Kumparan Logo

Dua Pilar Penopang Manchester City: Soriano dan Begiristain

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Etihad Stadium. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
zoom-in-whitePerbesar
Etihad Stadium. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Jika ada dua hal yang harus dimenangi oleh Manchester City, maka keduanya adalah bisnis dan sepak bola.

Di ranah tempat sejumlah pemain top bertanding dengan biaya selangit, tayangan pertandingan yang menyedot jutaan penonton, hingga pemilik klub yang tercatat sebagai salah satu manusia paling kaya di dunia, uang menjadi sumber dari segala keunggulan kompetitif.

Namun, kondisi ini tak bertahan lama. Semuanya bermula dari gelar juara Premier League yang berhasil direbut Manchester City pada musim 2011/2012. Ini menjadi gelar juara Premier League pertama mereka setelah 44 tahun.

‘Kelahiran’ Sheikh Mansour

Sheikh Mansour, konglomerat Abu Dhabi yang membeli City pada tahun 2009, tidak ada di stadion saat pertandingan penentuan gelar juara City musim 2011/2012 itu. Kala itu, City berhadapan dengan Queens Park Rangers.

Mansour bukan orang yang biasa menonton pertandingan secara langsung. Konon, ia hanya sekali tertangkap kamera sedang menonton pertandingan City di stadion. Sebabnya, ia merasa tak nyaman dengan keriuhan ala stadion.

Pertandingan penentuan gelar juara itu berakhir dengan skor 3-2. Gol Sergio Aguero di menit-menit akhir pertandingan mengamankan keberhasilan City merengkuh gelar juara.

Beberapa saat setelah gelar juara itu diklaim City, telepon Mansour berdering. Katanya, UEFA yang menghubungi. Mereka mengkritisi aktivitas City yang cenderung ‘membakar uang’ demi merebut gelar juara. Di mata mereka, ini tak adil.

Setelahnya, sepak bola Eropa mengenal peraturan bertajuk Financial Fair Play. Klub tak boleh menggelontorkan uang lebih banyak daripada pemasukan mereka.

Pilar Pertama: Ferran Soriano

“Dalam ranah bisnis yang dingin (tak bersahabat, sengit -red), sepak bola Premiership (Premier League -red) adalah salah satu produk hiburan terbaik di dunia.”

Kalimat itu tak sekadar penggalan pernyataan Mansour di hadapan awak media setelah pembicaraan dengan UEFA tadi. Kalimat itulah yang pada akhirnya menjadi pintu gerbang yang membawa Ferran Soriano masuk ke Manchester City.

Soriano bukan anak pebisnis kelas kakap, ia anak seorang penata rambut. Namun, bisnis dan finansial menjadi karib Soriano sejak muda. Tiga jenjang pendidikan tertingginya diraih di tiga negara berbeda: Belgia, Amerika Serikat, dan Catalunya.

Sebelum hijrah ke wilayah timur Manchester, Soriano dikenal sebagai CEO Barcelona. Sekarang, Soriano boleh dikenal sebagai tokoh sepak bola ternama di Inggris, tapi karier manajemen sepak bolanya dimulai dari kekecewaannya terhadap sepak bola Inggris.

“Saya tidak menyukai keberadaan Alex Ferguson di Manchester United dan Arsene Wenger di Arsenal. Bukan soal taktik dan kebijakan mereka di atas lapangan, tetapi karena mereka ikut campur dalam urusan manajemen.”

“Kalian lihat bagaimana orang-orang Inggris menyebut pelatih sebagai manajer? Sebutan itu menunjukkan bahwa mereka mengurusi segalanya di klub,” begitu kira-kira ucapan Soriano saat ia menjadi pembicara di Birbeck, University of London, pada tahun 2006.

Ide dasar kepemimpinan Sheikh Mansour adalah menjadikan Manchester City sebagai klub terbesar di dunia. Jika sejak 2003 hingga 2008 pekerjaan Soriano mampu menjadikan Barcelona sebagai klub yang tidak menderita kerugian, maka itu pula yang dikerjakannya bersama Manchester City.

Klub sepak bola di mata Soriano adalah merek besar dan bisnis kecil sekaligus. Pandangan ini tidak berlebihan. Katakanlah, satu klub memiliki paling banyak 500 juta orang penggemar dengan penghasilan tahunan (bukan keuntungan) 500 juta euro. Artinya, satu penggemar hanya memberikan 1 euro kepada klubnya setiap tahun.

