya dalam 35 pertandingan. Sedangkan, Shearer butuh tujuh pertandingan lebih banyak untuk mencapai angka tersebut. Oh, dan hebatnya lagi, Kane masih punya satu laga lagi untuk bisa memecahkan rekor milik Shearer tersebut.

Harry Kane bersinar  di laga melawan Burnley. (Foto:  REUTERS/David Klein )
zoom-in-whitePerbesar
Harry Kane bersinar di laga melawan Burnley. (Foto: REUTERS/David Klein )

Dari sini, sebuah pertanyaan tentunya layak untuk dimunculkan: Apa sebenarnya yang membuat Kane bisa punya rasio gol per pertandingan lebih baik ketimbang Shearer?

Untuk itu, jawabannya tak lain dan tak bukan adalah cara bermain keduanya yang berbeda. Meski sama-sama berposisi sebagai penyerang tengah, Kane adalah pemain yang lebih komplet ketimbang Shearer.

Shearer, kata orang, adalah penyerang nomor sembilan klasik. Artinya, dia adalah pemain yang lebih banyak bercokol di kotak penalti dan entah bagaimana caranya memanfaatkan situasi yang ada untuk mencetak gol. Bagi Shearer, "entah bagaimana caranya" ini berarti memanfaatkan kekuatan fisik yang dimilikinya. Kekuatan fisik ini tidak cuma berwujud kekuatan untuk beradu badan, tetapi juga kekuatan tendangan serta sundulan kepala.

Di awal kariernya bersama Southampton dulu, Shearer sebenarnya adalah seorang gelandang serang. Di situ, dia berperan sebagai kreator untuk rekan-rekan yang ada di depannya. Namun, itu semua kemudian berubah karena pemain satu ini ternyata lebih pas jika ditempatkan sebagai ujung tombak.

Dulu, Shearer tak hanya kuat, tetapi juga cepat, dan inilah yang membuatnya begitu berbahaya. Belakangan, kecepatan itu berubah wujud. Dari yang tadinya merupakan kecepatan dalam bergerak, menjadi kecepatan dalam berpikir. Dipadukan dengan kekuatan yang tak pernah hilang bahkan sampai senjakala kariernya, itulah senjata utama Alan Shearer dalam meneror pertahanan lawan.

Shearer saat berkostum Newcastle. (Foto: Press Association via AFP/Rui Viera)
zoom-in-whitePerbesar
Shearer saat berkostum Newcastle. (Foto: Press Association via AFP/Rui Viera)

Shearer sendiri tak asing dengan rekor. Bahkan ketika masih remaja dulu, dia sudah membuat rekor sebagai pemain termuda (17 tahun 240 hari) yang berhasil menciptakan hat-trick di Divisi Satu (pendahulu Premier League). Belakangan, dia pun berhasil menciptakan rekor demi rekor, termasuk rekor yang disamai Kane tadi, pemain pertama yang menciptakan 100 gol atau lebih untuk dua klub berbeda, serta tentunya, topskorer Premier League sepanjang masa.

Untuk mencapai semua itu, Shearer praktis memang "hanya" mengandalkan kekuatan serta kecepatan berpikirnya tadi. Teknik olah bolanya terhitung biasa saja, meski dia juga sebetulnya bisa jika diminta untuk berperan sebagai penahan bola. Kemudian, selain itu semua, kelebihan utama Shearer lainnya adalah kemampuan menyundul di mana 49 dari total 260 gol yang dilesakkannya di Premier League adalah gol melalui sundulan.

Sementara itu, Harry Kane punya beberapa atribut yang tidak dimiliki Shearer. Dengan posturnya yang besar, Kane memang akhirnya diberkati oleh kekuatan fisik seperti halnya Shearer. Akan tetapi, pemain binaan Tottenham ini, seiring dengan tuntutan sepak bola modern yang mewajibkan pemain untuk lebih terlibat dalam bangun serangan, pada akhirnya juga lihai dalam menjalankan peran tersebut.

Tak jarang kita bisa melihat Kane bergerak melebar, terutama ke sisi kiri. Dari sana, dia bisa menggunakan teknik olah bolanya yang lebih baik ketimbang milik Shearer itu untuk melakukan penetrasi, entah itu dilakukannya sendiri ataupun lewat kolaborasi dengan pemain lain. Itulah mengapa, cara Kane mencetak gol pada akhirnya lebih variatif ketimbang Shearer meski mayoritas golnya juga dicetak sebagaimana layaknya pemain nomor sembilan pada umumnya.

Di sinilah letak keunggulan Kane dibanding Shearer. Jika Shearer masih harus banyak bergantung pada kiriman bola dari rekan-rekannya, ketergantungan Kane tidaklah sebesar itu.

Kane saat mencetak gol kedua. (Foto: Reuters/Carl Recine)
zoom-in-whitePerbesar
Kane saat mencetak gol kedua. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Walau begitu, Kane memang tidak pernah diberkati dengan kecepatan dalam bergerak seperti halnya Shearer pada masa muda. Kecepatan milik Kane, sejak dari dulu, adalah kecepatannya dalam berpikir. Dia tahu bagaimana dan ke mana bola harus diarahkan. Untuk urusan ini, kedua pemain memang sama hebatnya.

Pada Boxing Day, Kane tentunya masih bakal diandalkan Tottenham untuk menggedor pertahanan Southampton yang belum juga mampu bangkit dari resesi. Apabila Kane nantinya berhasil memecahkan rekor Shearer saat melawan The Saints, ini tentunya bakal menjadi sangat puitis mengingat So'ton adalah tim yang membina Shearer kala muda.

Akan tetapi, kalaupun nantinya berhasil, Kane tentunya enggan berhenti sampai di situ. Pasalnya, catatan gol Premier League Kane kini baru berada di angka 93. Untuk bisa mencapai catatan 260 gol milik Shearer, perjalanan Kane masih sangat, sangat jauh.

Walau begitu, bukan berarti Kane bakal kesulitan untuk mengejar rekor tersebut. Hitungannya begini, 260 gol itu diciptakan Shearer selama 14 tahun berkarier di Premier League, sementara 93 gol itu dibukukan Kane dalam lima musim.

Rata-rata, dalam semusimnya Shearer mampu mencetak 18,57 gol. Sedangkan, rata-rata milik Kane adalah 18,6, dan ingat, musim 2017/18 baru berjalan separuh. Dengan catatan Kane bisa menjaga level konsistensi, bukan mustahil dia bisa melampaui rekor milik Alan Shearer di kemudian hari.