Kumparan Logo

Cerita Gila MU & Man City: Hampir Merger Menjadi Satu Kekuatan Super

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Manchester United Cristiano Ronaldo berebut bola dengan pemain Manchester City Kyle Walker pada pertandingan Liga Inggris di Old Trafford, Manchester, Inggris. Foto: Craig Brough/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Manchester United Cristiano Ronaldo berebut bola dengan pemain Manchester City Kyle Walker pada pertandingan Liga Inggris di Old Trafford, Manchester, Inggris. Foto: Craig Brough/REUTERS

Manchester United (MU) dan Manchester City saat ini adalah kekuatan besar yang dimiliki kota Manchester yang kerap kali berseteru dalam persaingan di Liga Inggris. Tensi panas menjadi hal lumrah setiap kedua tim tersebut bertemu.

Namun, di balik rivalitas tersebut, The Red Devils dan The Citizens hampir saja merger menjadi satu klub berkekuatan super. Diwartakan Daily Star, hal itu terjadi pada tahun 1964. Orang yang pertama mengusulkan rencana itu adalah Vice-Chairman Man City, Frank Johnson.

Hal Itu diusulkan tak lepas dari kondisi Man City yang masih berstatus tim gurem. Pada tahun 1964, mereka hanyalah tim divisi kedua, tak superior seperti sekarang ini. Di sisi lain, Manchester United baru saja menyelesaikan musim sebagai runner-up di kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Menyusul itu, Johnson mencanangkan ide gila agar Man City bergabung dengan MU dan membentuk sebuah satu klub berkekuatan hebat di kota Manchester.

Bahkan, rencana tersebut telah dibahas secara matang-matang lebih dari satu kesempatan. Namun, pada akhirnya penyatuan dua klub tersebut batal terlaksana. Dilaporkan bahwa saat itu Manchester City menolak beberapa poin pertimbangan yang diajukan pihak ‘Setan Merah’.

Pertandingan antara Manchester United vs Manchester City di Old Trafford, Manchester, Inggris. Foto: Peter Powell/Reuters

“Ide itu dibunuh oleh kedua klub sebelum dipublikasikan,” ucap sejarawan sepak bola, Gary James dalam sebuah wawancara bersama Manchester Evening News.

“Saya berbicara dengan Eric Alexander yang ayahnya Albert adalah ketua [Man City] pada saat itu, dan dia mengatakan Frank Johnson, yang datang dengan ide itu, memang sering melontarkan ide-ide gila,” imbuhnya.

Gary juga menuturkan bahwa City pada musim 1964 berada dalam titik terendah dalam sejarah mereka. Namun, bukanlah dalam hal peringkat di liga, melainkan mengenai hal moral, atmosfer, dan dukungan dari suporter.

“Di akhir tahun 90-an, kami masih memiliki lebih dari 30.000 penonton, dan itu berarti klub masih memiliki profil tinggi. Pada tahun 1964-65 kami berada di divisi kedua, dukungan telah turun hingga kurang dari 15.000, dan minat umum pada klub juga turun,” ujar Gary.

“Saya selalu percaya pada tahun 90-an bahwa City akan kembali, karena kekuatan dukungan, tetapi pada tahun 60-an banyak orang tidak merasa seperti itu,” sambungnya.

Pemain Manchester City Ilkay Gundogan berusaha melewati hadangan pemain Manchester United Bruno Fernandes pada pertandingan lanjutan Premier League di Etihad Stadium, Manchester, Inggris. Foto: Laurence Griffiths/Pool/REUTERS

Terlepas dari batalnya merger dua klub tersebut, baik MU dan Man City kini bersaing di kasta tertinggi sepak bola ‘Negeri Ratu Elizabeth II’. Jika berkaca dalam lima musim ke belakang, The Citizens boleh jemawa dengan mengungguli sang rival dalam hal perolehan gelar. Tercatat, Man City berhasil merengkuh tiga gelar juara Liga Inggris, sementara MU nihil gelar liga.

Namun, jika merujuk kepada sejarah, Manchester United masih terlampau jauh mengungguli Man City. Klub yang bermarkas di Old Trafford ini adalah pemegang gelar terbanyak liga dengan koleksi 20, sementara Man City baru meraih tujuh gelar.

Tak hanya di kancah domestik, di pentas Eropa pun, The Red Devils juga unggul ketimbang Man City. Di ajang Liga Champions, MU sukses meraih tiga gelar, sedangkan Man City belum sekalipun menjadi juara.