Di Sevilla, Samir Nasri Pernah Menjadi Dewa

Keputusan Samir Nasri untuk bergabung dengan Sevilla pada 2016 tidak berasal dari cita-cita luhur. Ia menginginkan sepak bola yang tidak ruwet.
Sepak bola jenis itu memberikannya lampu hijau untuk bertingkah semaunya dalam lima hari, lalu tampil spesial di akhir pekan. Keinginan tersebut persis seperti tawaran pelatih Sevilla saat itu, Jorge Sampaoli.
“Kamu boleh mabuk-mabukan atau clubbing. Kamu boleh melakukan apa pun yang kau mau dan saya akan tetap melindungimu di depan klub. Saya cuma butuh kamu tampil hebat di akhir pekan.”
Perkataan Sampaoli itu ibarat godaan bersenang-senang yang tidak bisa ditolak Nasri. Bukan karena ia merasa tidak enak, tetapi karena ia yakin, tak ada satu manusia pun di dunia ini yang mampu memberikannya kebebasan dan sepak bola dalam porsi yang sama.
Pep Guardiola? Ah, si botak perfeksionis itu mana mungkin mau bersikap luwes. Kakunya minta ampun.
Ia bisa mengamuk hanya karena tim meraih kemenangan dengan cara yang tidak sesuai dengan gayanya. Ia bahkan bisa tidak tidur karena timnya menang 5-1, bukannya 5-0.
Guardiola datang ke Manchester City jelang musim 2016/17. Pelatih Catalunya ini langsung bertindak sat-set-sat-set di awal kepemimpinannya. Ia memerintahkan Nasri untuk mengurangi berat badan dengan berlatih secara terpisah pada pramusim.
Orang baru sudah petentang-petenteng! Barangkali kekesalan Nasri yang seperti ini bercampur aduk dengan kekecewaannya pada musim 2015/16, saat ia dihajar cedera pangkal paha dan dianggap tidak bisa mengendalikan emosi sehingga cuma dimainkan 12 kali di Premier League.
Hasil kawin silang dua perasaan itu bertemu pada satu titik yang cukup ajaib: Nasri menjalin kesepakatan dengan Sevilla 15 menit setelah ia menyelesaikan laga City versus West Ham United.
Nasri bukan tipe pemain yang menjadi kesayangan para pelatih. Bentrokan dengan Guardiola tidak menjadi satu-satunya. Ia tidak masuk hitungan Arsene Wenger dan Didier Deschamps karena sifatnya yang meledak-ledak.
Tanda-tanda kebangkitan setelah musim yang kelam terlihat di awal perjalanannya bersama Sevilla. Sampaoli mengembalikan Nasri pada peran aslinya, gelandang serang.
Tidak peduli bermain dalam formasi 4-2-3-1 atau 3-3-3-1, Nasri diberi kebebasan untuk muncul di seluruh lapangan dan mengendalikan serangan.
Kebebasan semacam ini tidak ia dapatkan saat berlaga sebagai pemain sayap di Arsenal dan City. Nasri tidak suka bermain di sayap. Kalaupun menurut, itu karena ia berusaha memercayai pendapat pelatih.
Apes, hari-hari menyenangkan itu tidak berlangsung lama. Nasri berulang kali tidak dapat bertanding bersama Sevilla karena mengalami cedera tendon dan otot.
Akan tetapi, saat tidak bisa bertanding pun, Nasri tetap menerima kebebasan yang tidak mungkin didapatnya jika tidak pindah ke Sevilla.
“Di suatu akhir pekan saya tidak bisa bermain sehingga ingin kembali ke rumah sambil menengok keluarga saya. Jorge menawarkan diri untuk menjaga rumah dan anjing peliharaan saya.”
Pemain macam apa yang bisa membuat pelatih menawarkan diri merawat anjing peliharaan dan menjaga rumah saat ia pulang kampung? Dewa sekali Nasri ini.
Perjalanan Nasri bersama Sevilla tidak panjang, cuma semusim. Pada Agustus 2017 ia hengkang ke Turki.
Masalah baru datang. Ia dihukum larangan beraktivitas di sepak bola selama 18 bulan karena dinilai terlibat penyalahgunaan doping. Nasri luntang-lantung, ia menepi lagi dari lapangan bola.
Setelah hukuman itu selesai, ia mengikat kerja sama dengan West Ham, tetapi sekarang sudah tercatat sebagai pemain Anderlecht. Tentu saja Nasri belum bisa bertanding lagi. Pandemi menjadi musuh bersama yang menghentikan langkah sepak bola.
Terlepas dari ketidakpastian akibat pandemi, Nasri adalah orang yang kerap menuliskan paradoks. Talentanya sebagai pesepak bola bisa membuatnya tetap berada di tempat tinggi. Namun, ia memilih untuk pergi sebagai pinjaman ketimbang menurunkan ego dan mengendalikan emosi.
Jangan buru-buru mencemooh. Barangkali dengan cara itulah Nasri menemukan kebahagiaannya.
Dengan terbuka pada sepak bola di luar jangkauan para pemain bintang, Nasri mengumpulkan kesenangan-kesenangan kecil yang tidak akan ditemukan bila ia patuh pada genius seperti Guardiola atau priayi seperti Wenger.
Pemberontakan Nasri serupa pertaruhan. Yang namanya pertaruhan, bisa membuatmu kaya mendadak, bisa pula membuatmu jatuh dan bangkrut.
Namun, ya, sudahlah. Kalaupun jatuh, setidaknya Nasri pernah menjadi dewa di Sevilla.
====
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk, bantu donasi atasi dampak corona.
