Kumparan Logo

Apa Mungkin Diego Maradona Memang Sudah Bosan Hidup?

kumparanBOLAverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diego Maradona bereaksi saat menerima kartu kuning saat bermain di babak pertama final Piala Dunia melawan Jerman di Azteca Stadium di Mexico City pada 29 Juni 1986. Foto: Gary Hershorn MR/VP/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Diego Maradona bereaksi saat menerima kartu kuning saat bermain di babak pertama final Piala Dunia melawan Jerman di Azteca Stadium di Mexico City pada 29 Juni 1986. Foto: Gary Hershorn MR/VP/REUTERS

Diego Maradona menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu (25/11) di usia 60 tahun. Sang legenda Timnas Argentina wafat karena serangan jantung di rumahnya di kawasan Tigre, Buenos Aires.

Beginilah akhir cerita Maradona. Segala prestasi dan kontroversi hidup si 'dewa' sepak bola tinggallah kenangan semata.

Walau begitu, masih ada pihak-pihak yang masih sulit menerima hal ini. Matias Morla, pengacara Maradona, menuntut kematian kliennya diselidiki karena mungkin ada kelalaian tim medis.

Namun, bagi manajer Maradona, Stefano Ceci, kematian Maradona tak cukup jika hanya diusut dari sejak hari kematiannya. Menurutnya, kematian hanyalah puncak, ujung pangkal, dari ragam masalah yang melilit hidupnya.

Diego Maradona berpulang sekaligus melepas segala luka

Legenda Argentina, Diego Maradona. Foto: ALEJANDRO PAGNI / AFP

"Ada penyelidikan atas kematian Diego dan orang-orang sekarang menunjukkan apa yang bisa dilakukan, tetapi itu adalah konsep yang harus diperluas ke seluruh hidupnya," kata Ceci di Radio Kiss Kiss, dikutip dari Football Italia.

"Diego selalu sendiri, orang-orang hanya memikirkan Maradona. Diego berhenti menjadi Diego ketika dia berusia 17 tahun. Dia sangat sulit, karena pribadinya rapuh, penuh rasa tidak aman, rendah hati, dan baik hati. Saya memiliki 20 tahun kenangan indah," lanjutnya.

Diego Maradona sudah menjadi bintang sejak muda. Pendar pria kelahiran 30 Oktober 1960 itu pertama bersinar saat membela Argentinos Juniors selama 1976-1981. Selebihnya adalah sejarah, terutama kariernya di Napoli dan untuk negaranya.

"Baru-baru ini, dia membiarkan dirinya pergi, secara fisik dan mental. Saya pikir, dia lelah dan membiarkan dirinya mati, dia tidak lagi benar-benar ingin hidup," tutur Ceci.

Warga berjalan melewati grafiti legenda sepak bola Argentina Diego Maradona, yang dibuat oleh seniman Angelo Campos di kawasan kumuh Vila Cruzeiro di Rio de Janeiro, Brasil. Foto: Pilar Olivares/Reuters
embed from external kumparan

"Kekacauan keluarga yang mengelilingi Diego berarti dia tidak pernah memiliki kedamaian sejati. Bahkan sekarang, setelah dia wafat, mereka masih saling mencabut rambut."

"Setidaknya, sekarang dia bisa bersama orang yang paling dia cintai, ibu dan ayahnya. Sekarang, Diego dalam damai," tandasnya.

Infografik Perjalanan Karier Diego Maradona. Foto: kumparan
kumparan post embed

----

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.