Kumparan Logo

Dua Laga Tanpa Kemenangan, Apa yang Salah dengan Bali United?

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi Brwa Nouri saat Bali United menghadapi Persita Tangerang. Foto: dok. Liga Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Brwa Nouri saat Bali United menghadapi Persita Tangerang. Foto: dok. Liga Indonesia

Tak satu pun kemenangan Bali United raih pada dua laga terakhir. Menghadapi Svay Rieng di AFC Cup 2020, Bali United kalah 1-2. Sementara ketika menjamu Persita Tangerang di Liga 1 2020, mereka cuma bermain imbang 0-0.

Tentu hasil-hasil tersebut sangat tidak menggambarkan pasukan 'Serdadu Tridatu'. Mereka adalah jawara Liga 1 2019. Terlebih, dua lawan yang dihadapi begitu jauh perbedaan kualitasnya. Salah satunya bahkan tim yang baru saja promosi.

Kalau sudah begini, kita patut bertanya-tanya, apa, sih, yang salah dengan Bali United?

Melihat cara mereka bermain, sebetulnya tak ada yang berubah dari Bali United. Mereka tetap menjadi tim yang mengandalkan direct football untuk menyerang, sebagaimana yang kerap mereka tunjukkan musim lalu.

Susunan pemain pun tak banyak berubah. Wawan Hendrawan tetap di pos kiper. Fadil Sausu dan Brwa Nouri tetap jadi andalan sebagai duet pivot. Masih ada pula Paulo Sergio, Melvin Platje, hingga Ilja Spasojevic.

Bali United melawan Persita Tangerang. Foto: dok. Liga Indonesia

Yang kemudian berbeda adalah permainan klub-klub lain saat melawan Bali United. Musim lalu, nyaris tak pernah Bali United berhadapan dengan tim yang bertahan di kedalaman. Sebagian besar bahkan bermain dengan amat terbuka.

Hal tersebut pada akhirnya membuat pendekatan cara bermain Bali United bisa bekerja secara maksimal. Dengan skema 4-2-3-1, mereka cenderung menunggu. Lalu, tiba-tiba saja muncul umpan yang membunuh pertahanan lawan.

Tiga sosok yang paling signifikan terhadap pendekatan ini adalah Fadil, Nouri, dan Paulo Sergio. Sementara Fadil dan Nouri bertugas sebagai pengumpan, Sergio membuka ruang yang biasanya dia akhiri dengan assist untuk Melvin Platje atau pun Spaso.

Lewat cara itulah Bali United mampu mengumpulkan kemenangan demi kemenangan, meski dengan jumlah gol yang terbilang minim.

Sayangnya, keluasaan demikian tak lagi dimiliki Bali United. Tim-tim lain kini tampak lebih perhatian. Mereka tahu bagaimana Bali United bermain dan karena itulah mereka sudah waspada sejak menit awal.

Aksi Melvin Platje saat Bali United melawan Persita Tangerang. Foto: dok. Liga Indonesia

Caranya sederhana: Bertahan sedalam mungkin dan membiarkan Bali United lebih sering menguasai bola. Inilah yang dilakukan Persita saat menahan imbang Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta.

Pelatih Bali United, Stefano 'Teco' Cugurra bahkan sampai mencak-mencak begitu laga usai karena gaya bermain Persita.

"Mereka datang ke sini buat lebih bertahan. Mungkin itu dilakukan untuk mendapatkan satu poin. Kita sudah coba menyerang dari awal sampai akhir pertandingan, tapi tidak bisa cetak gol,” kata Teco pada sesi jumpa pers.

Terlepas dari hal tersebut, motor serangan Bali United musim lalu, Fadil, tak bermain optimal. Umpan-umpan yang dia lepaskan cukup sering tak menemui sasaran. Dia juga kerap telat mengambil keputusan saat momen serangan balik.

Saat menghadapi Svay Riang pun begitu. Inilah yang salah satunya membuat Teco menarik keluar Fadil pada pertengahan babak kedua. Namun, hasilnya sama saja, Bali United masih kesulitan hingga kalah 1-2 dari wakil Kamboja tersebut.

Pertandingan antara Bali United dan Svay Rieng. Foto: Twitter/@BaliUtd

Walau begitu, terlalu dini menilai Bali United. Kompetisi baru saja dimulai dan masih banyak waktu bagi mereka untuk berbenah. Salah satunya, ya, mencari solusi saat menghadapi tim yang bertahan total.