Kumparan Logo

Emmanuel Adebayor: Dicaci, Disingkirkan, Dilupakan

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Adebayor kala berseragam Arsenal. (Foto: AFP/Diego Tuson)
zoom-in-whitePerbesar
Adebayor kala berseragam Arsenal. (Foto: AFP/Diego Tuson)

"Adebayor, Adebayor, his dad washes elephants and his mum is a wh**e."

Entah kapan dan dari siapa chant ini berasal. Yang jelas, keberadaan chant ini menunjukkan satu hal, yakni bahwa Sheyi Emmanuel Adebayor bukanlah sosok yang dicintai.

Usia Adebayor kini telah menginjak angka 33 dan meski masih mampu berbuat banyak bagi Istanbul Basyaksyehir, akhir kariernya sudah ada di depan mata. Selain karena usianya yang tak muda lagi, rentang karier Adebayor pun sudah panjang sekali.

Lahir dan besar di ibu kota Togo, Lome, Adebayor memulai karier sepak bola profesionalnya bersama Metz di Liga Prancis. Debutnya pun dia jalani kala masih remaja. Bersama Metz, Adebayor bermain sebanyak 44 kali dan mencetak 15 gol. Dengan catatan demikian, ketika berusia 19 tahun Adebayor pun mampu memikat raksasa Prancis, Monaco.

Di Monaco inilah Adebayor benar-benar terbentuk. Walau masih berada di bawah bayang-bayang dua penyerang senior, Fernando Morientes dan Shabani Nonda, Adebayor perlahan mampu merangsek ke skuat utama Les Monegasques. Bahkan, saat Monaco menjejak final Liga Champions 2004, Adebayor diikutsertakan sebagai cadangan. Saat itu dia baru berumur 20 tahun.

Seiring dengan kepergian Morientes dan Nonda, perjalanan Adebayor menuju tim inti Monaco pun makin lancar. Walau kemudian juga harus bersaing dengan Javier Ernesto Chevanton dan Mohamed Kallon, Adebayor tetap tak terhentikan. Dia menjelma menjadi salah satu pemain muda paling potensial di Eropa dan kepindahan menuju tim yang lebih besar pun tak terelakkan lagi.

Arsenal, pada pertengahan musim 2005/06, menjadi tim yang beruntung mendapatkan tanda tangan Adebayor. Tak banyak uang yang dikeluarkan Arsenal ketika itu, hanya 3 juta poundsterling.

Kala itu reputasi Arsene Wenger sebagai pendidik pemain muda sama sekali belum memudar. Kemunculan Francesc Fabregas Soler di tim utama Arsenal pun makin membuat reputasi tersebut makin sahih. Dengan potensi yang dia miliki, Adebayor digadang-gadang bakal menjadi pemain andalan Arsenal di masa depan.

Kedatangan Adebayor ketika itu disambut hangat oleh para suporter Arsenal. Oleh mereka, pemain bertinggi 191 cm ini dianggap sebagai penerus Nwankwo Kanu, penyerang Nigeria yang pernah jadi idola di sana. Kebetulan, Adebayor juga mengidolakan Kanu, sehingga harapan itu semakin membumbung saja.

Pada perjalanannya, karier Adebayor di Arsenal berjalan dengan penuh warna. Di satu sisi, dia mampu terus membuktikan kemampuan dan potensinya sebagai calon pemain besar. Di sisi lain, masalah demi masalah terus merundungnya.

Total, selama berkostum Arsenal, Adebayor bermain sebanyak 142 kali, mencetak 62 gol, dan mengemas 22 assist. Dari sana, ada beberapa catatan menarik yang berhasil dia bukukan.

Adebayor di musim perdana bersama Arsenal. (Foto: AFP/Odd Andersen)
zoom-in-whitePerbesar
Adebayor di musim perdana bersama Arsenal. (Foto: AFP/Odd Andersen)

Pada musim 2007/08, misalnya, dia sukses menjadi pemain Premier League pertama yang mencetak hat-trick ke gawang tim yang sama dalam pertandingan kandang dan tandang. Korbannya kala itu adalah Derby County. Performa apiknya itu kemudian membuatnya diganjar penghargaan Pemain Terbaik Afrika versi BBC.

Kehebatan Adebayor itu masih tampak pada musim berikutnya. Berulang kali dia mencetak gol penting untuk Arsenal seperti pada laga perempat final Liga Champions menghadapi Villarreal. Dia pun mengakhiri musim 2008/09 dengan status topskorer kedua klub di bawah Robin van Persie.

Sayangnya, segala kehebatan itu seakan tertutupi dengan aksi-aksi tak senonohnya. Dalam sebuah pertandingan Piala FA melawan Chelsea, dia pernah dituduh meninju Frank Lampard. Dalam kesempatan lain, dia juga pernah bertikai dengan Nicklas Bendtner di tengah-tengah pertandingan. Akan tetapi, itu semua belum seberapa dengan apa yang dia lakukan ketika sudah bersalin kostum menjadi biru langit milik Manchester City.

Adebayor memang merupakan salah satu pemain bintang pertama yang diboyong rezim Abu Dhabi ke City. Bersama pemain-pemain macam Robinho, Carlos Tevez, dan Nigel De Jong, Adebayor menjadi peletak dasar kehebatan City yang begitu terasa pada dekade 2010-an.

Kepindahan Adebayor dari Arsenal ke City inilah yang di kemudian hari menimbulkan masalah baru. Bersama Kolo Habib Toure, pemain satu ini menjadi lokomotif dari rombongan pengkhianat yang memilih meninggalkan Arsenal demi uang yang lebih banyak di Manchester City. Setelah Adebayor dan Toure, nantinya Samir Nasri, Bacary Sagna, dan Gael Clichy menyusul.