“Sepak bola adalah bisnis yang konyol. Namun, bukan berarti tak ada cara untuk mewujudkan ambisi ini. Saya punya caranya, memang sederhana, tapi berani: Bertindaklah global, tapi tetap lokal.”

“Ambillah contoh Indonesia (Soriano benar-benar mengambil contoh Indonesia). Di negara ini, orang-orang (pada awalnya) enggan menghabiskan uang untuk klub macam Manchester City. Lantas, yang harus kami lakukan adalah ‘membuka toko’ di Indonesia,” jelas Soriano.

Ferran Soriano dan Khaldoon Al Mubarak. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
zoom-in-whitePerbesar
Ferran Soriano dan Khaldoon Al Mubarak. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Yang dimaksud Soriano dengan membuka toko di Indonesia bukan benar-benar datang dan membuka toko di Indonesia, tapi dengan membuat City sebagai klub yang digilai oleh orang-orang Indonesia sehingga mereka mau mengeluarkan uang untuk klub.

Misalnya, dengan membeli merchandise resmi, bahkan terbang ke Manchester dan menyaksikan pertandingan secara langsung di Etihad. Atau, membikin City sebagai klub yang digelontori dana investasi oleh konglomerat dan perusahaan di Indonesia.

Untuk mencapai tujuan itu, maka Manchester City harus jadi klub yang bisa menarik fanatisme sampai ke Indonesia. Itulah yang sedapat-dapatnya diusahakan Soriano bersama City. Ia ada untuk membangun fondasi finansial yang tak hanya sehat, tapi juga kokoh.

Soriano mulai menjabat sebagai CEO Manchester City pada 1 September 2012. Jangan harap melihatnya ongkang-ongkang kaki di kantor dengan jabatan barunya itu.

Dua hari setelah perekrutannya itu, Soriano langsung terbang ke New York untuk membangun klub sepak bola yang berlaga di Major League Soccer (MLS). Artinya, dua hari setelah kepemimpinannya klub harus mengeluarkan dana sekitar 100 juta dolar AS untuk mendapatkan lisensi berkompetisi di liga resmi.

Dengan otak bisnisnya, Soriano tahu bahwa tak baik bagi klubnya untuk bekerja sendirian. Itulah sebabnya ia menggaet mitra. Sepak bola selalu punya magi ganjil yang membikin orang-orang rela melakukan apa pun, termasuk mengikat keputusan bisnis yang tak wajar.

Dua bersaudara Hank dan Hal Streinbenner menjadi mitra lokal pertama Soriano di New York. Keduanya dikenal sebagai pemilik New York Yankees, klub bisbol itu. Namun, Hank adalah seorang penggemar sepak bola yang sempat melatih di SMA-nya.

Sepak bola bekerja dengan ajaib. Mereka hanya butuh 15 detik untuk menyetujui kerja sama ini. Lantas, 20% saham New York CIty FC dimiliki oleh Yankees. Tak cuma saham, stadion yang mereka miliki pun merupakan hibah sementara bagi New York City FC.

Selebrasi gol Manchester City. (Foto: REUTERS/Peter Nicholls)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi gol Manchester City. (Foto: REUTERS/Peter Nicholls)

Sekilas, apa yang dilakukan Soriano hanya membangun sepak bola dan mewujudkan mimpi sebagian kecil orang-orang New York yang mencintai sepak bola. Namun, di balik itu semua, hal yang sebenarnya dilakukan Soriano adalah ‘membeli kota’.

Dengan menancapkan kakinya di sana, gelontoran dana dari New York pun akan mengalir ke Manchester yang merupakan induk perusahaan. Akhir Desember 2017 lalu, Forbes menilai kekayaan New York City FC sebesar 275 juta dollar Amerika Serikat.

Itu pula yang dilakukannya di Australia (Melbourne City FC), Spanyol (Girona FC), Jepang (Yokohama F Marinos), Uruguay (Club Atletiqo Torque), China (City Football China), Timur Tengah (City Football Middle East), dan Singapura (City Football Singapura). Khusus tiga nama terakhir, mereka bukan klub sepak bola, tapi kantor representatif yang berfungsi untuk mengalirkan dana ke dan menerima dana dari ketiga wilayah tersebut.

Presiden China yang juga seorang pencinta sepak bola mengunjungi Etihad Stadium pada Oktober 2015. Dua bulan setelah kunjungannya tersebut, investor-investor asal China membeli saham City sebesar 13% atau setara dengan 400 juta dollar AS. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya lebih besar 30% dari modal awal yang dikeluarkan Mansour untuk membeli City.

