Kumparan Logo

Dua Dekade yang Begitu Panjang untuk Brighton and Hove Albion

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anthony Knockaert andalan Brighton. (Foto: Twitter/All About Champ)
zoom-in-whitePerbesar
Anthony Knockaert andalan Brighton. (Foto: Twitter/All About Champ)

26 April 1997, musim kompetisi 1996/97 sudah mendekati akhir. Divisi Tiga Football League (sekarang setara League Two --red) tinggal menyisakan dua pertandingan lagi, dan Brighton and Hove Albion punya misi wajib menang menghadapi Doncaster Rovers.

Hari itu adalah hari di mana perasaan seluruh pendukung Brighton campur aduk. Selain karena fakta bahwa The Seagulls sedang terancam degradasi ke Divisi Conference, mereka juga harus segera mengucap selamat tinggal kepada stadion yang telah menjadi rumah selama 95 tahun, Goldstone Ground.

Brighton menang hari itu. Berawal dari sebuah kemelut di depan gawang Doncaster, Stuart Storer berhasil mencetak gol tunggal kemenangan yang sekaligus mengangkat Brighton dari dasar klasemen. Di laga berikutnya, mereka bermain imbang 1-1 melawan Hereford United dan akhirnya mampu bertahan di Divisi Tiga.

Namun, meski selamat, harga yang harus dibayar Brighton adalah hilangnya Goldstone Ground tersebut. Dengan situasi keuangan yang amburadul, pemilik mayoritas saham Brighton, Bill Archer, beserta CEO David Bellotti, menjual Goldstone Ground kepada investor yang berminat untuk menyulapnya menjadi pusat perbelanjaan.

Penjualan Goldstone Ground ini memang beralasan kuat karena kalau tidak, Brighton and Hove Albion sudah pasti bakal pailit. Ketika itu, Archer dan Bellotti pun sebenarnya tidak punya pilihan lain. Hanya saja, ketika penjualan itu diumumkan pada akhir musim 1995/96 -- saat Brighton terdegradasi ke Divisi Tiga --, para fans tidak pernah diajak berdialog.

Usut punya usut, ternyata ketika Archer "menyelamatkan" Brighton dari kebangkrutan pada 1993, uang yang digunakannya itu bukan uang pribadi, melainkan pinjaman dari bank. Archer sendiri ketika itu menggunakan Goldstone Ground sebagai jaminan dan ketika stadion itu dijual, pihak klub hampir tidak mendapat uang sepeser pun.

Hasilnya, dua kali para fans Brighton yang murka melakukan invasi lapangan untuk memprotes kebijakan ini. Pertama, ketika mereka terdegradasi ke Divisi Tiga pada musim 1995/96 dan kedua, pada sebuah laga Divisi Tiga menghadapi Lincoln City, di mana ketika itu mereka sampai mematahkan mistar gawang. Karena invasi ini, poin Brighton dikurangi dua dan segala upaya banding pun gagal. Beruntung, di akhir musim mereka selamat.

20 tahun setelah kehilangan rumah, Brighton and Hove Albion menjelma menjadi sebuah klub yang benar-benar baru. Musim 2017/18, mereka akan bermain di Premier League bersama raksasa-raksasa sepak bola Inggris seperti Manchester United, Arsenal, Liverpool, dan Tottenham Hotspur. Tak hanya itu, mereka pun kini bisa menjamu tamu-tamu mereka di sebuah stadion baru bernama American Express Community Stadium (Amex Stadium).

video youtube embed

Bagi Brighton, 20 tahun itu adalah waktu yang sangat, sangat panjang, karena di sana, mereka senantiasa bergelut dengan ketidakpastian. Jangankan untuk bisa sampai ke Premier League. Untuk bisa punya rumah sendiri saja mereka kesulitan.

Setelah Goldstone Ground dijual, awalnya Brighton berencana untuk menjalin kerja sama dengan Portsmouth untuk sama-sama menggunakan Fratton Park sebagai kandang. Akan tetapi, rencana itu tidak berjalan mulus dan akhirnya, pilihan pun jatuh ke Priestfield Stadium milik Gillingham. Sebagai catatan, jarak dari Portsmouth ke Brighton adalah 80 km, sedangkan Brighton ke Gillingham adalah 119 km.

Brighton sendiri ketika itu tidak punya pilihan. Setelah Goldstone resmi dijual, para fans pun segera berusaha menggulingkan Archer dan Bellotti. Mantan manajer mereka, Liam Brady, kemudian mendirikan sebuah konsorsium dan menunjuk Dick Knight, seorang pengusaha iklan, untuk menjadi ujung tombak. Jika kata orang di setiap awan mendung itu ada garis keperakan, maka Knight adalah garis keperakan yang dicari-cari Brighton.

Di bawah pimpinan Knight secara de facto itulah Brighton akhirnya bisa mendapat tempat untuk bermain. Walau begitu, Gillingham selaku pemilik Priestfield Stadium, benar-benar memperlakukan Brighton layaknya paria. Ada banyak sekali larangan dan aturan yang dikenakan kepada Brighton dan para suporternya.

Penampakan Amex Stadium. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan Amex Stadium. (Foto: Wikimedia Commons)

Meski akhirnya memiliki tempat untuk bermain, Brighton tetap harus pulang ke rumah dan akhirnya, para suporter mereka pun senantiasa mengumandangkan kampanye "Bring Back the Albion" sampai pada musim 1998/99. Kebetulan, di musim itu pula, Bill Archer akhirnya benar-benar bisa dienyahkan dari tampuk kepemimpinan The Seagulls. Kampanye itu berhasil karena Brighton kemudian menemukan sebuah tempat yang bisa digunakan untuk berlaga.

