Dirut I.League Akui Kualitas Siaran Super League Bermasalah

6 Agustus 2025 17:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirut I.League Akui Kualitas Siaran Super League Bermasalah
Dirut I.League, Ferry Paulus, mengakui bahwa selama ini kualitas siaran masih bermasalah.
kumparanBOLA
Ilustrasi I.League Liga Indonesia. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi I.League Liga Indonesia. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Siaran sepak bola Indonesia masih menjadi sorotan jelang dimulainya Super League 2025/26. Dirut I.League, Ferry Paulus, mengakui bahwa selama ini kualitas siaran masih bermasalah.
ADVERTISEMENT
Super League masih akan disiarkan oleh Emtek. Ferry menerangkan, terkait kualitas siaran, pihaknya memiliki kesepakatan baru.
"TV Produksi memang baru tiga hari kemarin kita ada kesepakatan baru, baik di Emtek begitu juga dengan di tempat lain. Memang dari kualitas penyiaran ini yang bermasalah," kata Ferry kepada wartawan di Jakarta, Rabu (6/8).
"Kemudian kita juga sudah bekerja sama dengan Telkom untuk memperbaiki, sehingga deviasi waktunya juga akan lebih baik, dan sistemnya juga akan seperti yang sudah kita mintakan asistensi jadi pasti akan ada perbaikan," tambahnya.
Pemain Persija Jakarta Rizky Ridho (tengah) berebut bola dengan pesepak bola Malut United FC Yance Sayuri (kiri) pada pertandingan Liga 1 di Jakarta International Stadium, Jakarta, Jumat (23/5/2025). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
Adapun sebenarnya, produksi siaran Liga 1 (yang kini bernama Super League) sekarang ditangani oleh United Creative. Mereka adalah anak perusahaan Bali United (PT Bali Bintang Sejahtera), yang bernaung di bawah PT Karya Kreasi Bangsa (KKB).
ADVERTISEMENT
Selama ini, ada beberapa hal yang dikeluhkan penonton. Misalnya adalah saturasi terlalu terang, di mana pengaturan warna dan pencahayaan dinilai tidak seimbang. Tingkat saturasi yang terlalu tinggi membuat mata penonton tidak nyaman.
Selain itu, penempatan iklan pop-up atau overlay ads yang muncul di tengah tayangan pertandingan juga menghalangi pandangan penonton. Replay yang terlambat dan gambar kurang tajam juga menjadi sasaran kritik.