Tim terbaik dalam sepak bola adalah tim yang dapat memenangi pertandingan. Kalimat pendek dan sederhana itu menjadi prinsip yang dipegang oleh Soriano sejak ia terjun dalam bisnis sepak bola. Ia tahu, segala jerih payahnya membangun kekuatan finansial klub tak akan ada artinya bila klub tidak memiliki kemampuan untuk memenangi kompetisi dalam waktu dekat.

Soriano memang orang yang bergelut dengan bisnis. Namun, pembicaraan bahwa segalanya butuh proses tak pernah menjadi hal klise bagi Soriano. Kalaupun City membutuhkan proses dalam waktu yang panjang, maka proses itu harus dimulai sekarang juga

Selain membangun klub, City juga mendirikan akademi sepak bola. Tujuannya bukan hanya untuk menjamin City tak akan kehabisan pemain, tetapi juga menjadikan Manchester Timur sebagai pusat sepak bola dunia. Menjadi pusat sepak bola dunia artinya, segala yang dibutuhkan sepak bola ada di sini.

Jika kau ingin menjadi pemain bintang, maka belajarlah sepak bola di akademi City. Jika kau ingin membela tim yang punya prestasi luar biasa, maka dukunglah Manchester City. Jika kau ingin menonton pertandingan di stadion yang hebat, maka datanglah ke Etihad Stadium.

Pilar Kedua: Txiki Begiristain

Untuk membangun tim yang kokoh dibutuhkan orang-orang yang lebih banyak menghabiskan hidupnya di lapangan bola dibandingkan di kantor. Karena itulah, Soriano tak hanya membeli klub dan mempelajari neraca keuangan klub. Ia mendatangkan Txiki Begiristain, mantan rekannya di Barcelona.

Semasa di Catalunya, Begiristain menjabat sebagai Direktur Olahraga. Ia juga dikenal sebagai mentor Josep Guardiola, orang yang juga menjadi incaran utama Soriano.

28 Oktober 2012 adalah hari pertama Begiristian menjabat sebagai Direktur Olahraga Manchester City. Kedatangannya diawali dengan cerita menyoal friksi yang terjadi antara pelatih City saat itu, Roberto Mancini, dan Brian Marwood, sang direktur olahraga.

Mancini dikabarkan gerah dengan ketidakleluasaannya untuk bergerak di bursa transfer akibat kekangan Marwood. Di musim panas 2012, tak satu pemain pun yang datang ke City.

Mancini yang berang menyampaikan ketidaksukaannya akan kebijakan transfer Marwood. Soriano bertindak. Ia tahu dengan jelas bahwa klub ini dipenuhi dengan sosok-sosok genius.

Di satu sisi adalah keuntungan bila memiliki banyak kepala yang bisa diandalkan untuk mengurai benang kusut. Di sisi lain, kepala yang banyak ini pun punya ego masing-masing. Pembiaran akan pertikaian mereka bakal menjadikan Soriano sebagai pemimpin yang gagal.

Begiristain dan Guardiola di Barcelona. (Foto: JOSEP LAGO / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Begiristain dan Guardiola di Barcelona. (Foto: JOSEP LAGO / AFP)

Jalan tengah pun diambil. Marwood diserahi tugas mengurus akademi City, Begiristain diangkat sebagai direktur olahraga. Tugas direktur olahraga di setiap klub pada dasarnya sama: menjadi jembatan yang menghubungkan manajemen dan kepelatihan.

Bila dirinci, klub sepak bola profesional sebenarnya ditopang oleh dua struktur: manajemen dan kepelatihan. Keduanya harus seirama sehingga gerak klub tetap harmonis.

Permasalahan yang dialami di era Mancini sebagai pelatih dan Marwood sebagai direktur olahraga sebenarnya merupakan kasus lama dalam ranah sepak bola. Itulah sebabnya, direktur olahraga yang tepat adalah sosok yang mengerti manajemen dan kepelatihan sekaligus. Tujuannya, agar tidak hanya satu sisi yang diuntungkan.

Keberadaan direktur olahraga di sepak bola Inggris sebenarnya hal baru. Kecenderungan awalnya, klub-klub sepak bola besar tidak memiliki batas antara direktur olahraga dan pelatih. Fenomena inilah yang dikritisi oleh Soriano dalam presentasinya di London tadi.

Menurutnya, klub tanpa pembedaan struktur manajemen yang jelas akan menjadi klub yang primitif. Mungkin ia bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, tapi ia rentan dihajar modernisasi sepak bola.

