kumparan
18 September 2019 13:35

Atletico vs Juventus: Bentrokan di Tengah Revolusi

Juventus
Pemain-pemain Juventus, Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo, Alex Sandro, dan Danilo Luiz, jelang laga vs Atletico Madrid. Foto: AFP/Oscar Del Pozo
"Aku tidak akan menukar gelar yang sudah kumenangi dengan apa pun," kata Leonardo Bonucci dengan tegas. Di sini, pemain berumur 32 tahun itu berbicara soal Serie A dan Liga Champions. Bonucci sudah menjuarai Serie A tujuh kali tetapi selalu kalah di dua final Liga Champions.
ADVERTISEMENT
Bonucci adalah pemain Juventus. Maka, pencapaian seperti yang dia punyai itu sama sekali tidak mengherankan. Aneh, malah, seandainya dia bisa menjuarai Liga Champions sebanyak tujuh kali. Itu pasti Juventus palsu, karena Juventus yang asli adalah Juventus yang senantiasa jadi pecundang di Eropa.
Begitulah memang nasib Juventus. Namun, bukan Juventus pula namanya kalau menyerah begitu saja. Dalam sejarahnya, mereka sudah beberapa kali mengalami paceklik trofi tetapi selalu berhasil bangkit. Ada ketangguhan bernama Lo Spirito Juve yang bersemayam di DNA mereka.
Sudah 23 tahun Juventus puasa gelar Liga Champions. Dalam kurun waktu tersebut lima kali sudah mereka menjejak partai puncak, tetapi tak sekali pun mampu memetik kemenangan. Akan tetapi, mereka enggan menyerah begitu saja. Musim ini, mereka mewujudkan upaya itu dengan beragam cara.
ADVERTISEMENT
Menunjuk Maurizio Sarri adalah langkah yang paling radikal. Sejak berdiri tahun 1897, Juventus hampir tak pernah dikenal sebagai tim yang piawai memainkan sepak bola menyerang. Selama ini, termasuk sejak mulai berjaya kembali pada 2011, Juventus dikenal karena ketangguhan pertahanannya.
Maurizio Sarri
Maurizio Sarri telan kekalahan dalam laga debutnya bersama Juventus. Foto: REUTERS/Feline Lim
Kini, Juventus tak lagi puas dengan cara bermain seperti yang sudah-sudah. Mereka ingin lebih. Mereka ingin bermain seperti lawan-lawan yang selama ini menghentikan laju mereka di Eropa. Mereka ingin memainkan sepak bola ofensif yang atraktif.
Kedatangan Sarri itu dibarengi dengan masuknya sejumlah rekrutan baru. Ada yang didapat dengan harga selangit macam Matthijs de Ligt, ada pula yang dikontrak secara cuma-cuma seperti Aaron Ramsey dan Adrien Rabiot. Kemudian, ada juga Danilo Luiz yang digaet lewat barter.
ADVERTISEMENT
Dengan pelatih dan komposisi skuat baru, Juventus memasuki era baru. Akan tetapi, sampai sejauh ini, era baru Juventus itu belum berjalan sesuai harapan. Pada pertandingan melawan Napoli dan Fiorentina, ada dua masalah yang terlihat jelas di kubu Juventus.
Di laga menghadapi Napoli, Juventus sudah unggul 3-0, tetapi kemudian kolaps dan kebobolan tiga gol. Beruntung, Kalidou Koulibaly mencetak gol bunuh diri yang akhirnya memenangkan mereka.
Di situ, yang menjadi problem terbesar adalah menurunnya intensitas. Sejak babak kedua dimulai mereka mengendur. Usai mencetak gol ketiga, situasi semakin parah. Napoli pun mendapatkan momentum dan sukses memanfaatkannya.
Menurunnya intensitas itu kemudian mengekspos masalah lain berupa koordinasi lini belakang. Tampak jelas sekali bagaimana Bonucci dan De Ligt masih belum padu di sentral pertahanan. Sorotan secara khusus dialamatkan kepada De Ligt yang bersalah atas terciptanya gol Chucky Lozano.
ADVERTISEMENT
Ada penjelasan untuk itu, memang. De Ligt adalah bek muda yang baru saja didatangkan. Dia belum fasih berbahasa Italia dan harus bermain dalam tim yang tengah mengalami pergantian sistem. Selain itu, pemuda 20 tahun itu juga harus bermain di sisi kiri yang sebelumnya jarang dia tempati.
