Bruno Matos: Jeblok di Persija, Sangar di Bhayangkara

Ketimbang pemain Persija Jakarta lain, Bruno Matos punya penampilan paling mencolok. Rambutnya dicat pirang dengan headband berwarna hitam melingkar di dahi. Tubuhnya juga lumayan tinggi, 182 cm.
Walau demikian, orang-orang justru lebih aware terhadap hal lain. Matos dinilai sebagai pemain yang egois. Itulah yang kemudian menyemat di belakang namanya selama membela Persija: Matos si pemain egois.
Julukan tersebut muncul, ya, karena ia memang terlihat egois. Simak saja saat melawan Persib Bandung pada putaran pertama lalu. Saat itu, ada lima kesempatan mencetak gol yang Matos dapat.
Salah satunya bahkan merupakan peluang terbuka di mana ia sudah berhadapan satu lawan satu dengan Deden Natsir, kiper Persib. Sayangnya, Matos terlalu memaksakan diri sehingga sepakannya tak berujung gol, sebagaimana empat peluang lain yang juga ia peroleh.
Hal tersebut kian terlihat buruk karena sebetulnya, Matos bisa saja memberi umpan kepada pemain lain yang jauh lebih memungkinkan untuk mencetak gol.
Namun, hal tersebut tak ia lakukan. Matos memilih untuk menyelesaikannya sendiri dan perkara inilah yang sempat membuatnya terlibat cekcok dengan Marko Simic.
Omong-omong, kedua pemain ini memang tak terlihat cocok dimainkan bersama. Buktinya adalah performa keduanya saat salah satu di antara mereka absen.
Di AFC Cup, misalnya, Matos mampu mencetak tujuh gol dari enam laga ketika Simic terpaksa menepi karena tengah tertimpa masalah di Australia. Sebaliknya, Simic yang sempat jeblok tiba-tiba kembali tajam saat Matos diparkir di bangku cadangan.
Lantas, mengapa hal ini terjadi?
Bila dilihat lebih jauh, ketidakcocokan keduanya ini bermula karena mereka sama-sama pemain bertipe finisher meski dengan gaya bermain berbeda. Simic seorang penyerang nomor sembilan klasik, sedangkan Matos merupakan penyerang yang gemar menciptakan peluang bagi dirinya sendiri.
Apapun itu, yang jelas, mereka adalah seorang pencetak gol. Aspek ini bahkan sudah menonjol dalam diri Matos sejak membela PKNS FC di Liga Malaysia selama setengah musim. Dalam delapan laga, ia mampu mencetak tujuh gol tanpa satu pun assist.
Maka saat pelatih Persija saat itu, Julio Banuelos, memberinya peran sebagai seorang kreator dari lini tengah, yang terjadi tidak berjalan semestinya. Matos cuma bikin dua assist tanpa mencetak gol. Pada akhirnya ia dilepas menuju Bhayangkara FC.
Di Bhayangkara, Matos mendapat peran yang memang sesuai dengan keinginannya. Dalam skema 4-3-3 Paul Munster, Matos benar-benar ditempatkan di pos penyerang tengah. Hal ini membuat Matos lebih sering berada dekat dengan gawang.
Apakah ia masih egois? Tentu. Itu sudah melekat dalam diri Matos. Yang membedakan, sifat egoisnya kali ini lebih termaksimalkan. Ia tak mesti lagi memaksakan diri meliuk-liuk dari lini tengah karena ia adalah sosok terdepan dalam permainan Bhayangkara FC.
Hal tersebut kemudian membuat ketajaman Matos kembali. Dari delapan kesempatan tampil, ia mampu mencetak empat gol. Status Matos sebagai pemain egois pun pada akhirnya tak lagi bermakna negatif.
Terlebih, keberadaannya berperan penting terhadap capaian Bhayangkara FC yang cuma sekali kalah dalam delapan laga terakhir.
