Kumparan Logo

Elkan Baggott Tolak Panggilan Timnas, Bisakah PSSI Menghukumnya?

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Elkan Baggott. Foto: IG/elkanbaggott
zoom-in-whitePerbesar
Elkan Baggott. Foto: IG/elkanbaggott

Elkan Baggott dipastikan absen membela Timnas Indonesia untuk laga-laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Uni Emirat Arab. Awalnya, Ipswich Town dituding sebagai penghalang, tetapi PSSI menyatakan Elkan-lah yang memutuskan tak berangkat ke Dubai.

"PSSI sudah berkomunikasi dengan Elkan Baggott, ia menyatakan bahwa tidak dapat bergabung bersama timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Dubai," terang Sekjen PSSI, Yunus Nusi.

"Klubnya (Ipswich Town) sebenarnya sudah memberikan jawaban kepada PSSI bahwa Elkan Baggott akan bergabung bersama timnas Indonesia pada 31 Mei, namun yang bersangkutan tidak bisa berangkat."

"Menurut Elkan bahwa Dubai termasuk zona merah pandemi Covid-19. Ia pun harus menjalani karantina apabila kembali ke Inggris. Dan klubnya sudah melakukan persiapan pra musim mulai awal Juni mendatang. Terkait hal ini kami sudah berkomunikasi dengan pelatih Shin Tae-yong," tambahnya.

Elkan Baggott saat berseragam Ipswich Town. Foto: Instagram/@elkanbaggott

Lantas, bisakah PSSI menghukum Elkan karena penolakan tersebut?

Ketahuilah, kasus pemain menolak panggilang Timnas Indonesia bukan baru kali ini saja terjadi. Yang paling kentara adalah peristiwa pada 2013.

Kala itu, situasi sepak bola Indonesia sedang kalut gara-gara dualisme federasi dan liga. Ya, ada dua liga pada masa itu: Indonesian Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL). Bahkan, timnas pun sempat terbelah jadi dua. Kekisruhan itu akhirnya berimbas pada pemain.

Alhasil, ada sejumlah pemain yang menolak panggilan Timnas Indonesia. Mereka adalah Busari, Fachruddin, M Roby, Zukifli Syukur, Ahmad Bustomi, I Made Wirawan, Atep, M Ridwan, Tantan, Samsul Arif, Ricardo Salampessy, Patrich Wanggai, Immanuel Wanggai, Ian Kabes, Lukas Mandowen, Ortizan Solossa, Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, Boaz Solossa, Irfan Raditya, Jailani Sibi, Ronal Setmop, Aji Saka.

Atep (kostum merah) masih memperkuat Indonesia di SEA Games. Foto: Saeed Khan/AFP

PSSI pada era Djohar Arifin tersebut lantas bertindak tegas. Semua nama di atas, kecuali Aji Saka, dihukum larangan beraktivitas di sepak bola dan harus membayar denda Rp 100 juta--meski pada akhirnya PSSI kembali menyatu lewat Kongres Luar Biasa pada 17 Maret 2013 dan nama-nama terhukum memperkuat Timnas Indonesia untuk menghadapi Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia 2014.

Dasar hukum yang digunakan untuk menghukum mereka saat itu adalah pasal 78 ayat 1 Kode Disiplin PSSI yang berpedoman kepada AFC, FIFA dan statuta.

Namun kini, aturannya telah direvisi pada Kode Disiplin PSSI 2018 menjadi ada di Pasal 73 tentang Pengabaian terhadap Kewajiban kepada Tim Nasional, yang berisi:

1) Pemain yang terdaftar di PSSI, apabila diminta sesuai dengan ketentuan yang berlaku, memiliki kewajiban untuk ikut serta dan melakukan upaya terbaiknya dalam pertandingan atau kompetisi yang diikuti oleh tim perwakilan (representative team) PSSI (Tim Nasional).

