Antara The Stone Roses dan Blur, Antara United dan Chelsea

Lho, lho... Kok, ada ulasan musik di segmen kumparanBOLA? Ya, tentu saja ada.
Soalnya begini: Britpop dan Premier League memiliki sinergi yang luar biasa. Keduanya lahir di tempat dan waktu yang hampir bersamaan, Inggris di awal 1990-an, menyambung subgenre shoegaze yang beken sedekade sebelumnya. Bila grunge adalah jalan alternatif di Amerika Serikat, maka britpop adalah pegangan bagi para pemuda di tanah Inggris saat itu.
"Ada sinergi yang luar biasa antara musik dan sepakbola selama periode itu," kata Damon Albarn sebagaimana dilansir Tribuna.
Albarn lahir dan besar di daerah London, kota yang sesak dengan klub sepak bola. Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur, West Ham United, Fulham, dan Crystal Palace adalah beberapa kesebalasan yang berbasis di kota itu. Belum lagi dengan non-kontestan Premier League macam Queens Park Rangers, Charlton Athletic, Millwall, dan Brentford.
Itulah mengapa Albarn akhirnya 'gila' pada sepak bola dan menambatkan hatinya pada Chelsea. Albarn bahkan telah memegang tiket musiman sejak edisi 1990/1991.
"Pertandingan pertama yang saya tonton mungkin terjadi pada tahun 1989. Sebagai seorang anak, saya tidak benar-benar memiliki tim, tetapi kemudian saya akhirnya pindah ke London barat dan teman-teman saya penggemar Chelsea, jadi begitulah saya masuk ke dalamnya."
Bergerak 200 mil dari barat laut London, di sana ada Ian Brown yang jadi simpatisan Manchester United. 29 Mei 1968 jadi momen pertama Brown menonton United, saat dia masih berusia lima tahun.
Mimpi bocah Brown terbayar lunas karena George Best dan kawan-kawan membungkam Benfica 4-1 di final European Cup kala itu. Tiga tahun kemudian, Brown menonton langsung pertandingan kandang saat menjamu Southampton. Usianya baru 8 tahun waktu itu.
Uniknya, Brown bukan hidup dalam keluarga yang mendukung United. Alih-alih demikian, ayah dan pamannya suporter merupakan Manchester City. Para sepupunya juga sudah memiliki tiket musiman untuk menyaksikan The Citizens.
Seperti kebanyakan orang, comeback ajaib United di Campnou saat menaklukkan Bayern Muenchen di final Liga Champions 1999 jadi momen yang paling dikenang Brown. Setelah tertinggal lewat gol cepat Mario Basler, 'Iblis Merah' mencetak dua gol balasan di menit injury time lewat bantuan Teddy Sehringham dan Ole Gunnar Solskjaer.
"Kami menontonnya sebelum naik panggung dan kami pikir semuanya sudah berakhir. Lalu Teddy berhasil mencetak gol, semuanya, lalu Ole memasukkan satu gol lagi. Dan selesai sekaligus menjadi pertandingan terbaik United yang pernah ada," kata Brown.
Tak perlu dijelaskan lagi betapa besarnya pengaruh Albarn dan Brown di percaturan britpop --atau genre musik lain sebelum itu-- Inggris. Albarn bersama Blur, sementara Brown dengan The Stone Roses. Keduanya sekaligus jadi representasi nyata bahwa musik di Inggris amatlah lengket dengan sepak bola.
The Stone Roses lebih dulu menancapkan eksistensinya ketimbang Blur. Mereka memenangi empat penghargaan NME sekaligus pada Desember 1989 --tiga tahun sebelum Blur menelurkan album pertama mereka, Leisure.
"Ketika saya mendengar 'Sally Cinnamon' untuk pertama kalinya, saya tahu apa takdir saya," kata Noel Gallagher suatu waktu.
'Sally Cinnamon' adalah single yang dirilis The Stone Roses pada 1987. See? Bisa dibayangkan betapa berpengaruhnya mereka, bahkan pentolan Oasis itu saja mendapatkan wahyu setelah mendengar lantunan Brown.
Meski baru di tahun 1994, tembang The Stone Roses benar-benar menyebar ke penjuru Inggris. Melalui 'Love Spreads,' mereka menduduki peringkat kedua di tangga lagu Inggris.
Soal ini, Blur lebih duluan mengepakkan sayapnya. Lewat 'Girls & Boys' yang duluan nangkring pada Maret di tahun yang sama. Berbicara soal tembang hits milik Blur, tak lain tak bukan, ya, 'Song 2', yang akrab di telinga pencinta game FIFA.

Tak cuma di situ, tembang yang dirilis pada 1997 tersebut juga ramai terdengar di berbagai iklan dan juga acara televisi. 'Song 2' juga membuka jalan mereka untuk dikenal di Amerika Serikat dan melakoni tur keliling dunia selama sembilan bulan.
Nah, konsep ini yang membedakan Blur dengan The Stone Roses yang cenderung underground. Brown dan kawan-kawan besar bersama Madchester, scene musik yang berkembang di daerah Manchester bersama Happy Mondays, Inspiral Carpets, Northside, dan 808 State. Berbeda dengan Albarn yang dinamis dan mencomot referensi musik yang lebih luas.
Eits, ini tunggu, ini bukan tengan masalah baik dan buruk, hanya jalan keduanya saja yang berbeda. Albarn adalah seorang jenius yang gemar memasukkan berbagai banyak unsur musik di dalamnya. Nyatanya pria berusia 50 tahun itu sampai membuat wadah baru bernama Gorillaz untuk menyalurkan hasrat bermusiknya.
Toh, pada akhirnya Brown dan Albarn sama-sama mengharumkan Brit-Pop ke teritori yang yang lebih luas. Setali tiga uang dengan United serta Chelsea, dua tonggak kokoh Inggris di Manchester dan London.

===
*Tulisan ini disajikan untuk menyambut Chelsea yang akan berhadapan dengan United di pentas Premier League Sabtu (20/10/2018) pukul 18.30 WIB.
