Berkat Chris Wilder, Sheffield Menjadi 'United' Terbaik di Inggris

24 Oktober 2019 14:26 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Chris Wilder, manajer Sheffield United. Foto: REUTERS/Andrew Yates
zoom-in-whitePerbesar
Chris Wilder, manajer Sheffield United. Foto: REUTERS/Andrew Yates
ADVERTISEMENT
Pada suatu hari di tahun 2012, Sam Allardyce berkelakar bahwa dia bisa melatih tim Liga Champions jika nama belakangnya adalah 'Allardici'. Beberapa tahun kemudian, tepatnya April lalu, Collin Murray mengulang guyonan ini pada malam penghargaan EFL.
ADVERTISEMENT
Murray bukan pelatih atau pun pemain -- dia presenter. Di depannya berdiri Chris Wilder, yang meraih titel Pelatih Terbaik EFL 2018/19. Murray berujar, Wilder harusnya melatih Paris Saint-Germain (PSG) jika nama belakangnya lebih sophisticated.
Di atas panggung itu, ada juga Billy Sharp. Dialah kapten Sheffield United, tim yang dilatih Wilder. Di mata Sharp, Wilder merupakan faktor utama yang membikin tim berjuluk The Blades itu mengalami kemajuan pesat dalam tiga musim terakhir.
"Semoga saja, kami bisa promosi [ke Premier League] sebelum dia [Wilder] pindah ke PSG," kelakar Sharp.
Berharap Wilder melatih tim macam PSG, setidaknya hingga saat ini, jelas seperti berharap manusia bisa mencapai bulan dengan menaiki tangga. Tetapi, dari penuturan-penuturan orang-orang di sekitarnya, terlihat jelas bahwa Wilder bukan pelatih sembarangan.
ADVERTISEMENT
Sheffield United, peserta baru Premier League 2019/20. Foto: Action Images via Reuters/Lee Smith
Wilder datang melatih klub idola masa kecilnya ini pada musim panas 2016. Akhir musim 2016/17, Sheffield diizinkan promosi ke Championship karena berada di posisi pertama. Pada musim berikutnya, mereka sanggup mengakhiri musim di peringkat ke-10.
Harapan Sharp lantas menjadi kenyataan. Sheffield finis di peringkat kedua dengan 89 poin, atau tertinggal 5 poin dari Norwich City. Musim ini, Sheffield menjadi 'United' terbaik di Premier League dan buktinya jelas terlihat di papan peringkat.
Sheffield berada di posisi ke-9 dengan 12 poin. Sementara, 'United' yang lebih tajir, lebih kaya pula secara trofi, Manchester United, berada di posisi ke-14 dengan 10 poin. Untuk 'United' yang lain, Newcastle United, kini di zona degradasi dengan 8 poin.
ADVERTISEMENT
West Ham? Yah, lebih mending: Posisi ke-11. Tapi, tetap saja masih di bawah Sheffield.
***
Sejak karier kepelatihannya bermula 18 tahun silam, reputasi Wilder terus meningkat. Pada tahun pertamanya, sosok yang memiliki tato Sheffield di dadanya ini melatih Alfreton Town dan dalam 27 minggu tim asal Derbyshire itu menjuarai empat titel.
Pada musim panas 2002, Wilder pindah ke Halifax Town, lalu ke Oxford United pada Desember 2008. Pada Januari 2014, Wilder pindah ke Northampton Town dan baru pada Mei 2016 dia resmi menyandang status sebagai pelatih Sheffield.
Seperti Alfreton, klub-klub tersebut mengingat Wilder sebagai pelatih yang terobsesi untuk berkompetisi dan memiliki standar tinggi. Beruntungnya, sosok berusia 52 tahun itu juga bagus dalam urusan manajemen tim.
ADVERTISEMENT
"Dia itu manajer secara alamiah," jelas Alan Knill kepada The Guardian. Knill merupakan sosok yang sudah kenal Wilder sejak lama. Sekarang pun dia menjadi asisten Wilder di Sheffield.