Sebenarnya, pindahnya Adebayor ke City tidak terlalu dianggap sebagai sebuah masalah karena saat itu City belum sebesar sekarang. Lain ceritanya kalau Adebayor pindah ke Manchester United yang masih dianggap sebagai seteru berat. Akan tetapi, Adebayor kemudian melakukan tindakan tak termaafkan.

Selebrasi kontroversial Adebayor. (Foto: AFP/Andrew Yates)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi kontroversial Adebayor. (Foto: AFP/Andrew Yates)

Pada pertandingan pertama melawan Arsenal yang dihelat di City of Manchester Stadium (sekarang Etihad Stadium), Adebayor menjadi pahlawan kemenangan City lewat sebiji gol yang dia cetak. Laga itu sendiri dimenangi City dengan skor 4-2.

Cerita, tentu saja, tidak berhenti di situ. Pasalnya, sepanjang pertandingan Adebayor dituduh melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap mantan rekan-rekannya. Van Persie dan Fabregas menuduh Adebayor berusaha menginjaknya, sementara Alexander Song-Billong yang notabene merupakan sahabat Adebayor menuduh pemain satu ini telah menamparnya.

Lalu, setelah mencetak gol Adebayor pun melakukan selebrasi yang dianggap merupakan bentuk pengkhianatan hakiki. Dalam selebrasinya itu, Adebayor sengaja berlari dari gawang Arsenal ke tempat para suporter 'Meriam London' berada. Dari situlah kemarahan para suporter Arsenal tak tertahankan lagi. Kala berselebrasi, Adebayor dilempari dengan berbagai misil yang tersedia, mulai dari koin sampai kursi. Atas perbuatannya ini, kartu kuning pun dilayangkan wasit kepadanya.

Kebersamaan Adebayor dengan City akhirnya tidak bertahan lama. Pada Januari 2011 dia dipinjamkan ke Real Madrid sebelum kemudian dipinjamkan ke Tottenham Hotspur pada musim panas di tahun yang sama. Kedatangan Edin Dzeko ke City membuat Adebayor (dan Craig Bellamy) tak lagi dibutuhkan oleh pelatih City kala itu, Roberto Mancini.

Menariknya, bersama Tottenham Adebayor kembali bersinar. Memang, dia harus bersaing dengan beberapa penyerang lain macam Peter Crouch dan Roman Pavlyuchenko. Akan tetapi, di antara para penyerang yang dimiliki Harry Redknapp kala itu, Adebayor-lah yang mampu tampil paling konsisten. Pada musim 2011/12 itu, Adebayor berhasil menjadi topskorer klub dan pada musim berikutnya dia dipermanenkan.

Adebayor (kanan) di Derbi London Utara. (Foto: AFP/Ian Kington)
zoom-in-whitePerbesar
Adebayor (kanan) di Derbi London Utara. (Foto: AFP/Ian Kington)

Walau demikian, performa apik Adebayor itu sempat tersendat pada musim 2013/14. Kebetulan, Spurs ketika itu juga sedang tampil buruk di bawah asuhan Andre Villas-Boas. Adebayor pun bahkan sampai diminta untuk berlatih dengan tim junior. Walau begitu, Adebayor kemudian mampu bangkit dan kembali muncul sebagai topskorer klub. Sayangnya, kedatangan Mauricio Pochettino membuat kariernya di White Hart Lane habis pada awal musim 2015/16.

Total, dalam 17 tahun karier profesionalnya, Adebayor menghabiskan enam tahun sebagai penggawa dua raksasa London Utara. Di Arsenal, sudah jelas bahwa Adebayor adalah sosok yang dibenci, sementara di Tottenham pun dia tak pernah betul-betul dicintai. Akan tetapi, satu hal yang sering luput dari pembicaraan soal Adebayor adalah betapa produktifnya dia di Derbi London Utara.

Di Arsenal, Adebayor berdiri sejajar dengan dua legenda klub, Alan Sunderland dan Robert Pires, sebagai pencetak gol terbanyak Derbi London Utara. Total, ada 8 gol yang disarangkan Adebayor selama berkostum merah-putih. Dengan tambahan 2 gol selama bermain untuk 'Bunga Lili Putih', Adebayor pun saat ini berstatus sebagai topskorer sepanjang masa Derbi London Utara dengan koleksi 10 gol.

10 gol yang dicetak Adebayor di Derbi London Utara ini tidak semuanya dia lesakkan di Premier League. Khusus di Premier League, ada 8 gol yang dia buat. Namun, ini pun sudah cukup untuk membuatnya duduk di puncak daftar pencetak gol terbanyak. Dengan 8 golnya, Adebayor mampu mengungguli Pires, Thierry Henry, sampai Ian Wright.

Akan tetapi, status Adebayor itu kemungkinan besar takkan bertahan sampai selamanya. Pasalnya, saat ini ada sosok baru yang dianggap bakal mampu memecahkan rekor tersebut dengan mudah. Namanya Harry Kane dan sejauh ini dia sudah mencetak 6 gol. Menilik produktivitas dan keberhasilan Kane memecahkan rekor gol dalam satu tahun kalender milik Alan Shearer, memecahkan rekor Adebayor rasanya bukan masalah besar.

Namun, tetap saja, untuk saat ini Kane belum sampai pada titik tersebut. Untuk saat ini, dia yang berada di singgasana adalah Adebayor dan untuk sementara, suka tidak suka, kita semua harus mau menerimanya.