kumparan
29 Januari 2020 18:39

Benarkah Liga Indonesia Lima Kali Lipat Lebih Mahal dari Liga Inggris?

Roberto Firmino
Roberto Firmino (kiri) merayakan gol pada pertandingan Liverpool vs Wolves. Foto: Reuters/Carl Recine
Pemecatan Helmy Yahya sebagai Direktur Utama TVRI berbuntut panjang. Persoalan ini ramai diperbincangkan publik. Terlebih, setelah Helmy menyinggung perbandingan harga siaran Liga Indonesia dan Liga Inggris.
Perbandingan harga tersebut menjadi salah satu poin penting dari pemecatan Helmy. Dewan Pengawas TVRI berargumen bahwa pengeluaran untuk menayangkan Liga Inggris di luar kewajaran. Namun, Helmy berkilah bahwa Liga Inggris jauh lebih murah lima kali lipat ketimbang Liga Indonesia (dalam hal ini, Liga 1).
“Kalau ada yang bertanya kenapa tidak beli Liga Indonesia? Liga Indonesia harganya empat kali lipat, lima kali lipat dari Liga Inggris. Saya katakan rezeki anak saleh mendapatkan kepercayaan menayangkan Liga Inggris dengan harga yang sangat murah. Saya buka saja, harganya cuma 3 juta dolar Amerika. Sebanyak US$1 juta itu komitmen diambil iklannya. Jadi, kami hanya bayar US$2 juta (sekitar Rp27 miliar). Kami hitung-hitung per episode atau per jamnya hanya Rp130 juta,” kata Helmy dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) di ruang rapat Komisi I DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1).
Benarkah harga tayangan Liga Inggris lebih murah dari Liga Indonesia? kumparanBOLA mendapatkan konfirmasi dari dua pihak: PT Liga Indonesia Baru, selaku pengelola kompetisi Liga Indonesia, dan Reva Dedy Utama, seorang pakar pertelevisian yang pernah ikut mendirikan ANTV.
Menurut Reva, harga hak siar Liga Inggris tetap lebih mahal daripada Liga Indonesia. Secara head-to-head per musim, menurut Reva, harga penayangan Liga Inggris untuk wilayah Indonesia mencapai US$40 juta (sekitar Rp545 miliar) untuk 380 laga. Sedangkan Liga 1 (kompetisi level teratas Liga Indonesia) hanya di angka US$13 juta (Rp177 milar) untuk 306 pertandingan.
PTR, Bali United, Penganugerahan Juara Liga 1
Perayaan gelar juara Bali United di Liga 1 2019. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
“Dalam kasus TVRI, hitungan Liga Inggris bisa lebih murah karena mereka beli ke Mola TV. Hanya satu pertandingan sepekan dan hanya satu rights free to air (FTA). Itu pun bukan laga yang super big match. Mungkin jenis rights-nya sekali tayang alias tidak boleh rerun.”
“Bisa jadi juga dapat harga diskon karena Mola TV mungkin butuh TVRI agar terhindar dari gosip monopoli. Itu suka dipermasalahkan. Padahal, tidak ada kaitannya soal monopoli itu dalam jual-beli program TV. Jadi, Liga Inggris hitungannya paling mahal,” tutur Reva.
Menyebut bahwa harga tayangan liga lokal mahal juga tidak salah. Pasalnya, Liga 1 lebih mahal ketimbang Bundesliga Jerman. Reva membeberkan bahwa harga Bundesliga "cuma" US$3,5 juta atau setara Rp47 miliar.
Di luar liga-liga tersebut, harga penayangan Piala Dunia 2022 memimpin. Piala Dunia 2022 mencapai US$80 juta (sekitar Rp1 triliun) untuk 65 laga dengan paket Piala Konfederasi, Piala Dunia U-17, dan Piala Dunia U-20 (putra serta putri).
“Harganya sudah gila. Tidak tahu, deh, apakah TV sanggup beli. Namun, jangan khawatir, pasti ada yang beli. Setidaknya beli dengan sistem ketengan,” ujar Reva.
Terlepas dari polemik harga penayangan Liga 1 dan Liga Inggris, pernyataan Helmy tidak salah. Ada beberapa kondisi yang membuat pengeluaran TVRI untuk menayangkan Liga Inggris lebih murah ketimbang membayar untuk menayangkan Liga Indonesia. Harga yang didapat TVRI bukanlah angka asli karena membeli dari Mola TV.
Bila mau memukul rata harga per musim dibagi jumlah pertandingan, Liga Inggris tetap jauh lebih mahal ketimbang Liga 1.
Perinciannya, Rp545 miliar dibagi 380 laga Liga Inggris berarti per pertandingan harganya berkisar Rp1,5 miliar. Sedangkan Liga 1 harganya sekitar Rp578 juta per laga, menilik hitungan Rp177 miliar dibagi 306 pertandingan.