Edy Rahmayadi: Tugas Exco PSSI Bukan Mengatur Skor

Isu pengaturan skor menggerus kepercayaan publik Tanah Air kepada Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI). Tudingan demi tudingan yang dialamatkan kepada Komite Eksekutif (Exco) PSSI bahwa mereka terlibat dalam manipulasi laga menjadi faktor penyebab.
Dakwaan terus melebar. Teraktual, salah satu anggota Komisi Disiplin PSSI yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) Yogyakarta, Dwi Irianto, disebut menerima sejumlah uang untuk mengatur hasil pertandingan oleh manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indrayani, dalam program Mata Najwa bertajuk 'PSSI Bisa Apa? Jilid 2'.
Lasmi menyatakan bahwa Dwi terlibat skandal pada pertandingan Liga 3 Provinsi Jawa Tengah yang mempertemukan Persibara dengan Persedikab Kab. Kediri pada 9 dan 16 Oktober 2018. Dari catatan yang dibawa Lasmi, Dwi menerima uang sejumlah Rp 25juta.
Kendati belum terbukti, tudingan kepada Dwi terus menggerus kepercayaan pecinta sepak bola kepada federasinya. Sebab, semakin banyak pengurus PSSI yang diduga menjadi aktor pengaturan skor di sepak bols Indonesia. Sebelumnya muncul nama mantan anggota Exco PSSI, Hidayat.
Ketua PSSI, Edy Rahmayadi, merespons situasi tersebut dengan melontarkan pernyataan tegas. Dalam klip yang diputar di acara tersebut, Gubernur Sumatera Utara tersebut mengatakan, bakal menindak pengurus PSSI yang terlibat match fixing. Tak cuma itu, Edy pun akan menempuh langkah preventif dengan membentuk tim independen.
"Yang pasti salah. Karena tugas Exco bukan mengatur skor. Tapi, kalau sampai itu terjadi pasti salah. Kalau tak mengundurkan diri pasti dikeluarkan. Untuk sisa permainan kami akan lakukan manual. Kami akan buat kelompok orang untuk mengawasi pertandingan," ucap Edy.
"Kami akan buat tim independen bukan di tangan Exco. Bahkan, saya akan memanggil orang dari luar. Pengaturan itu terjadi karena wasit. Jadi, si wasit ini 'kan yang menentukan bukan klub. Kedua adalah pemain, mereka harus diawasi secara ketat. Ketiga, klub akan diperdayakan dengan motivasi untuk menang," lanjutnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, yang berkesempatan hadir dalam program tersebut memberi tanggapan positif. Menurutnya, PSSI sudah sejalan untuk menerabas kasus pengaturan skor dari sepak bola Indonesia demi hadirnya kompetisi yang sehat dan prestasi. Mengingat prestasi terakhir Timnas Indonesia level senior terjadi pada 1991. Saat itu, Timnas meraih medali emas SEA Games.
"Beliau punya pandangan yang sama. Pengaturan skor dan orang PSSI yang masuk akan ditindak tegas. Kalau PSSI membentuk dan adanya Satgas (Satuan Tugas Khusus yang dibentuk Kepolisian) bergabung untuk mengusut itu (pengaturan skor)," ucap Imam.
