kumparan
18 Apr 2018 16:03 WIB

Domenico Tedesco: Sarjana Teknik yang Menggegerkan Bundesliga

Pelatih Schalke, Domenico Tedesco. (Foto: Reuters/Leon Kuegeler)
Jangan pernah berharap permintaan maaf meluncur dari bibir Domenico Tedesco. Baginya, sepak bola yang dimainkan tim asuhannya adalah sebenar-benarnya sepak bola, seefektif-efektifnya sepak bola. Baginya, sepak bola yang dipraktikkan para pemainnya adalah sepak bola untuk menang.
ADVERTISEMENT
"Penguasaan bola bukan sebuah indikator apakah sebuah tim bermain bagus atau tidak. Bisa saja yang terjadi adalah dua bek tengah saling mengumpan sampai pertandingan berakhir. Aku selalu membuat rencana untuk memenangi pertandingan, bukan menguasai bola sebanyak 80%," kata Tedesco.
Secara garis besar, itulah filosofi dasar bermain yang diterapkan Tedesco di tim asuhannya, Schalke 04. Mereka tidak memainkan sepak bola yang cantik dan bertele-tele. Alih-alih demikian, efektivitas dan efisiensi adalah dua kata kunci yang jadi pedoman Naldo cs. dalam bermain. Mereka bertahan dengan solid untuk kemudian melancarkan serangan balik untuk membunuh lawan yang lengah.
Di jagat persepakbolaan Jerman, Tedesco benar-benar anak kemarin sore. Usianya baru 32 tahun dan dia merupakan pelatih termuda kedua setelah pelatih Hoffenheim, Julian Nagelsmann. Sebelum ditunjuk Schalke untuk menggantikan Markus Weinzierl pada awal musim 2017/18, pengalaman melatih Tedesco di tim senior belum ada setahun.
ADVERTISEMENT
Musim lalu, Tedesco melakoni debut kepelatihan di tim senior bersama klub Bundesliga 2, Erzgebirge Aue. Awalnya Tedesco ragu untuk menerima pinangan klub asal Saxony tersebut. Namun, setelah mengunjungi Erzgebirgsstadion, dia berubah pikiran.
Keputusan Tedesco menerima pinangan Erzgebirge Aue itu sama sekali tidak salah. Sebelum ditangani Tedesco, klub kelahiran 1946 itu berada di dasar klasemen. Di akhir musim 2016/17, mereka finis di urutan ke-14 setelah meraup 20 poin dari 11 pertandingan. Keajaiban Tedesco bersama klub berjuluk Veilchen itu akhirnya sampai ke kuping Christian Heidel.
Heidel adalah direktur olahraga Schalke yang punya reputasi mentereng kala masih bersama Mainz 05. Pria kelahiran 1963 itu adalah sosok yang bertanggung jawab atas penunjukkan Juergen Klopp serta Thomas Tuchel di Mainz. Pada 2016, dia diminta Schalke menyelamatkan klub yang tengah mengalami masa-masa sulit.
ADVERTISEMENT
Sial bagi Heidel karena pilihan pertamanya terbukti salah. Weinzierl gagal total. Pelatih yang mengangkat Augsburg ke Bundesliga itu hanya mampu membawa Schalke finis di urutan kesepuluh. Bahkan, jarak antara mereka dan zona degradasi (enam poin) lebih dekat ketimbang jarak mereka dengan zona Liga Champions. Tak heran jika Heidel, sebagai sosok yang menunjuk Weinzierl, mendapat kecaman dari para suporter.
Penunjukan Tedesco pun awalnya tidak membantu menyurutkan ketidakpuasan para suporter dan itu sangat wajar. Apa yang bisa diharapkan klub terkaya ketiga di Jerman dari seorang pelatih yang cuma punya pengalaman membesut kurcaci dari Saxony?
