Eddie van Boxtel: Pernah Tepis Penalti Cantona, lalu Jadi Penyelundup Narkoba

Eddie van Boxtel menjadi legenda dengan caranya sendiri. Kariernya sebagai pemain sepak bola tak buruk-buruk amat, boleh dibilang berprestasi, tetapi justru kasus narkoba yang membuat namanya lebih tenar.
Van Boxtel lahir di Amsterdam pada 14 Agustus 1973, ayahnya memang wong Belanda. Walau begitu, ia menjalani karier sepak bolanya sebagai kiper di Irlandia dan sempat membela tim muda Leeds United.
Dundalk FC menjadi klub yang paling lama dibelanya (1991-1996). Menurut informasi dalam situs web Dundalk FC Who's Who, Van Boxtel 87 kali membela The Lilywhites dari Irlandia itu di lintas ajang.
Salah satu musim tercemerlangnya adalah musim 1993-94, ketika terpilih sebagai Player of the Year Liga Irlandia. Pada masa itu, Van Boxtel, walau tak selalu main, berkontribusi menjadikan Dundalk tim yang paling sedikit kebobolan (27 gol), meski finis di peringkat 8.
Semusim berselang, tepatnya 1994/95, Eddie van Boxtel berkontribusi membawa Dundalk menjadi juara Liga Irlandia. Ini boleh dibilang sebagai satu-satunya gelar paling bergengsi yang pernah ia koleksi bersama tim.
Kalaupun ada aksinya yang sampai membikin namanya agak tenar adalah aksinya menepis sepakan penalti Eric Cantona. Itu terjadi dalam sebuah laga uji coba antara Manchester United (MU) vs Dundalk pada 1994.
talkSPORT bahkan melansir bahwa Van Boxtel adalah kiper pertama yang mampu menepis tendangan penalti Cantona. Klaim itu berasal dari legenda sepak bola Prancis itu sendiri yang menulis tentang ini di autobiografinya.
Meski begitu, Van Boxtel tak pernah setenar Cantona. Lebih bandel, iya. Karena di kemudian hari kehidupannya, dia harus berurusan dengan hukum karena kasus narkoba.
Singkat cerita, usai dari Dundalk, Eddie van Boxtel tercatat membela Galway United (1996-1997), Drogheda United (1997-1998), Monaghan United (1998-2000), Bray Wanderers (2000-2002. Ia pensiun di usia 35 tahun.
talkSPORT menulis, Van Boxtel adalah seorang penjudi aktif. Pria yang kemudian banting stir menjadi sopir taksi itu keranjingan berjudi dan menggunakan hampir semua uang yang dia peroleh di bandar judi.
Nah, untuk menunjang hobinya itu, ia punya pekerjaan sampingan, yakni menjadi penyelundup dan mendistribusikannya ke seluruh Dublin. Pada Juni 2006, ia disebut mendapat promosi dari organisasinya dan ditugaskan untuk bergerak bebas di seluruh Eropa.
Lantas, bagaimana aksi Van Boxtel kemudian ketahuan?
Pada 2008, The Garda National Drug Unit (GNDU) melakukan operasi penyamaran ketika mereka menerima informasi bahwa kartel Irlandia menyelundupkan narkoba ke negara itu dengan menyamar sebagai pengiriman pasta.
Masih menurut cerita dari talkSPORT, petugas menemukan empat kendaraan di Toughers Garage di Newbridge, County Kildare, sebelum dua kendaraan berangkat beberapa saat kemudian untuk menukar 500 kg resin ganja (senilai 3,5 juta euro/Rp 60,5 miliar).
Singkat cerita, GNDU menangkap dan menginterogasi mereka. Saat melakukan penggeledahan di markas kartel, ditemukan 1.000 kg resin ganja (senilai 7 juta euro/Rp 121 miliar) dan seluruh operasi dihentikan.
Saat diinterogasi, Eddie van Boxtel mengaku kepada detektif bahwa dia kecipratan 10.000 euro (Rp 172 juta) dari bisnis narkoba ini. Sebulan kemudian, dia menerima jaminan dan dijadwalkan hadir di pengadilan pada Juli 2008.
Namun, dia tidak hadir, surat perintah dikeluarkan untuk penangkapannya. Sialnya, Van Boxtel sudah dalam perjalanan keluar dari Irlandia, disinyalir bersembunyi di Liverpool, lalu pulang ke Amsterdam.
Selama lima tahun di pengasingan, ia mengubah namanya menjadi Thomas Anthony Fitzgerald, menumbuhkan janggut, mengubah gaya rambutnya, menurunkan berat badan secara drastis, dan menutupi tato nama istrinya di bahunya dengan salib Celtic.
Akhirnya, Eddie van Boxtel kembali tertangkap pada 2014 dan diadili pada Januari 2015 dengan hukuman sepuluh tahun, dengan penangguhan dua setengah tahun terakhir.
----
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
