Kumparan Logo

Berjumpa Syarif Alwi, Berbicara soal Pola Hidup Timnas U-22 di Kamboja

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Nama Syarif Alwi mungkin masih asing di telinga pecinta sepak bola Indonesia. Masuk ke Timnas Indonesia sekitar 2012, Papi--begitu ia biasa dipanggil--menjadi penanggungjawab fisik serta kondisi para pemain.

Tak sulit untuk melakukan sesi wawancara dengan Papi. Pria bertubuh gempal dengan kumis lebat itu memang terkenal ramah di kalangan jurnalis.

Pertemuan perdana kami terjadi di Hotel Sultan, Jakarta, beberapa pekan lalu. Saat itu, untuk pertama kalinya, saya dan Papi berjabat tangan dan beliau menerima dengan hangat.

Papi dan seluruh staf tengah melakukan persiapan untuk ajang Piala AFF U-22 di Kamboja. Saya dan fotografer pun janjian untuk melakukan sesi wawancara setibanya di Kamboja nanti.

Saat sampai di Kamboja, saya mengingatkan Papi akan sesi wawancara. Melalui pesan singkat, kami janjian keesokan harinya di hotel tempat Timnas U-22 menginap.

Selebrasi gol Rachmat Irianto (kanan) setalah berhasil menyamakan kedudukan 1-1 saat melawan timnas Myanmar pada babak pertama di AFF u22 di Kamboja. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Besoknya, Senin (18/2/2019), kami datang 30 menit sebelum jadwal wawancara. Sengaja memang, karena kami juga ingin melakukan wawancara dengan beberapa pemain sebelum pertandingan melawan Myanmar.

Namun, tak butuh waktu lama untuk kami menunggu sesi wawancara dengan Papi. Keluar dari restoran hotel, Papi langsung menyapa kami dan mencarikan tempat nyaman untuk berbincang tanpa gangguan.

Papi terlihat segar pagi itu, maklum ia baru saja selesai lari pagi bersama pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri. Dengan topi dan kacamata khasnya, Papi menjawab serius pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan. Banyak hal yang kami tanyakan perihal kondisi pemain dan menu makanan Timnas U-22.

Untuk itu, simak wawancara kumparanBOLA dengan dokter Timnas U-22, Syarif Alwi, berikut ini.

Dokter Timnas Indonesia Syarif Alwi Foto: Alan Kusuma/kumparan

Bagaimana kondisi pemain saat ini?

Alhamdulillah, kondisi pemain sampai saat ini dalam keadaan siap untuk menghadapi Piala AFF.

Bagaimana mengantisipasi cuaca panas di Kamboja?

Dari segi fisik, tentu sejak awal kami sudah kasih tahu. Mereka harus jaga minum, jaga cairan, untuk menjaga keseimbangan cairan.

Dengan jadwal pertandingan yang mepet, bagaimana menjaga kondisi fisik?

Tentu mereka harus maksimalkan waktu istirahat, maksimalkan waktu untuk fisioterapi maintenance, kemudian recovery otot dan persendian. Jadi apapun yang kami berikan yang paling penting dari itu semuanya dan tidak bisa diganti oleh apapun, yaitu istirahat yang cukup. Kalau tidak perlu sama sekali, tidak usah jalan-jalan.

Ada batasan untuk jam tidur?

Mereka ini pemain profesional, harusnya mereka sudah tahu bahwa sebagai seorang pemain bola mereka harus tidur yang cukup paling kurang 7-8 jam. Jadi, kami harapkan mereka kalau tahu latihan pagi, misalnya latihan jam 7 pagi, mereka harus sarapan jam 6, maka mereka harus tidur paling lambat sekali jam 10 malam.

Mereka harus sudah matikan handphone, matikan lampu kamar semuanya, tidak ada bunyi bunyian lagi. Tapi, kami tetap harus diingatkan kembali terus-menerus sebab sifat manusia 'kan pelupa apalagi mereka masih muda mereka masih mau dengar musik, tetap kami ingatkan.

Suasana latihan para pemain Timnas Indonesia U22 di lapangan AUPP Sport Club di Phnom Penh, Kamboja, pada gelaran pertandingan AFF 2019. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Saat awal pemusatan latihan, beberapa pemain kelebihan berat badan, bagaimana menanganinya?