Tempat baru itu sebenarnya merupakan sebuah stadion atletik. Withdean Stadium namanya. Kapasitasnya hanya 8.850 tempat duduk dan ada lintasan atletik yang membuat pandangan ke lapangan menjadi sangat terbatas. Walau jauh dari kata ideal, setidaknya Brighton untuk sementara bisa bermain di rumah sendiri.

Namun, "sementara" itu ternyata berusia cukup panjang. 11 tahun lamanya Brighton harus bermain di stadion ini. Sebabnya, sulit sekali bagi mereka untuk mencari lahan untuk membangun stadion baru. Lahan di Falmer yang kini menjadi tempat Amex Stadium berada pun harus diperjuangkan dengan berdarah-darah.

Segala upaya mereka coba ketika itu, mulai dari mendekati John Prescott, deputi perdana menteri Inggris yang berasal dari wilayah tersebut, sampai dengan lagu ska ciptaan Attila the Stockbroker, Tom Hark (We Want Falmer), yang berhasil menduduki peringkat 17 tangga lagu Inggris. Prescott sendiri ketika itu sempat dituduh menerima gratifikasi dari para petinggi Brighton.

video youtube embed

Perjuangan para suporter dan petinggi Brighton untuk membangun stadion di Falmer itu sebenarnya sudah dimulai sejak mereka masih menumpang di Priestfield Stadium. Hanya saja, karena berbagai proses birokrasi dan keterbatasan, pembangunan baru bisa dimulai pada 2008 dan selesai pada 2011.

Ketika Amex Stadium dibangun, Dick Knight sudah tidak lagi menjadi pemilik mayoritas klub. Pada tahun 2009, seorang pemain poker profesional, Tony Bloom, membeli 75% saham klub dan menggandeng American Express untuk mendanai pembangunan stadion ini. Uang sebesar 93 juta poundsterling digelontorkan untuk merampungkan pembangunan.

Meski Knight sudah tidak lagi menjadi orang nomor satu di Brighton, dia tetap menjadi sosok paling dihormati. Buktinya, dia kemudian dinobatkan menjadi presiden seumur hidup dan sebuah bar di Amex Stadium pun diberi nama "Dick's Bar". Biar bagaimana juga, Dick Knight adalah penyelamat Brighton and Hove Albion.

Musim ini, Brighton akhirnya akan menjalani debut di Premier League. Setelah 116 tahun eksis, inilah prestasi terbaik mereka. Walau begitu, Brighton tidak melulu identik dengan kesengsaraan dan prestasi yang buruk saja.

video youtube embed

Pada musim 1982/83, mereka sebenarnya mampu mencapai partai final Piala FA. Sayang, meski berhasil menahan imbang 2-2, mereka akhirnya kalah dari Manchester United 0-4 pada partai ulangan yang digelar lima hari kemudian.

Sebelum itu, pada tahun 1910 atau hanya sembilan tahun setelah berdiri, Brighton berhasil mencatatkan sejarah saat mengalahkan Aston Villa di ajang Charity Shield. Sampai saat ini, The Seagulls menjadi satu-satunya klub yang berhasil memenangi Charity Shield tanpa pernah sekali pun memenangi Divisi Satu/Premier League atau Piala FA. Adapun, ketika itu mereka berlaga sebagai juara Southern League.

Sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim perdana mereka di Premier League, Brighton telah mendatangkan lima pemain dalam diri Matt Ryan (kiper/Valencia), Markus Suttner (bek kiri/Ingolstadt), Pascal Gross (gelandang tengah/Ingolstadt), Ales Mateju (bek kanan/Viktoria Plzen), dan Isaiah Brown (penyerang/Chelsea).

Meski begitu, manajer Chris Hughton tampaknya masih bakal mengandalkan nama-nama lama. Duet Glenn Murray dan Anthony Knockaert yang musim lalu mampu menghasilkan 38 gol sudah tentu bakal jadi dua nama paling diharapkan. Selain Murray dan Knockaert, ada pula Tomer Hemed dan kapten Bruno yang punya pengalaman di La Liga, Steve Sidwell yang merupakan veteran Premier League, dan bek tengah Lewis Dunk.

Manajer Brighton, Chris Hughton. (Foto: Premier League)
zoom-in-whitePerbesar
Manajer Brighton, Chris Hughton. (Foto: Premier League)

Memang tidak ada yang fenomenal di sini. Akan tetapi, Brighton yang tidak asing dengan krisis ekonomi tentu paham akibat buruk dari mismanajemen. Tony Bloom sendiri sudah menegaskan bahwa Brighton tidak ingin hanya numpang lewat. Meski begitu, semuanya harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Dalam kesempatan lain, Chris Hughton yang sebelumnya sudah pernah berkiprah di Premier League bersama Newcastle United dan Norwich City juga sepaham dengan bosnya tersebut. Bagi Hughton, keberhasilan Bournemouth dan Burnley menjadi klub papan tengah di Premier League adalah contoh yang realistis bagi Brighton.

Walau begitu, sebagai tim debutan yang tidak punya pemain bintang, Brighton adalah salah satu tim yang "dijagokan" akan turun kembali ke Championship. Menurut Oddschecker, kans Brighton untuk menjadi juara adalah 1.500:1 alias yang terkecil. Dengan kata lain, mereka diprediksi bakal menjadi juru kunci Premier League musim 2017/18.

Bagi Brighton, keluar dari situasi sulit dan memutarbalikkan prakiraan bukanlah barang baru. Sekarang, tugas mereka adalah mengulangi apa yang sudah sering mereka lakukan di level tertinggi. Sama sekali tidak mudah, tetapi juga bukannya tidak mungkin.