Namun, semua kini sudah berubah. Schalke sekarang berada di urutan kedua klasemen dan kemungkinan besar akan kembali ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam tiga musim. Tak cuma itu, mereka pun saat ini masih bertahan di babak semifinal DFB Pokal dan telah berhasil menggoyang dominasi Borussia Dortmund di Lembah Ruhr yang telah bertahan selama setidaknya empat musim.
ADVERTISEMENT
Di Bundesliga, Tedesco saat ini jadi calon kuat perebut takhta pelatih terbaik bersama Niko Kovac dan Jupp Heynckes. Kini, nama Tedesco tak cuma bergaung di Jerman saja, melainkan sudah sampai seluruh dunia.
Ada yang unik dari nama Tedesco. Nama ini merupakan nama keluarga yang umum di Italia dan Tedesco aslinya memang orang Italia. Yang unik adalah bahwa dalam bahasa Italia 'Tedesco' berarti 'Orang Jerman'.
Nama ini seakan menjadi penunjuk bagi garis nasibnya. Tedesco, bersama orang tuanya, beremigrasi dari Calabria ke Esslingen --sebuah kota kecil di dekat Stuttgart-- saat dirinya berusia dua tahun.
Tedesco melakukan selebrasi bersama suporter. (Foto: Reuters/Leon Kuegeler)
Tak seperti Nagelsmann yang karier bermainnya berakhir karena cedera, Tedesco praktis tidak pernah bermain sepak bola secara serius. Memang, ketika masih bocah dan remaja dia pernah bergabung di akademi ASV Aichwald, tetapi 'karier'-nya sebagai pemain cuma sampai di situ.
ADVERTISEMENT
Alih-alih sepak bola, Tedesco lantas memilih untuk menekuni pendidikannya. Pria yang semasa kecil menggemari Juventus ini punya dua gelar akademis. Pertama, gelar sarjana di bidang teknik industri dan kedua, gelar master di bidang manajemen inovasi. Dua gelar ini pun akhirnya membawa Tedesco ke sebuah perusahaan subkontraktor Mercedes, tempat dirinya bekerja di bidang kenyamanan penumpang dan desain tata suara.
Namun, sepak bola memang tidak pernah bisa dilepaskan dari dirinya. Saat masih bekerja untuk subkontraktor Mercedes itu dirinya nekat mengirimkan surat kepada Akademi Stuttgart. Dia meminta izin untuk menyaksikan latihan tim U-9 Stuttgart.
Setelah izin didapat, Tedesco berkunjung ke sana dan berbincang dengan koordinator akademi Thomas Albeck. Karena terkesan dengan pemikiran Tedesco, Albeck kemudian memberinya kesempatan untuk memimpin sesi latihan. Untuk itu, Tedesco kemudian menyusun materi latihannya sendiri dan bahkan, sempat dipercaya memimpin tim dalam sebuah pertandingan.
ADVERTISEMENT
Kunjungan ke Akademi Stuttgart itu menjadi awal dari keterlibatan Tedesco secara serius di dunia kepelatihan. Pada 2013, pria yang fasih berbicara lima bahasa itu ditunjuk untuk menangani tim U-17 Stuttgart sebelum kemudian hengkang ke Hoffenheim setahun setelahnya.
Di Hoffenheim, Tedesco pertama kali bertemu dengan Nagelsmann. Namun, saat itu situasinya belum seperti sekarang.
Ketika Nagelsmann dipromosikan menjadi pelatih tim utama pada awal musim 2016/17, Tedesco-lah yang menggantikan posisi sejawatnya itu di tim junior. Padahal, dalam kursus kepelatihan di Hennes Weisweller Akademie, Tedesco keluar sebagai lulusan terbaik mengalahkan Nagelsmann. Tak sampai setahun membesut tim junior Hoffenheim, tawaran dari Erzgebirge Aue itu datang dan sisanya adalah sejarah.
Julian Nagelsmann, moncer bersama Hoffenheim. (Foto: Reuters/Ralph Orlowski)
Satu rahasia di balik melesatnya karier Tedesco dengan cepat adalah kecerdasannya. Dalam wawancara dengan Independent, Heidel secara terang-terangan membeberkan bahwa latar belakang non-sepak bola yang dimiliki Tedesco justru menjadi daya tarik tersendiri baginya.
