kumparan
27 September 2018 13:47

Enigma Sevilla: Begitu Ofensif dalam Pakem Defensif

Sevilla
Sevilla asuhan Machin: solid dan efektif. (Foto: Reuters/Marcelo Del Pozo)
Kelelahan, kata Julen Lopetegui, bukanlah alasan mengapa Real Madrid bisa kalah 0-3 di kandang Sevilla pada pertandingan La Liga pekan keenam, Kamis (27/9/2018) dini hari WIB. Pelatih yang melejit bersama Tim Nasional Spanyol U-21 itu menganggap, Real Madrid kalah karena mereka memang bermain buruk.
ADVERTISEMENT
Lopetegui benar. Akan tetapi, tidak sepenuhnya. Selain karena bermain buruk, Real Madrid juga kalah karena mereka harus menghadapi Sevilla yang saat ini sudah mulai nyetel di bawah arahan Pablo Machin Diez. Sevilla yang dihadapi Real Madrid di Estadio Ramon Sanchez Pizjuan itu bukan lagi Sevilla yang kalah 0-1 dari Real Betis dan 0-2 dari Getafe di pekan ketiga dan keempat, melainkan Sevilla yang baru saja menghajar Levante 6-2 di pekan kelima.
Ada perbedaan mendasar di antara kedua Sevilla tersebut. Dalam dua pertandingan terakhir, termasuk melawan Real Madrid, Machin telah menemukan formula yang tepat untuk timnya. Hal ini bisa dilihat dari konsistennya formasi dasar serta susunan pemain yang dia mainkan. Namun, sebelum kita menganalisis lebih lanjut permainan Sevilla, ada baiknya kita kenali dulu sosok Machin sang juru latih ini.
ADVERTISEMENT
Machin sebenarnya merupakan nama baru di jajaran elite persepakbolaan Spanyol. Dirinya mulai mencuat pada musim lalu ketika membawa Girona finis di urutan kesepuluh La Liga. Padahal, Girona saat itu adalah tim debutan di Primera Division yang menjadi salah satu favorit untuk kembali terdegradasi ke Segunda.
Materi pemain Girona ketika itu benar-benar pas-pasan. Mereka memang merupakan salah satu klub yang berada di bawah naungan City Football Group, tetapi Girona bukanlah jenama yang menggiurkan untuk disuntik investasi besar-besaran.
Musim lalu, klub asal Catalunya itu hanya mengeluarkan dana 4,5 juta euro di bursa transfer. Sementara, pemain-pemain lain didatangkan secara bebas transfer maupun sebagai pemain pinjaman.
Dengan segala keterbatasan itu, Machin mampu mencuri perhatian. Dia mampu membuat Girona jadi tim yang sulit sekali dikalahkan. Sejak pertama kali menangani Girona pada 2014, Machin selalu setia dengan formasi dasar 3-4-2-1. Dari sini, tim yang diasuhnya jadi begitu fleksibel dalam menciptakan superioritas jumlah, baik ketika bertahan maupun menyerang.
ADVERTISEMENT
Ide besar Machin adalah, saat bertahan, timnya berubah formasi menjadi 5-2-2-1 dan dengan begitu, empat lapis pertahanan pun tercipta. Dari situ, Girona akan menutup jalur tengah sehingga lawan jadi tak memiliki opsi lain kecuali menyerang lewat pinggir. Apabila lawan tak cukup kreatif, mereka akan sangat mengandalkan umpan silang dan itu bakal bisa diatasi dengan mudah oleh para pemain belakang.
Ketika menyerang, lagi-lagi yang jadi ide utama adalah penciptaan superioritas jumlah. Dengan memancing lawan untuk menyerang lewat sayap, itu artinya sisi sayap di pertahanan lawan pun bakal mudah dieksploitasi lewat serangan balik. Inilah mengapa, ketika timnya menyerang, Machin menginstruksikan para wing-back untuk maju sampai ke depan menyerupai penyerang sayap.
Heatmap Wing-Back Sevilla
Heatmap wing-back Sevilla, Jesus Navas dan Guilherme Arana, pada pertandingan menghadapi Real Madrid. (Foto: WhoScored)
ADVERTISEMENT
Saat menyerang, formasi Girona berubah menjadi 3-2-5 dan ini bakal sangat menyulitkan bagi tim yang sudah telanjur kehilangan pemain di area belakang. Dari sini, opsi para pemain depan tim besutan Machin untuk mengalirkan bola pun menjadi begitu banyak. Hasilnya, serangan balik pun bisa dilancarkan dengan begitu efektif.
Pendekatan taktikal Machin yang jitu itu akhirnya membuat Sevilla kepincut. Maka, pada bursa transfer musim panas 2018 lalu, pria 43 tahun tersebut menyeberang dari Catalunya ke Andalusia.
Bersama Sevilla, sebenarnya konsep utamanya tidak jauh berbeda. Akan tetapi, keunggulan materi yang dipunyaia Los Nervionenses membuat opsi untuk Machin pun menjadi bertambah. Di Sevilla, Machin tak lagi hanya mengandalkan serangan balik, tetapi juga bisa menginstruksikan para pemainnya untuk lebih proaktif.