Aksi Chris Wilder usai pertandingan Sheffield United versus Liverpool. Foto: Action Images via Reuters/Carl Recine
"Di pikirannya hanya ada keinginan untuk mengatur segala hal. Jika dia melihat ada kursi dan meja berantakan di suatu ruangan, dia akan mengaturnya supaya rapi. Sebesar itu rasa cintanya terhadap segala hal yang berkaitan dengan mengatur," lanjutnya.
Semangat Wilder ini pada akhirnya berhasil ditransfer ke para pemain Sheffield. Sehingga, tim yang terbentuk pada 1889 itu memiliki daya juang tinggi.
"Semua orang di ruang ganti kami percaya bahwa kami selalu bisa lebih baik dari musim-musim sebelumnya. Semua ini karena sang pelatih [Wilder]. Sejak dia datang pada 2016, dia terus mendorong kami untuk mencapai potensi terbaik," jelas Sharp.
ADVERTISEMENT
Namun, Wilder tak hanya bermodalkan man-management saja sebagai pelatih. Dalam urusan taktik, dia tak kalah cemerlang.
Biasanya, pemain bertahan yang turut menyerang dalam skema open play adalah yang berada di posisi full-back. Mereka bisa mengancam lawan dengan melakukan overlapping. Namun, di Sheffield, bahkan bek tengah pun dapat terlibat dalam proses gol.
Gol Lys Mousset ke gawang Arsenal. Foto: Reuters/Carl Recine
Sheffield sendiri tampil dengan pakem 3-5-2. Nah, dalam formasi ini, para pemain membentuk empat segitiga tak kasat mata.
Segitiga pertama dibangun bek, wing-back, dan gelandang yang condong di kanan. Segitiga kedua dibentuk wing-back, gelandang, striker yang juga di kanan. Sementara, dua segitiga lain merupakan tiruan dari dua segitiga sebelumnya, tetapi diterapkan di kiri.
Segitiga-segitiga ini dibangun sebagai acuan para pemain Sheffield ketika ingin bertukar posisi. Ketika bek maju ke posisi wing-back, misalnya, wing-back harus langsung mundur ke posisi bek tengah.
ADVERTISEMENT
Demi menjamin keberhasilan taktik ini, dua segitiga di sisi kiri dan kanan harus bergerak dengan irama yang sama. Kemudian satu gelandang bertahan dan satu bek di tengah menjamin agar jarak antara keempat segitiga ini tak begitu jauh.
Hasilnya, Sheffield aman saat diserang. Sementara, kala harus menyerang, kualitas umpan lambung --yang menjadi senjata utama mereka pada musim ini-- pun tetap terjaga.
Pemain-pemain Sheffield United merayakan gol Lys Mousset ke gawang Arsenal. Foto: Reuters/Andrew Yates
Maka, jangan heran jika saat menang 1-0 atas Arsenal pada Selasa (22/10) silam, sang bek, Jack O'Connell, membukukan assist. Kala mengalahkan Everton 2-0, gol terakhir Sheffield juga diciptakan seorang bek, John Lundstram, lewat skema serangan balik.
Bukti lain, hanya ada 3 laga dalam seluruh ajang di mana Sheffield gagal mencetak gol. Sementara, di Premier League, mereka hanya kebobolan 7 gol --hanya Liverpool yang bisa menyamai catatan ini sepanjang musim ini bergulir.
ADVERTISEMENT
***
Sheffield sendiri ditemani dua tim lain saat promosi ke Premier League musim ini. Namun, jika dibandingkan Aston Villa dan Norwich City, jelas Sheffield yang paling berpendar.
Dengan daya juang tinggi dan taktik brilian yang berhasil disisipkan Wilder ke benak para pemainnya, bukannya tak mungkin Sheffield bakal mengakhiri musim ini di posisi 10 besar.
Mungkin, jika musim berikutnya Wilder bisa membawa Sheffield terbang lebih tinggi, PSG bakal mengetuk pintunya. Siapa tahu?