ADVERTISEMENT
"Dia sudah pernah berhasil di luar sepak bola. Artinya, dia tahu apa yang terjadi di luar sepak bola, khususnya soal pengalaman hidup," tutur Heidel.
Adapun, kecerdasan yang dimaksud oleh Heidel itu tidak cuma kecerdasan dalam meramu taktik. Menurut kesaksian para pemainnya, kecerdasan Tedesco yang paling menonjol justru ada pada EQ dan bukan IQ-nya.
Kapten Schalke saat ini, Ralf Faehrmann, mengatakan bahwa Tedesco punya bakat dari Tuhan untuk memotivasi dan menjelaskan sesuatu. Kemudian, Naldo --yang berusia tiga tahun lebih tua dari Tedesco-- secara gamblang menyebut trainer-nya itu sebagai sosok pelatih terbaik selama hampir 15 tahun berkarier di Jerman.
Naldo secara khusus memuji cara Tedesco melibatkan para pemainnya dalam membuat keputusan. Tedesco sendiri kemudian menjelaskan bahwa melibatkan para pemain adalah cara untuk membuat para pemain itu patuh terhadap keputusan-keputusannya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, satu hal lain yang mendapat perhatian khusus dari Naldo adalah ketenangan Tedesco dalam menghadapi situasi sulit. Saat Schalke tertinggal 0-4 dari Dortmund di Derbi Ruhr pertama musim ini, tidak ada teriakan atau umpatan dari Tedesco. Bahkan, sang pelatih juga tidak memerintahkan para pemainnya untuk mencetak empat gol.
Naldo merayakan gol di depan pemain Dortmund. (Foto: Reuters/Leon Kuegeler)
Ketika itu, Tedesco hanya meminta para pemainnya untuk mencetak gol entah bagaimana pun caranya. Di akhir laga, Schalke sukses mencetak empat gol balasan dan memaksakan hasil imbang 4-4.
Kemampuan Tedesco mencuri hati para pemain itu, ditambah dengan kecerdasan taktikal dan ketegasan, menjadi kunci keberhasilannya membawa Schalke keluar dari masa-masa sulit.
Pada awal musim, Schalke harus kehilangan Klaas-Jan Huntelaar dan Sead Kolasinac. Namun, Tedesco tak keberatan. Malah, dia kemudian memilih untuk menendang Benedikt Hoewedes dari tim serta memberikan ban kapten kepada Faehrmann. Meski secara sepintas kekuatan Schalke tampak melemah, di situ justru mereka menemukan komposisi terbaik.
ADVERTISEMENT
Tedesco sukses mengeluarkan kemampuan terbaik para pemainnya dengan berbagai cara. Ada yang harus diubah posisinya seperti Benji Stambouli (dari gelandang menjadi bek) dan Max Meyer (dari gelandang serang ke gelandang tengah). Kemudian, ada pula pemain-pemain yang sedang dalam masa sulit macam Daniel Caligiuri dan Yevhen Konoplyanka yang berhasil dibangkitkan kembali.
Dengan cara bermain yang diusungnya, Schalke jadi tim yang sangat solid. Mereka memang tidak terlalu produktif. Jumlah gol mereka, 47, adalah yang paling sedikit di antara para penghuni empat besar. Namun, The Royal Blues punya keunggulan dari segi pertahanan dengan hanya kemasukan 33 kali. Jumlah itu adalah yang terbaik kedua di Bundesliga setelah Bayern Muenchen.
Meski mengesankan, apa yang diraihnya itu belum bisa dikatakan optimal dan wajar saja, mengingat kualitas skuat Schalke memang masih bisa ditingkatkan di sana-sini. Yang jelas, Tedesco kini sudah menunjukkan kapasitasnya dan dunia wajib waspada karena ini semua baru permulaan baginya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan