Kumparan Logo

Emmanuel Petit Desak Reformasi Total FIFA dan Lengserkan Gianni Infantino

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden FIFA Gianni Infantino. Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden FIFA Gianni Infantino. Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Legenda sepak bola Prancis, Emmanuel Petit, melayangkan kritik tajam terhadap tata kelola Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Mantan gelandang Arsenal dan Chelsea tersebut secara terbuka mendesak adanya perombakan total pada struktur kekuasaan tertinggi sepak bola dunia yang dinilai telah kehilangan arah.

Selain Emmanuel Petit, nama-nama besar seperti Mikael Silvestre, Olivier Dacourt, hingga pesepak bola wanita Lucy Bronze turut membubuhkan tanda tangan mereka dalam petisi tuntutan tersebut. Gerakan ini secara khusus menyoroti konsentrasi kekuasaan di tingkat elit yang dianggap merusak sportivitas beautiful game.

Dalam wawancara di acara radio Prancis Rothen s'enflamme yang disiarkan oleh RMC, Petit mengungkapkan bahwa inisiatif ini pertama kali datang dari mantan rekan setimnya yang bergerak cepat setelah melihat serangkaian kontroversi di Amerika Serikat, termasuk interaksi kontroversial antara Infantino dan Donald Trump.

“Mikael Silvestre menghubungi saya beberapa hari lalu melalui pesan singkat untuk menanyakan apakah saya setuju memasukkan nama saya ke dalam daftar mantan pemain,” ujar pahlawan Prancis di Piala Dunia 1998 tersebut.

Petit menambahkan bahwa momen-momen yang terjadi selama turnamen di Amerika Serikat menjadi pemicu utama mengapa para mantan pemain ini akhirnya memilih bersuara secara kolektif ke publik.

Legenda sepak bola Prancis, Emmanuel Petit. Foto: CHRISTOPHE SIMON / AFP

Meskipun ikut serta dalam aksi protes ini, Petit tidak menampik adanya rasa skeptis yang besar di dalam dirinya mengenai dampak instan dari surat terbuka tersebut. Ia menyadari betul betapa kokohnya struktur kekuasaan yang telah mengakar di markas besar organisasi di Zurich, Swiss, sehingga sulit ditembus hanya dengan selembar kertas tuntutan.

Namun, langkah ini dianggap sangat krusial sebagai alarm pengingat bagi pencinta sepak bola di seluruh dunia agar menyadari adanya ketimpangan dalam organisasi tersebut.

“Itu adalah upaya yang sia-sia jika mengharap perubahan instan. Itu hanya untuk membangunkan kesadaran,” aku Petit dalam siaran tersebut.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kritik ini bukan ditujukan kepada seluruh staf atau karyawan biasa yang bekerja di bawah naungan federasi, melainkan murni diarahkan kepada para pembuat kebijakan di level teratas.

Tuntutan Reformasi FIFA

Bagi Petit, solusi dari krisis tata kelola ini tidak cukup hanya dengan melengserkan presiden saat ini dan menggantinya dengan sosok baru. Ia memperingatkan bahwa tanpa adanya reformasi sistemik pada regulasi internal, suksesi kepemimpinan tidak menyelesaikan akar permasalahan sesungguhnya.

Ia mendesak agar proses demokratisasi di tubuh federasi segera diimplementasikan secara nyata menjelang kongres pemilihan berikutnya.

“Kita harus mengusulkan hal-hal yang konkret. Pemilihan umum akan segera tiba. Jika Anda mendepak Infantino atau menempatkan orang lain, cara kerjanya tidak akan pernah berubah,” tegas Petit.