ADVERTISEMENT
Pada empat pertandingan pertama bersama Sevilla, Machin masih menggunakan pakem dasar 3-4-2-1 yang digunakannya di Girona tadi. Akan tetapi, hasilnya kurang optimal karena dari empat laga, Sevilla hanya menang satu kali. Sementara, tiga laga lainnya berakhir dengan satu hasil imbang dan dua kekalahan, termasuk kekalahan di laga derbi kontra Real Betis.
Pada empat pertandingan itu, Machin masih menggunakan poros ganda sebagai motor lini tengah dalam diri Ever Banega dan Roque Mesa. Sementara, dua gelandang serang, Franco Vazquez dan Pablo Sarabia, menyokong striker tunggal yang biasanya dilakoni oleh Andre Silva.
Sevilla
Para pemain Sevilla merayakan gol. (Foto: REUTERS/Marcelo Del Pozo)
Namun, mulai pekan kelima, saat Sevilla bertamu ke Estadio Ciutat de Valencia, Machin mengubah formasi dasarnya menjadi 3-5-2. Pada formasi tersebut, Roque Mesa dikorbankan dan sebagai gantinya, dia memasang Wissam Ben Yedder untuk mendampingi Andre Silva.
ADVERTISEMENT
Perbedaan utama dari dua formasi tersebut adalah kecepatan dalam melakukan transisi. Dengan menggunakan dua penyerang, Sevilla secara otomatis sudah memiliki dua pemain yang nangkring di lini depan. Dengan demikian, formasi Sevilla ketika menyerang pun tidak lagi 3-2-5, melainkan 3-1-6, dan ini mampu menciptakan superioritas jumlah yang lebih efektif di area pertahanan lawan.
Dengan pakem 3-5-2 itu, Machin mengutilisasi pemain-pemain dengan olah bola bagus sebagai motor transisi. Vazquez, Sarabia, Jesus Navas, dan Guilherme Arana adalah pemain-pemain yang mampu mengantarkan bola sampai ke lini depan. Didukung dengan kemampuan distribusi bola Ever Banega, jadilah Sevilla sebagai sebuah unit serangan balik yang begitu mematikan.
Namun, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, di Sevilla ini Machin tak cuma menerapkan taktik serangan balik. Taktik ini hanya diterapkan ketika menghadapi tim yang materi pemainnya lebih baik atau tim yang memang sudah lebih fasih dalam menerapkan possession football, seperti Real Madrid dan Real Betis.
ADVERTISEMENT
Ketika menghadapi Getafe di pekan keempat, Sevilla sebenarnya mampu mencatatkan penguasaan bola sampai 70%. Ya, mereka memang kalah pada pertandingan tersebut karena buruknya kualitas penyelesaian akhir. Akan tetapi, itu menunjukkan bahwa apabila Sevilla mau, mereka mampu-mampu saja memainkan possession football. Alih-alih sebuah ideologi, possession football Sevilla di laga itu justru merupakan bukti pragmatisme Machin.
Pablo Machin
Pelatih Sevilla, Pablo Machin. (Foto: AFP/Cristina Quicler)
WhoScored mencatat bahwa Sevilla sampai saat ini punya rata-rata penguasaan bola 49,3% -- urutan kesepuluh di La Liga -- dan laga-laga berat seperti saat melawan Madrid dan Betis itulah yang membuat persentase rata-rata mereka menurun. Kendati demikian, dari rata-rata penguasaan bola yang tidak terlalu tinggi itu, Sevilla mampu mencatatkan 15,8 tembakan per laga -- tertinggi ketiga di La Liga -- dan membukukan 13 gol, tertinggi kedua setelah Barcelona.
ADVERTISEMENT
Artinya, efektivitas adalah nama tengah Sevilla. Mereka selalu mampu memanfaatkan kesempatan menguasai bola dengan menebar ancaman ke gawang lawan. Inilah mengapa, pada akhirnya pakem 3-5-2 menjadi lebih cocok untuk mereka. Yakni, karena opsi penyelesai akhir pun menjadi lebih banyak dan probabilitas mencetak gol secara otomatis meningkat pula.
Khusus pada saat menghadapi Real Madrid, Machin menggunakan kembali pendekatan ala Girona-nya. Sevilla dimintanya bertahan dengan blok rendah, untuk kemudian mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan para pemain Real Madrid dengan serangan balik cepat via dribel-dribel para pemainnya.
Dua gol dari Andre Silva tercipta dengan metode seperti ini, di mana sisi milik Marcelo yang jadi target utama penyerangan. Sementara, gol ketiga dari Ben Yedder memang tidak diawali dengan blitzkrieg seperti gol pertama dan kedua. Namun, pada gol ini superioritas jumlah pemain Sevilla di area pertahanan Real Madrid menjadi keuntungan tersendiri.
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, sekali lagi Lopetegui benar ketika berkata bahwa Real Madrid tidak kalah dari Sevilla karena pemainnya kelelahan. Yang benar adalah, El Real harus menanggung malu di markas Sevilla karena Lopetegui kalah dalam pertarungan taktikal melawan Machin.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan