Deretan Desertir di Antara Persija dan Persib

Lembaran tentang persaingan Persija Jakarta dan Persib Bandung tidak bisa dilepaskan dari sosok Atep Rizal. Dia sempat bersinar dengan tim Ibu Kota sebelum akhirnya menjadi kapten dan menyumbangkan gelar juara untuk Persib.
Bahkan, aroma duel bertajuk El Clasico itu menjalar ke kehidupan pribadi Atep. Ya, Lilis Yamaini yang notabene istrinya merupakan suporter Persija dan orang asli Jakarta. Karena Atep pindah klub, dia menanggalkan oranye demi biru.
Selain Atep, ada sejumlah pemain yang pernah berseragam Persija dan Persib selama kariernya. Bahkan, bila dikumpulkan, mereka bisa membentuk satu tim.
Siapa saja mereka? Berikut hasil rangkuman kumparan (kumparan.com):
Jendri Pitoy (Kiper)
Berkat kesukesannya membawa Persipura Jayapura merebut dua gelar juara liga dan rekam jejaknya di Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Jendri Pitoy ditarik oleh Persija Jakarta pada Februari 2011.
Perekrutan Jendri merupakan antisipasi Rahmad Darmad Darmawan, pelatih saat itu, terhadap pemanggilan Andritany Ardhiyasa untuk latihan jangka panjang Timnas U-23. Berkat kehadirannya, pos bawah mistar Persija sekaligus bertabur nama besar karena sudah ada Hendro Kartiko sebelumnya.
Jendri mampu mengantarkan Persija finis di posisi ketiga pada musim 2010/11. Namun, lantaran penunggakan gaji, dia dan sejumlah pemain bintang lain memutuskan hengkang ke Persib Bandung setelah kompetisi rampung.
Maman Abdurrahman (Belakang)
Persib Bandung menjadi bagian karier Maman Abdurrahman sejak 2008 hingga 2013. Bersama 'Maung Bandung' pula, dia merasakan betapa panas rivalitas dengan Persija Jakarta. Bahkan, sebuah gol Maman sempat mewarnai duel kedua tim pada 2012.
Setelah sempat singgah di Sriwijaya FC dan Persita Tangerang, Maman menyeberang ke Persija pada 2016. 'Macan Kemayoran' kembali melambungkan namanya. Sampai sekarang, bek 35 tahun ini masih menjadi pilihan utama di lini belakang.
Abanda Herman (Belakang)
Abanda Herman merupakan sosok sentral di lini pertahanan Persija dari 2006 sampai 2010. Baihakki Khaizan dari Timnas Singapura kerap menjadi duetnya.
Ketika dualisme kompetisi pada musim 2010/11, Abanda memutuskan hijrah ke Persema Malang yang tampil di Liga Premier Indonesia. Hanya setengah musim di sana, dia menyeberang ke Persib.
Charis Yulianto (Belakang)
Charis Yulianto adalah satu dari sedikit pemain yang menyeberang langsung dari Persija ke Persib. Namun, capaian jomplang mewarnai kariernya di kedua klub.
Pada musim 2004/05, Charis mengantarkan Persija ke final Copa Dji Sam Soe. Hijrah ke Persib musim sebelumnya, dia malah gagal tampil impresif dan 'Maung Bandung' hampir terdegradasi.

Muhammad Ilham (Tengah)
September 2017, Muhammad Ilham mengambil keputusan tidak populer dengan pindah dari Persija ke Persib. Keputusan ini sekaligus menggerus performanya.
Bersama Persib, Ilham hanya bertahan satu tahun dan menjalani 30 pertandingan. Bandingkan dengan pengabdian empat tahunnya dengan Persija yang dihiasi 99 laga.
Robertino Pugliara (Tengah)
Pamor Robertino Pugliara melambung setelah bergabung dengan Persija dalam dua periode: 2007-2009 dan 2011-2013. Baru ketika Persib menjalani Indonesia Soccer Championship 2016, Pugliara bergabung. Dia tampil cukup menonjol dengan catatan dua gol ke gawang Mitra Kukar dan PSM Makassar.
Firman Utina (Tengah)
Firman Utina membela Persija pada musim 2009/10. Performanya tidak begitu menonjol sehingga manajemen melepasnya pada akhir musim.
Baru saat membela Sriwijaya FC dan Persib Bandung, nama Firman menanjak. Bersama Persib, dia merengkuh gelar juara Indonesia Super League 2014 dan Piala Presiden 2015.
Lorenzo Cabanas (Tengah)
Di Persija, penampilan Lorenzo Cabanas tidaklah buruk. Bahkan, dia mengantarkan timnya ke final Liga Indonesia dan Copa Indonesia pada 2005, tetapi gagal keluar sebagai juara.
Kemudian, setelah sempat singgah di Persiba Balikpapan, Cabanas berlabuh di Persib Bandung pada 2007. Dua musim di 'Kota Kembang' merupakan momen indah untuknya. Dia dielu-elukan Bobotoh karena dianggap membentuk duet maut dengan Eka Ramdani.
Atep (Tengah)
Atep sudah tampil impresif sejak membela Persija pada 2004-2008. Hal itu mengantarkannya ke Timnas Indonesia dan mengundang ketertarikan dari klub-klub besar, salah satunya Persib Bandung.
Bersama Persib, pemain kelahiran Cianjur ini mengambil peran begitu penting, bahkan sampai menjadi kapten. Dengan jabatan kapten pula, dia mengangkat trofi ISL 2014 bersama Firman Utina.

Budi Sudarsono (Depan)
Budi Sudarsono membela Persija dalam dua periode, 2001-2002 dan 2003-2004. Kurun itu, dia membawa Persija sering memenangi laga melawan Persib. Dengan bantuan Budi pula, tim Ibu Kota merebut gelar juara liga pada 2001.
Pindah ke Persib pada 2009, performa Budi kurang mengilap. Tak heran, manajemen melepasnya ke Sriwijaya FC.
Aliyudin (Depan)
Betapa mengerikan lini depan Persija ketika Aliyudin, Bambang Pamungkas, dan Greg Nwokolo membentuk trisula. Maka itu, Jakmania memuja ketiganya.
Masalah gaji, seperti halnya Jendri Pitoy, membuat Aliyudin hijrah ke Persib pada akhir musim 2011/12. Di Persib, kiprahnya kurang apik, hanya mencetak 2 gol dari 27 penampilan.
Iurie Arcan (Pelatih)
Persija merupakan destinasi pertama Iurie Arcan saat baru tiba di Indonesia pada 2005. Dia langsung membawa Persija menembus final Liga Indonesia dan Copa Indonesia.
Berkat tangan dinginnya di Jakarta, pelatih Moldova ini ditarik Persib Bandung pada 2007. Tak sampai satu tahun, dia mengundurkan diri karena performa minor tim.