Kami buatkan mereka program diet, kami jelaskan kepada mereka bahwa berat badan bisa berlebihan itu kalau antara body mass index dan output tidak seimbang apabila umpamanya index 3.000 kalori, sementara output-nya 2.000, maka 1.000 tertimbun terus-menerus. Tertimbun ini berlebihan, maka mereka harus tahu.

Apa jenis makanan yang bisa menyebabkan kalori kosong? Atau memiliki kalori tinggi tapi tak bertenaga? Contohnya, makan yang manis manis dan lain-lain itu, yang kalau bisa mereka harus kurangi.

Kalau mereka mau makan yang manis, kalau bisa yang manis-manis jambu, manis yang sedikit saja kadar gulanya. Kue pun kami larang. Jangan makan kue yang terlalu manis, kue boleh tapi yang tidak terlalu manis.

Pemain yang kelebihan berat dua sampai tiga kilogram alhamdulillah selama pemusatan latihan mereka kembali normal dan kami akan kontrol berat badan mereka setelah Piala AFF. Kami akan timbang lagi, kami harus pertahankan tidak boleh satu kilogram pun lebih.

Bagaimana adaptasi pemain dengan makanan di Kamboja?

Kondisi masakan di sini hampir sama, bagus lah, tidak menjadi masalah. Bukan jadi handicap (kekurangan).

Timnas U-22 sebenarnya punya koki khusus atau tidak?

Tidak ada.

Apakah minta menu khusus ke pihak hotel?

Di sini, saya pikir sudah terbiasa menangani tim-tim sepak bola, sehingga tim yang tinggal di hotel ini, mereka sudah tahu makanan apa yang harus dimakan oleh seorang pemain sepak bola.

Dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dengan jadwal padat, apakah ada pantangan untuk makanan?

Pantanganya makanan yang terlalu banyak minyak, terutama goreng-gorengan dan pedas, kami harus jauhi. Karena sudah banyak kasus anak-anak coba bandel makan pedas tiba-tiba pas latihan perutnya sakit, sesak nafas, padahal asam lambungnya naik, jadi memang perlu ingatkan anak-anak kita sebab mereka masih panjang kariernya. Mereka harus berpikir cerdas bagaimana harus menjadi pemain bola yang profesional.

Apakah ada makanan yang harus dikonsumsi sebelum pertandingan?

Yang paling penting, khusus jelang pertandingan, mereka harus memberi asupan kepada otot yang cukup itu melalui karbohidrat kompleks. Dia harus makan karbo yang kompleks, supaya cadangan cairan pada otot cukup sehingga mereka nantinya bertenaga.

Jauhi makan daging terlalu banyak, anak-anak kita berpikir kalau makan daging banyak bisa menjadi lebih kuat padahal harusnya secukupnya saja. Kalau mereka makan daging banyak apalagi udara panas begini, daging itu 'kan proses metabolismenya butuh cairan lebih banyak, kalau cairan lebih banyak nanti diserap dari cairan yang mereka minum untuk memetabolisme daging, sehingga pemain kita jadi cepat haus, banyak kencing karena sisa hasil metabolisme daging itu dikeluarkan melalui urine.

Kalau dia banyak kencing, merasa haus, akhirnya dia lemas dan panas tubuhnya meningkat karena banyak cairan yang digunakan untuk metabolisme daging itu.

Pemain Timnas Indonesia menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebelum bertanding melawan Myanmar di AFF U-22, Kamboja, Senin, (18/2). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Bagaimana dengan sesudah pertandingan?

Setelah pertandingan, mereka harus recovery cepat, mereka harus makan pasta, spaghetti, buah-buahan, makan buah yang banyak untuk mengganti energi, lalu nasi merah. Kalau mereka mau makan protein saya anjurkan ikan atau daging ayam yang di-steam jangan makan pedas.

Sebelum makan, saya anjurkan harus makan buah dulu, tidak boleh tidak. Jadi mereka makan buah dulu baru ambil lauknya, ambil buah dulu baru makanan yang lain. Itu yang kami harapkan dari anak-anak kita.