Pada awalnya, kehadiran direktur olahraga tidak disukai oleh para pelatih asli Inggris. Alasannya, mereka dibatasi aturan ini dan itu. Terlebih, biasanya, direktur olahraga jauh lebih dekat dengan CEO atau pemilik klub dibandingkan mereka.

Namun, sepak bola Inggris era modern ini adalah titik pertemuan bagi hal-hal asing. Hitung-hitunglah ada berapa banyak pelatih asing yang berkiprah di klub-klub sepak bola Inggris.

Keberadaan direktur olahraga di klub-klub Inggris dinilai menolong para pelatih asing yang pada dasarnya terbiasa dengan struktur manajemen seperti ini. Itulah sebabnya, Mauricio Pochettino, orang Argentina yang sekarang melatih Tottenham Hotspur itu, pernah menolak waktu disebut sebagai manajer klub oleh media. Menurutnya, ia adalah pelatih, bukan manajer, apalagi direktur sepak bola.

Yang harus dipikirkan oleh Begiristain sebagai direktur olahraga bukan hanya transfer pemain dan pelatih, tetapi bagaimana mengkomunikasikan dan menegosiasikan kebutuhan kepelatihan kepada manajemen dan kondisi manajemen kepada kepelatihan.

Atas dasar inilah, perpaduan Soriano, Begiristain, dan Guardiola menjadi trisula yang tajam dan tepat bagi City. Keinginan Soriano untuk mendatangkan Guardiola diterima dengan baik oleh Begiristain. Guardiola pun menganggap Begiristain sebagai mentornya. Namun, rekam jejak kerja sama yang gemilang di Barcelona tak lantas membikin kedatangan Guardiola mudah untuk diwujudkan oleh City.

Guardiola meninggalkan Barcelona di akhir musim 2011/2012. Keputusan ini jelas menggembirakan Begiristain dan Soriano. Mereka lantas menghubungi Guardiola yang memutuskan untuk menikmati hari sabatnya di New York. Jawaban yang jauh dari harapan terlontar, Guardiola akan memberi keputusan setahun kemudian.

Guardiola seusai laga melawan Stoke City. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
zoom-in-whitePerbesar
Guardiola seusai laga melawan Stoke City. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)

Setahun setelahnya, Guardiola menghubungi Begiristain. Jawabannya lebih mengerikan: "Musim ini saya akan ke Bayern Muenchen." Tugas Begiristain bertambah. Ia tahu bahwa Soriano tetap membutuhkan Guardiola, tapi untuk sementara, ia membutuhkan pengganti yang tepat untuk Guardiola. Masuklah Manuel Pellegrini. Ia mengemban tugas ini pada tahun 2013 hingga 2016.

Kedatangan Pellegrini pun membuktikan besarnya peran Begiristain sebagai direktur olahraga. Sebabnya, Pellegrini mengaku bahwa keputusannya untuk bergabung dengan City karena mempertimbangkan pengenalannya akan Begiristain. Ia tahu seperti apa kiprah Begiristain sebagai direktur sepak bola. Di matanya, Begiristain adalah direktur olahraga yang tidak akan mempersulit wewenangnya sebagai pelatih.

***

Klub seperti Manchester City adalah klub yang kerap diserang cibiran. City dinilai sebagai klub yang hanya mengandalkan uang. Tak bisa ditampik, tanpa gelontoran uang Sheikh Mansour, City tak akan bisa jadi sebesar ini.

Namun, sepak bola sekarang adalah sepak bola yang berbasis pada modernisasi dan industri. Agar dapat bertahan hidup bahkan berkembang, mau tidak mau, klub harus mengubah cara pandangnya. Ia pun harus menghidupi modernisasi dan menjadi bagian dari industri.

City memang tak seperti klub-klub besar di Eropa yang lain. Benar bila Guardiola berkata bahwa City belum punya sejarah seperti Barcelona dan Bayern Muenchen. Namun, hanya karena City belum memiliki sejarah besar, bukan berarti City tak layak untuk menjadi besar.

Kehadiran orang-orang seperti Soriano dan Begiristain menjadi bukti bahwa City bukan klub yang memfokuskan diri pada catatan sejarah dan cerita masa lalu. Mereka membawa City menjadi klub yang membangun struktur untuk masa depan, bukan sekadar klub yang bertabur pemain bintang. Persis dengan kalimat yang keluar dari mulut Sheikh Mansour di awal kedatangannya, yang sampai sekarang terpampang di dinding kantor Manchester City.