2) Pemain yang tidak mengindahkan kewajibannya kepada tim nasional (seperti menolak untuk memenuhi panggilan mengikuti seleksi pembentukan tim nasional, tidak bersedia mengikuti pemusatan latihan tim nasional, meninggalkan pemusatan latihan tim nasional tanpa alasan yang cukup memadai dan dapat diterima atau tidak sesuai dengan regulasi FIFA dan regulasi PSSI yang berlaku, dan/atau melakukan pelanggaran yang telah ditetapkan oleh manajemen tim nasional) merupakan tingkah laku buruk dan karenanya diberikan sanksi berupa: sanksi larangan ikut serta dalam aktivitas yang terkait dengan sepak bola sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan dan sanksi denda sekurang-kurangnya Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).

Infografik Debut Elkan Baggott di Timnas Indonesia Senior Tertunda Foto: kumparan

Pertanyaannya, andai PSSI mau menghukum Elkan Baggott, apakah ia bisa dijerat dengan pasal dan ayat di atas? Apakah mungkin mengintervensi Ipswich Town atau FA Inggris untuk melarang Elkan turun laga?

Jika demikian kasusnya, mari merujuk kepada aturan FIFA yang tertuang dalam "Regulations on the Status and Transfer of Players" edisi Februari 2021 pada Artikel Annexe 1 Bagian 3 soal "Calling Up Players", yang berbunyi:

1) Sebagai aturan umum, setiap pemain yang terdaftar di klub berkewajiban untuk menanggapi dengan tegas ketika dipanggil oleh asosiasi yang berhak dia wakili berdasarkan kewarganegaraannya untuk bermain sebagai salah satu tim perwakilannya.

2) Asosiasi yang ingin memanggil pemain harus memberi tahu pemain tersebut secara tertulis setidaknya 15 hari sebelum hari pertama jendela internasional di mana aktivitas tim perwakilan yang membutuhkannya akan berlangsung. Asosiasi yang ingin memanggil pemain untuk kompetisi final turnamen internasional harus memberi tahu pemain secara tertulis setidaknya 15 hari sebelum dimulainya periode rilis yang relevan. Klub pemain juga akan diinformasikan secara tertulis pada saat yang sama. Demikian pula, asosiasi disarankan untuk menyalin asosiasi klub terkait panggilan. Klub harus mengonfirmasi pembebasan pemain dalam 6 hari berikutnya.

3) Asosiasi yang meminta bantuan FIFA untuk membebaskan pemain yang bermain di luar negeri hanya dapat melakukannya dalam dua kondisi berikut:

a) Asosiasi tempat pemain terdaftar telah diminta untuk campur tangan tanpa sukses.

b) Kasus ini diajukan ke FIFA setidaknya lima hari sebelum hari pertandingan yang pemainnya dibutuhkan.

Logo FIFA di markas besarnya di Zurich, Swiss. Foto: Reuters/Arnd Wiegmann

Melihat poin 3, PSSI bisa meminta bantuan FIFA untuk memanggil Elkan Baggott. Akan tetapi, poin 1 menunjukkan bahwa posisi PSSI sejatinya juga cukup lemah.

Ya, jangan lupa bahwa Elkan bukanlah orang Indonesia tulen. Bek 18 tahun itu adalah pria blasteran Inggris yang lahir di Bangkok, Thailand.

Artinya, Elkan yang sejauh ini belum mentas di sepak bola internasional level senior atau pertandingan level "A" berhak menentukan akan membela timnas senior mana nantinya: Indonesia, Inggris, atau Thailand.

Sejauh ini, Elkan baru berkesempatan membela Timnas U-19 Indonesia pada 2020 di ajang uji coba. Kala itu, ia mengungkapkan rasa bangganya membela 'Garuda Muda'.

instagram embed

"Sangat terhormat untuk membuat debut Internasional saya untuk Indonesia," tulis Elkan di Instagram saat menjalani tur di Kroasia bersama Timnas U-19 pada 15 Oktober 2020.

Dengan penolakan Elkan terhadap panggilan PSSI, kemudian menimbulkan spekulasi tentang pilihan sang pemain.

Apakah kini Elkan berpikir ulang untuk memperkuat Timnas Indonesia? Menarik dinantikan.

***

embed from external kumparan