Namun, apa pun alasannya, kelemahan tetaplah kelemahan. Apa yang terjadi di laga melawan Napoli itu adalah alarm tanda bahaya bagi Juventus. Itu adalah pekerjaan rumah besar bagi Sarri, De Ligt, Bonucci, dan pemain-pemain Juventus lainnya.
Dalam pertandingan menghadapi Fiorentina, gawang Juventus memang aman dari kebobolan. Akan tetapi, Fiorentina tidak bisa disamakan dengan Napoli. Sudah begitu, dalam pertandingan tersebut satu kelemahan lain terlihat.
ADVERTISEMENT
Juventus unggul dalam penguasaan bola tetapi cuma bisa melepas 8 tembakan. Sebagai perbandingan, Fiorentina di situ mampu menghasilkan 18 tembakan. Itu artinya, permainan Juventus masih sangat jauh dari kata efektif.
Menghadapi Atletico Madrid di Estadio Metropolitano, Kamis (19/9/2019) dini hari WIB, inefektivitas itu bisa jadi masalah besar. Apalagi, dalam pertandingan nanti Juventus tidak akan diperkuat Douglas Costa, pemain yang sudah menyumbangkan 2 assist.
Atletico sendiri sebenarnya juga sedang berada di fase transisi. Mereka kehilangan banyak pilar seperti Diego Godin, Juanfran, Filipe Luis, Rodrigo Hernandez, serta Antoine Griezmann. Dengan begitu, pada bursa transfer lalu mereka harus mendatangkan banyak pemain.
Skuat yang baru ini kemudian membuat formasi Atletico berubah. Jika sebelumnya mereka hampir selalu mengandalkan pakem dasar 4-4-2, kini Los Colchoneros bermain dengan pola 4-3-1-2. Meski demikian, satu hal yang tak berubah adalah filosofi Diego Pablo Simeone.
ADVERTISEMENT
Atletico kini punya wajah baru tetapi karakter mereka tetap sama. Di setiap pertandingan mereka tetap bermain rapat dengan pertahanan blok rendah yang bakal membuat lawan mana pun frustrasi. Untuk menyerang, mereka pun masih mengandalkan umpan-umpan vertikal yang dieksekusi dengan cepat.
Lewat cara itu, Atletico sempat mampu meraih tiga kemenangan beruntun di La Liga dan memuncaki klasemen. Namun, penampilan Atletico juga belum benar-benar memuaskan. Selain cuma bisa menang dengan margin satu gol, mereka juga harus kalah 0-2 dari Real Sociedad di laga termutakhir.
Dengan demikian, pertandingan antara Atletico dan Juventus nanti adalah pertandingan dua tim yang sama-sama belum menemukan bentuk terbaik. Di situasi seperti itu, tidak akan mengejutkan jika hasil akhir bakal ditentukan oleh kemampuan individual.
ADVERTISEMENT
Joao Felix
Joao Felix merayakan gol Atletico Madrid yang dicetak Vitolo pada pertandingan La Liga 2019/20 melawan Leganes. Foto: AFP/Benjamin Cremel
Musim lalu, Atletico dan Juventus sudah bertemu di babak 16 besar Liga Champions. Ketika itu pun Juventus berhasil lolos berkat aksi individual brilian Cristiano Ronaldo di leg kedua. Di kesempatan kali ini, Ronaldo bukan satu-satunya pemain yang berpotensi 'meledak'.
Selain Ronaldo, ada pula Joao Felix dari kubu Atletico Madrid. Pada laga International Champions Cup di Stockholm awal Agustus silam pemain asal Portugal ini sudah mampu membawa Atletico menang atas Juventus. Laga itu bisa jadi gambaran betapa krusialnya efektivitas dan kemampuan individual.
Soal statistik umum, Juventus unggul jauh atas Atletico dalam pertandingan itu. Mereka punya persentase penguasaan bola 60 persen dan mampu melepas 27 tembakan. Sebaliknya, Atletico cuma bisa mencatatkan 11 upaya mencetak gol. Namun, hasil akhir nyatanya memihak Atletico.
ADVERTISEMENT
Peluang Atletico pun semakin besar di pertandingan Grup D nanti karena ada dua faktor nonteknis yang kian menguntungkan mereka. Yakni, semangat balas dendam dan dukungan suporter di Estadio Metropolitano. Sebagai catatan, musim lalu Atletico berhasil mengalahkan Juventus di stadion tersebut.
Oleh karena itu, pada pertandingan nanti Atletico masih layak untuk lebih diunggulkan dari Juventus. Mereka memiliki modal yang lebih bagus di segala bidang. Namun, sekali lagi, bukan Juventus namanya kalau menyerah begitu saja.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan